BAB 8

11.3K 747 163
                                        

"Hey diem semuanya. Ini ada pengumuman penting!" ucap Rendi namun hanya sebagian yang diam yang lain masih asik dengan kegiatannya. Emosi Rendi tersulut kesabarannya selalu diuji jika berhadapan dengan keadaan seperti ini. Terbayang dalam benaknya bagaimana jika bulan Ramadhan datang, pasti dia akan batal sebulan penuh.

BRAK!

Semua orang menatap kaget pada Rendi yang menatap mereka datar, bahkan Gilang yang duduk di pojok sana menatap Rendi jengah.

"Bisa nggak sih lo kalau ngomong kaga pake gebrak meja segala, hobi baru yah bro?" sindir Gilang tajam. Rendi tetap diam tatapannya beralih pada lelaki di pojok sana, di belakang Gilang lebih tepatnya. Seseorang sedang asik dengan kegiatannya memainkan gadget.

"Lo tahu gue paling benci kalo gue ngomong, terus nggak ada yang ngerhargain gue, lo niat sekolah nggak sih?" tanya Rendi tanpa melepas pandangan dari Adrian.

"Murid baru songong," sindir Rendi tersenyum sinis. Suasana menjadi tidak bersahabat. Kamilla menatap Adrian khawatir pada dirinya, meskipun dia kini merasa sebal tapi itu tidak menutupi rasa khawatirnya.

"Mau dihargain berapa lo sama gue, ceban apa gocap?" setelah lama hening kini Adrian membuka suara tanpa menatap Rendi, sungguh ucapan Adrian terlalu santai. Semua orang di kelas menatap Adrian terkejut apa lagi yang belum tahu siapa Adrian sebenarnya pasti kaget bukan main. Keberanian Adrian itu memang luar biasa, itu diakui oleh Kamilla dan pasti mereka juga.

"Anak baru aja lo songong, mau lo apa jadi jagoan di kelas atau sekolah," ucap Rendi menghampiri Adrian dan berdiri tepat di depan mejanya, semua orang penasaran apa yang terjadi selanjutnya. Adrian hanya diam masih asik memainkan ponselnya seolah di sini tidak terjadi apa-apa.

"Sekarang gue tanya sama lo, emang ada peraturan sekolah. Anak baru nggak boleh songong?" tanya Adrian menatap Rendi lalu kembali menatap ponsel. Rendi yang geram langsung menendang meja lalu merebut Hp miliknya dan ia lempar ke bawah. Adrian hanya diam lalu ikut berdiri menatap Rendi dingin.

"Mau lo apa anjing?" aura kejam Adrian sangat dirasakan oleh semua orang. Adrian berkata datar namun penuh penekanan menatap Rendi yang masih setia menatapnya. Semua orang tergejolak kaget tidak percaya dengan apa yang Rendi lakukan pada Adrian.

"Lo tahukan cara menghargai seseorang? Harusnya lo mikir! Kelakuan lo, dan keberadaan lo di sini ganggu gue!" sentak Rendi keras pada Adrian.

"Lo aja yang terlalu over. Bacotan lo kaya cewek berisik. Kalau nggak mau gangu, pindah sekolah repot banget hidup lo," ucap Adrian melangkah pergi tanpa peduli ponsel diambil orang. Tatapannya beralih pada Kamilla yang menunduk lalu dia berjalan pergi meninggalkan kelas.

BRAKK

Pintu kelas dibanting keras sampai jendela di sampingnya bergetar saking kerasnya. Rendi hanya diam lalu duduk di bangkunya santai tanpa memberitahukan apa yang dia sampaikan sebelumnya di depan kelas. Kamilla juga diam dia melihat ponsel Adrian yang masih menyala. Dia ingin mengambilnya namun dia juga takut semua orang menatapnya heran.

"Bawa aja Hp Adrian, jangan takut sama tatapan mereka," ucap Ghina. Kamilla hanya diam lalu menyingkirkan rasa takutnya, dia berdiri dan berjalan ke tempat duduk di belakang, melewati Rendi sampai di pojok dia melihat Hp Adrian masih menyala. Semua orang menatap Kamilla sama dengan Rendi menoleh apa yang dilakukan gadis itu.

Kamilla mengambil Hp Adrian, saat dilihat ada gambar seorang cewek cantik sedang membawa buku tebal dipelukannya dengan peluh mengucur deras di pelipisnya. Dia ketua OSIS Agnesa, mengapa ada gambar cewek itu digaleri Adrian. Sekarang itu menjadi pikiran Kamilla. Dia langsung membawa ponsel itu dan pergi ke luar meninggalkan tatapan heran pada dirinya, sedangkan Ghina hanya tersenyum.

With You AdrianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang