Tidak bermaksud untuk menjauh atau menghindar. Hanya saja, rasa itu yang membuatnya takut bersikap salah pada orang yang mencintaiku.
***
Helaan napas terdengar begitu kasar dari Adrian. Tangannya bertempu pada tiang pembatas jembatan. Pagi ini Adrian awali hanya untuk menghabiskan waktu sendiri. Seragam sekolah masih melekat pada tubuh tegapnya. Mood-nya sedang tidak bagus, seperti ada yang hilang dari dirinya. Pikirannya terlalu berat dengan sebuah beban yang membuatnya serasa melayang.
Kamilla, gadis itu yang setiap saat ada dalam pikiran Adrian. Perlahan nama itu mengusik Adrian. Perlahan nama itu juga, hampir menyelusup masuk walau Adrian coba tahan dan menepisnya. Gadis yang menurutnya polos berani mengungkapkan rasa cinta pada Adrian. Ini memang bukan pertama kali kasus yang Adrian alami, tapi yang membuatnya merasa istimewa adalah, dimana yang menyatakan perasaan itu Kamilla. Adrian menganggap Kamilla hanya sekedar sahabat tidak lebih, tapi perasaan Adrian seperti meminta lebih.
Kejadian kemarin, kemarinnya lagi dan seterusnya. Memang sebuah kebetulan yang membawa Adrian bertemu pada Kamilla tetapi pertemuan kemarin bukan akhir dari segalanya. Pertemuan itu adalah awal kisah mereka. Tanpa Adrian sadari Kamilla mendesaknya untuk masuk pada kehidupan Adrian yang penuh luka dengan kehidupan masa lalu. Kamilla satu-satunya gadis yang berhasil memasuki dunia Adrian. Dunia yang bewarna abu-abu yang di dalamnya hanya ada Adrian dan luka. Dunia yang menurut Adrian ilusi semata yang hanya ada harapan semu tanpa ada warna selain abu. Kini warna abu itu telah berganti menjadi warna yang indah saat Kamilla datang.
Namun Adrian terlambat. Waktu terus berputar, hari terus berganti. Membuat kehidupan masa lalu semakin sulit dijangkau karena adanya waktu yang berjalan. Tetapi satu yang tidak bisa dihilangkan dari Adrian dikehidupan dulu hingga sekarang, yaitu perasaan.
"Gue bingung! Apa yang harus gue lakuin pada Kamilla? Bukan maksud gue menghindar. Tapi gue takut rasa itu datang, hanya untuk mengecewakan saja percuma! Dan yang gue rasakan Kamilla penting buat hidup gue sekarang." Adrian menjambak rambut frustasi menatap mobil juga motor berlalu lalang di depannya. "Mama, Gadis polos itu benar-benar mencintai Ian."
Mata Adrian yang biasanya mampu melayangkan tatapan tajam dan sinis. Kini hanya mampu mengumbar luka dengan mata yang sendu. Selalu saja luka yang mengikuti tiap dia melangkahkan kaki, tiap kali melihat kenyataan. Dan tiap kali merasakan perasaan yang indah. Semua yang dia rasakan tidak jauh dari sebuah luka.
***
Derap langkah kaki Adrian terdengar menghentak di penjuru koridor. Jam menunjukan setengah delapan. Adrian berhasil masuk menerobos ke dalam berkat Pak Rahmat satpam sekolah. Dia yang membantu Adrian melewati gerbang samping sekolah dengan menyogok Pak Rahmat dengan uang dua ratus ribu.
Langkah Adrian berhenti saat melihat Nesa sedang kesusahan menempel kertas di mading sana. Adrian menghembuskan napas dan memutar bola matanya. Dengan langkah santai Adrian menghampiri Nesa merebut kertas itu dan ditempelkan di mading dengan kasar.
Nesa terpekik kaget melihat Adrian yang sedang menempelkan kertas di mading dengan kasar. Dan menatap seseorang seperti biasa, tatapan dingin tak ada kehangatan.
"Lo?! Lo ngapain sih, bikin gue jantungan aja ih!" sembur Nesa dengan mata yang menyalang menatap Adrian menantang.
"Kata guru gue. Saling membantu sesama umat manusia itu wajib! Supaya kita dapat pahala dan mendapat berkah dari--,"
"Bukan sesama manusia! Lo tuh raja setan!"
"Setan lagi yang disalahin. Yang salah itu lo, kalau punya badan itu tinggian dikit biar nggak tibong." Adrian berlalu pergi meninggalkan Nesa yang mengerutkan dahi. Mencerna ucapan Adrian yang tidak dimengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
With You Adrian
Ficțiune adolescențiBermula dari pertemuan Kamilla Maharani siswi SMA Harapan Bangsa, dengan cowok sangar bernama Adrian Adinata Pratama si murid baru. Pertemuan mereka yang tidak direncanakan itu, membuat Kamilla selalu ingin memasuki dunia Adrian. DESSCHYA Copyright...
