BAB 11

8.6K 630 78
                                        

"Sumpah ini hari sial gue! Udah terlambat, bersihin lapangan udah kaya Stadion Bungkarno. Belum tadi ada problem sama kelas 11, ditambah gue bocor tadi." sedari tadi Kamilla menggerutu kesal.

Pertama kali seumur hidupnya dia tidak pernah terlambat sekolah dan kesialannya bertambah saat dia tidak menyadari kalau dirinya sedang datang bulan. Dasar! Tamu tak diundang. Gerutu Kamilla dalam hati, apa lagi dia di alpakan pelajaran pertama. Kini ganti jam kedua dengan olahraga selama tiga jam di bawah terik sinar matahari yang menyengat membakar kulit.

Prit... prit....

Suara peluit Pak Galih mengalihkan fokus semuanya, dan mulai berkumpul berbaris di lapangan. Pak Galih salah satu guru terbilang baru dia mengajar di sekolah ini selama lima bulan yang lalu, dia juga guru olahraga paling muda usianya sekarang 22 tahun. Jadi jangan heran kalau semua murid terutama murid perempuan, begitu semangat untuk menjalani kegiatan olahraga yang membuat mata mereka berbinar hitung-hitung cuci mata.

"Oke, semuanya berbaris rapih dan tertib." mereka memulai pelajaran olahraga. Saat pelajaran dimulai Adrian berjalan santai dan masih memakai seragam putih abu, lalu ikut barisan paling belakang namun sayang, hal itu tertangkap oleh Pak Galih. Semua barisan menatap Adrian.

"Heh kamu kemari!" perintah Pak agus memanggil Adrian dengan melambaikan tangannya. Adrian lalu menglangkah malas dengan tampang dingin.

"Kamu tahu sekarang pelajaran apa?"

"Yang jelas bukan bahasa Arab," jawabnya santai memancing emosi Pak Galih dia menatap Adrian tajam. Harusnya orang yang ada di posisi Adrian akan kalut dan takut melihat tatapan Pak Galih, beda dengan Adrian dia justru menantang tatapan Pak Galih.

"Kenapa kamu tidak memakai baju olahraga?"

"Sekarang kamu tidak boleh mengikuti pelajaran saya, silahkan pergi!" Pak Galih menyuruh Adrian pergi. Cowok ini pergi dari rombongan lalu duduk di pinggir lapang melihat orang yang sedang berolah raga. Tatapannya hanya tertuju pada Kamilla saat ini. Sementara di lapangan Kamilla menyengka peluh di wajahnya sungguh matahari kini begitu terik.

"Anak-anak bapak udah bahas materi ini kemarin, sekarang kita akan bermain basket. Apa kalian udah berlatih di rumah?" tanya Pak Galih.

"Udah," ucap semuanya kompak. Tapi tidak ada yang tahu jika semua murid benar-benar belajar, ucapan itu perlu diragukan.

"Kalau gitu bapak absen acak," ucap Pak Palih lalu membuka absensi, semua murid kini menatap Pak Galih serius sekaligus tegang.

"Grup pertama. Anggi, Elsa, Hani, Dian, dan Fitri,"

"Bangke! Gue nggak bisa main basket," lirih Anggi menepuk jidat.

"Grup kedua yaitu Kamilla, Ira, Ghina, Sinta, Devi dan Tia. Kalian ke tengah lapangan, sedangkan yang lain kalian bisa duduk di pinggir lapang."

Semua murid langsung berdiri di pinggir lapang ada juga yang di koridor sekolah untuk meneduh dari cahaya matahari. Sedangkan yang bermain basket di tengah lapang begitu bercucuran keringat.

Grup kedua yaitu grupnya Kamilla mendapat skors tiga oleh dirinya sendiri semua temannya tidak heran dengan Kamilla takjub. Berbeda dengan Adrian dia tampak terpaku, menatap permainan Kamilla yang membuat dia terpesona dan begitu kagum pada sosok Kamilla.

Di tengah lapang Kamilla berusaha melempar bola ke dalam ring basket, tapi lemparan tersebut melenceng dan mengenai seorang siswi yang berada di koridor. Bola tersebut mengenai kepalanya dan terjatuh pingsan. Kamilla menutup mulutnya saat dia tidak sengaja mencelakai seseorang, dan orang itu adalah Agnesa. Sedangkan Adrian menatap Kamilla khawatir lalu melihat orang yang terkena bola basket Kamilla.

With You AdrianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang