BAB 34

6.5K 369 4
                                        

Adrian dan Kamilla menghampiri koridor rumah sakit. Di ujung lorong begitu ada seorang wanita tua menangis histeris. Adrian seperti mengenalinya. Saat menghampiri wanita tua itu pingsan dan dibawa ke dalam ruangan. Adrian bertanya pada dokter di sana, yang sedang sibuk ke sana kemari.

"Dok, ada apa?" tanya Adrian dengan penasaran dan khawatir. Suster dan dokter tampak begitu keluar masuk ruangan Nesa di sana.

"Pasien di ruangan mawar, meninggal dunia," kata dokter lalu meninggalkan Adrian mematung.

Telinganya berdengung saat mendengar kata meninggal. Pasti itu pasien lain, Adrian tahu itu. Arif baru saja dia memberi tahu Nesa sudah sadar dan keadaannya membaik. Tapi, mengapa perasaan dia tidak enak. Dia merasakan ada yang meremas hatinya, hingga menimbulkan sesak yang luar biasa. Wanita tua tadi, dia menganalnya. Sampai akhirnya tanpa dia sadari air mata menetes begitu saja, rasa amarah mengusai tanpa alasan. Tanggannya terkepal kuat.

"Adrian ken ... Loh, Adrian. Loh kenapa nangis?" tanya Kamilla. Adrian yang sadar langsung menghapus air matanya. Mencoba seperti biasa.

"Adrian," panggil seseorang dari sana berlari menghampiri dirinya. Penampilannya yang tadi rapih, sekarang tampak lusuh. Wajah itu menunjukan ekspresi yang susah ditebak sama sekali. Napasnya terlihat tidak beraturan. Matanya merah seperti habis menangis.

"Nesa! Mana dia?!" teriak Arif memegang kedua bahu Adrian, matanya menatap ruangan Nesa yang begitu ramai oleh perawat dan dokter. Dia makin panik, jika kabar itu benar-benar terjadi.

"Nesa! Lo dimana? Gue Arif. Di sini nungguin lo!" teriak Arif menuju ruangan Nesa. Tapi ditahan oleh Adrian yang menarik kerah baju Arif. Namun, Arif terus berontak melepaskan diri dari Adrian. Kamilla tidak tahu apa-apa hanya diam, bingung tentunya. Sebenarnya perasaan dia juga panik melihat banyak perawat di ruangan Nesa.

BUGH!

Pukulan Adrian layangkan pada Arif, membuat dia tersungkur di lantai. Dia mencengkram kerah Arif dengan tatapan marah.

"Adrian! hentikan!" teriak Kamilla kaget dan membekap mulutnya. Jangan sampai Adrian diusir karena membuat keributan. Apalagi ini bukan sekolah, ini rumah sakit. Banyak orang yang sedang sakit, pasti akan terganggu dengan keributan dibuat Adrian.

"Tenangin diri lo! Jangan kaya orang bego kaya gini!" Adrian berteriak di depan muka Arif.

Arif hanya terkekeh lalu dia meninju balik Adrian. Berdiri dengan tatapan mengerikan. Kamilla yang kenal dengan Arif, jika melihat dia menjadi menakutkan seperti ini. Dia tidak akan percaya jika yang di hadapannya adalah Arif.

"Lo bilang apa? Tenang. Sedangkan di dalam sana, ada cewek yang gue cintai, mati! Dan lo bilang tenang?! Harusnya lo mikir. Kalau lo ada diposisi gue sekarang, lo bakal lebih bego dari gue. Bayangin aja yang mati di ruangan sana Kamilla! Apa yang lo lakukan, hah?! Seandainya dia cewek lo!"

Emosi Adrian langsung tersulut mendengar Arif merumpakan jika itu adalah Kamilla. Dia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi. Adrian akan lebih panik tentunya. Adrian mulai mengerti dan merasakan perasaan Arif. Tatapan Adrian berubah menjadi datar, dia menatap Arif yang duduk dengan menjambak rambutnya.

Kamilla membekap mulutnya tidak percaya. Nesa pergi begitu cepat, Kamilla tidak menyangka kepergian Nesa tidak pernah dia sangka. Bukankah Arif berkata, Nesa sudah siuman? Namun kedatangan dia dan Adrian. Nesa udah pergi meninggalkan semua orang selamanya. Takdir dan maut memang tidak bisa disangka.

Berarti Adrian nangis itu, karena dia tahu Nesa meninggal. Padahal Adrian bukan siapa-siapa Nesa, kenapa dia harus menangis? Memang itu semua wajar. Tapi Kamilla hanya aneh, Adrian begitu mudah menangis. Kamilla tahu, Adrian laki-laki tangguh dan kuat. Hal ini membuat Kamilla sedikit aneh, hubungan Nesa dan Adrian apa? Sejak lama dia ingin tahu. Tapi Adrian selalu diam tidak memberi tahu.

"Dia pergi, semua udah terlambat. Gue emang bego, kenapa gue harus mengulur waktu? Buat bilang cinta sama dia. Sekarang semua terlambat bilang cinta sama Nesa. Gue tolol!" Arif mengusap wajahnya kasar.

Kamilla kasihan melihat Arif seperti ini. Kamilla mendekat pada Arif mengusap bahunya dengan lembut, "Sabar kak, kak Nesa pasti sedih, lihat Kakak kayak gini. Semuanya belum terlambat kak. Kak Nesa pasti tahu dan denger di atas sana. Kalau Kak Arif cinta sama dia. Sekarang Kak Arif harus tenang, percuma kaya gini juga. Waktu tidak akan terulang kembali. Tidak ada yang salah di sini termasuk Kak Arif.

Kepergian Kak Nesa itu, karena takdir Tuhan. Kita nggak harus menyalahkan diri sendiri, karena semuanya percuma. Sikap Kak Arif seperti ini juga, tidak akan membuahkan hasil. Melainkan akan menimbulkan kepedihan yang ada, itu sama saja menyakiti diri sendiri. Lebih baik kita berdoa. Semoga kak Nesa bisa tenang di sisi-Nya."

Arif menatap Kamilla, mencerna perkataan Kamilla dengan baik. Arif langsung tersadar akan ucapan Kamilla. Gadis ini benar jika dia menyalahkan diri sendiri, itu percuma. Nesa juga tidak akan kembali lagi bersamanya. Yang dibutuhkan Nesa sekarang hanya doa. Bukan sebuah penyesalan dan kesedihan. Arif mengerti perkataan Kamilla sekarang. Arif tersenyum dan mengusap lembut rambut Kamilla lembut, di hadapan Adrian. Adrian juga pasti akan ngerti dengan keadaan, dia tidak mungkin marah.

"Lo bener, seharusnya gue nggak kaya gini. Makasih udah buat gue sadar," kata Arif lirih. Kamilla hanya mengangguk.

Adrian melihat keduanya dengan datar. Dia bisa santai, tapi dalam hati dia merasakan sesuatu yang mengusik hatinya. Entah apa itu yang jelas kini dia merasakan sesak yang begitu menyakitkan. Perasaannya tidak enak sedari tadi. Adrian penasaran dengan wanita tua itu. Adrian melihat wanita tua itu pingsan, kalau tidak salah wanita itu berada di ruangan di samping ruangan Nesa.

"Bang, jagain Kamilla dulu. Gue ada perlu."

"Mau kemana?" tanya Kamilla. tapi, Adrian tidak menjawab dia memasuki ruangan di samping ruangan Nesa. Kamilla bingung, mengapa Adrian memasuki ruangan itu? Ada apa di sana.

Di dalam sana Adrian melihat seorang wanita sedang menutup matanya. Wajahnya masih sedikit buram, Adrian melihat wanita itu dari jarak jauh. Saat dia mendekat, matanya terus menulusuri wajah itu. Sampai akhirnya, dia terkejut melihat seseorang yang terbaring di sana. perasaan Adrian mulai tidak tenang, kejadian buruk yang Adrian tepis akan menjadi sebuah kenyataan. Jika benar dia adalah bagian hidup Nesa.

Berarti dugaan Nesa adalah kakak kandungnya benar. Dia adalah Gea yang dicari Adrian selama bertahun-tahun.

"Oma," panggil Adrian pada wanita itu dengan lirih.

Dia rindu dengan sosok wanita ini, wanita yang melahirkan ibunya.

With You AdrianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang