Bisik-bisik saling bersahutan di kelas IPA-3. Wajah tegang, dan resah menghiasi wajah mereka. Kertas yang tergeletak di meja di tatap mereka dengan raut wajah pasrah.
Pagi ini mereka mendapatkan hukuman dari Bu Nori, akibat tidak mengerjakan PR. Padahal sebagian dari mereka mengerjakan tugas yang diberi Bu Nori. Tapi mereka tidak diberi toleransi, hingga pagi cerah ini tidak secerah yang mereka harapkan. Mendapatkan ulangan harian Matematika di pagi hari, diawal mata pelajaran dimulai.
Menurut mereka ini adalah sarapan pagi yang bergizi, tanpa asupan makanan perut mereka kenyang dengan rumus Matematika.
"Syut... nomor satu, dua, enam, sama lima puluh apa?" bisik Fira pada Kamilla, yang menatap wajah Ira pasrah dengan mengelengkan kepalanya, memberitahu jika dia juga belum mengerjakannya.
Di sisi lain Wawan yang rambut acak-acakan, muka lelah menatap kertas di tangannya dengan penuh kebencian.
"Setan! Nyesatin nih soal. Tuhan, bantu Wawan. Kenapa sih contoh gampang, soal susah? Kadang gue suka nggak paham," lirih Wawan menyesekan jiwa. Sedangkan Asep yang di sebelahnya hanya mengitung kancing seragam atau membaca mantra yang dia gunakan jika ulangan.
"Cap, cip, cup kembang kuncup. Pilih mana yang mau di cup. Nah jawabannya c." tiap soal pasti seperti itu, maka tidak jarang jika Asep selalu ranking kedua,
Kedua terakhir di kelasnya.
Di pojok sana Adrian sedang asik mengerjakan tugas, dengan earphone yang menyumbat telinganya. Asik sendiri, tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Gilang dari tadi tertunduk memainkan ponselnya, dan hal itu tertangkap basah oleh Bu Nori. Menatap Gilang dengan tatapan tajamnya.
"Ekhm! Gilang jangan berani searching mbah google!" ancam Bu Nori. Suaranya menggelegar membuat semua orang kaget dan susah menelan salivanya sendiri.
Gilang mengembuskan napas jengah, "Mana bisa Matematika searching. Kalo bisa udah dari tadi kali," gumam Gilang menatap Bu Nori penuh kekesalan.
Adrian selesai menyelesaikan lima puluh soal matematika dalam satu jam. Dia berjalan santai melewati temanya dan Kamilla. Hal itu tentu di lihat oleh Bu Nori.
"Heh! Adinata mau kemana kamu?" tanya Bu Nori, Adrian hanya mengangkat satu alisnya menatap Bu Nori tanpa rasa takut.
"Udah beres, Bu."
"Ibu nggak percaya," Bu Nori berkata sarkatis pada Adrian. Sedangkan Adrian, hanya merespon Bu Nori dengan santai.
"Kalau nggak percaya cek aja," setelah mengucapkan perkataan itu, Adrian melirik Kamilla yang menatapnya dengan tatapan cemas.
"Gue tunggu lo ditempat biasa."
Semua kelas bersiul dan bersorak. Ruangan yang tadinya tegang kini mulai ricuh dengan permintaan Adrian pada Kamilla, lalu pergi tanpa menunggu jawaban Kamilla. Wajah Kamilla merah seperti tomat rebus, dia malu. Bahkan Bu Nori menatap kepergian Adrian dengan muka cengo.
***
"Lo tadi di kelas malu-maluin tahu nggak! Ada apa?" tanya Kamilla sewot.
Setelah mereka berada di taman belakang sekolah. Adrian menatap Kamilla lembut. Tangannya mencoba memegang tangan kirinya Kamilla.
"Pulang sekolah, anter ke rumah sakit yah," pinta Adrian tanpa menanggapi masalah yang tadi di kelas. Kamilla menatap Adrian dengan mengerutkan dahi bingung.
"Kenapa?"
"Gue butuh jawaban iya atau enggak. Bukan balik nanya." Adrian memotong ucapan Kamilla.
KAMU SEDANG MEMBACA
With You Adrian
Teen FictionBermula dari pertemuan Kamilla Maharani siswi SMA Harapan Bangsa, dengan cowok sangar bernama Adrian Adinata Pratama si murid baru. Pertemuan mereka yang tidak direncanakan itu, membuat Kamilla selalu ingin memasuki dunia Adrian. DESSCHYA Copyright...
