"Kenapa kita harus muter-muter mulu cari x. Sebel." Aku frustasi menghadapi latihan soal ujian nasional yang ada di hadapanku. Ada setidaknya lima hvs yang sudah ku coret-coret hanya untuk mengerjakan satu nomor saja. Gila. Kenapa secethek ini otakku.
"Kenapa sih syah?" Marwa yang melihatku uring-uringan mendekat. Kemudian geli sendiri karena wajahku sudah terlipat secara tidak simetris.
"Matematika wa... Sedih gua" Kataku sembari mengaparkan diri di lantai kamar.
Marwa menarik soal yang tengah ku kerjakan. Dengan sekejap, dia sudah menorehkan beberapa angka kecil di samping soal. Dan...
"Jawabannya C." Ucapnya datar menahan senyum.
Aku malongo melihatnya. Dengan segera ku rebut kertas itu dan mengamatinya dekat-dekat. Hanya ada oret-oretan perkalian disana dan sebuah tanda silang di option jawaban C. Aku menepuk dahiku, kemudian memegang dahi Marwa, menepuk dahiku lagi , dan seterusnya hingga Marwa berucap "Saya waras mbak. Mbaknya aja yang lebay dan muter-muter"
"Maksutnya?" Aku mengernyitkan alis.
"Soal seperti ini, persamaan linear, kan tinggal cari variabelnya. Kenapa muter-muter sampe nyari akar, disitu tidak ada kuadrat."
Aku manggut-manggut. Iya ya. Bukannya soal itu seharusnya gampang sekali.
"Berapa soal yang sudah kamu jawab?" Tanyanya.
Aku menghitung nomor yang ku lingkari-yang tak bisa ku kerjakan-. Ada 6 nomor disana.
"Berarti seharusnya kamu bisa syah, sekali lagi, kamu aja yang lebay."
"Kamu nggak sepatutnya membenci sesuatu yang terlihat buruk untukmu, karena no one know ternyata itu malah yang baik buat kamu. Kamu kayak kena rabies aja gitu. Suka uring-uringan. "
"Arghh.. Aku udah oret-oretan samoe nghabisin lima hvs marwa.." Jawabku cemberut.
"Tuh kan, kalau kamu nggak ngerti jalannya, nggak ngerti cara mainnya, mau nghabisin hvs sebanyak yang ada di pabriknya pun tetep nggak bakalan ketemu. "
"Kamu itu sebenarnya tau isy, hanya saja kamu dibodohi oleh keadaan. Ya jadinya semrawut."
"Marwa, nggak ngerti ah, pusing" Aku beranjak keluar.
"Mau ke jemuran?"Tanyanya.
Aku mengangguk. Tanpa komando, dia mengekor.
"Ceritalah aisy. Aku tau kamu dalam situasi yang tidak nyaman , terlebih kamu akan menghadapi ujian tahfidz, yang seharusnya fikiranmu harus fokus kesana." Kata Marwa sembari menatapku lekat. Aku merayap ke atap gedung muhadharah dan menyenderkan tubuhku di sebuah tiang penyangga atap.
"Ngawur kamu isy, kalau galau ya nggak usah kumat kali"
Marwa lebih memilih duduk di tangga untuk naik ke atas tower di sisi pojok jemuran yang mengarah ke speker besar di pojok kanan belakang gedung muhadlarah.
"Aku nggak tau kenapa galau. Aku bingung" Ucapku jujur.
"Bingung kenapa?"
"Nggak tau pokoknya. Bingung kenapa, aku pengen nangis , tapi buat apa, aku pengen marah ya nggak ada yang bikin marah, mau ketawa, tapi susah maksain kondisi hati. Aku... "
"Kamu?" Marwa melanjutkan.
"Rapopo" Ucapku datar yang disambut bunyi decak kecil dari Marwa.
"Soal Gus Adnan?" Dia langsung menebak. Dan aku, kena.
"Aku nggak bisa ngasih solusi kalo soal itu. Urusan hati orang lain, susah dipahami" Marwa berucap pendek.
Aku mendehem. Iya. Pastinya nggak akan ada yang bisa menyelesaikan kecuali Allah membalikkan niatnya lagi untuk mengkhitbahku. Maka, aku tak akan segalau ini.
"Punya lagunya gus adnan? Pinjem hp donk wa, kan kamu statusnya belum santri disini, masih tamu , kamu bawa hp kan?"
Marwa mengangguk. Diserahkannya android berlapis monotom silver itu kepadaku.
Dengan segera aku memejet-mejet menu, menggeser layar, mencari aplikasi pemutar musik, dan memilih satu lagu dari grup al badriyyah tuban.
Suara gus adnan dengan segera memenuhi rongga telingaku yang tersumpal earphone pink muda itu. Rasa tentram yang berbalut nyeri. Aneh.
Aku mengotak-atik hp marwa lagi. Maklum, dipondok memang tidak diperbolehkan membawa hp, jadi ya gini, kangen. Dan ketika aku membuka fitur sms, ada satu pesan yang membuat mataku terbelalak. Dari...
"Tanggalnya bertepatan dengan khotmil quran di as salafi dik, Apakah menurutmu terlalu cepat? Atau aku harus kembali menunggu? :' -AdnanAyfi.
"Sudah tepat mas. Sudah ku tanyakan pada ayah, beliau setuju dan akan menyiapkan segalanya.-Marwa"
Aku sudah down. Sungguh tak berminat mengscroll obrolan selanjutnya. Segera ku kembalikan hp marwa dan berlari ke taman.
Marwa hanya memperhatikanku dari kejauhan, kemudian tersenyum pahit. Aku tahu, ada rahasia yang ia sembunyikan.
*****
"A'udzubillahiminas syaithoonirrojiim. Bismillahirrahmaanirrahiim. Tabaarakalladzi biyadihil mulku wahuwa 'ala kulli syain qodir..."
Neng Alfi tengah membaca quran dengan umar berada di pangkuannya. Suaranya yang lembut memenuhi kamar 26 di asrama al fattah. Asramaku dulu. Kamarku yang dulu pula.
"Umar.. Sini ikut ammah aisy."
Ku ambil umar yang kini berusia 3 tahun 4 bulan itu. Wajahnya yang putih bersih amat menggemaskan.
"Neng, ini pakek pempers kan? " Tanyaku polos.
Neng Alfi menggeleng tanpa menghentikan bacaannya.
Waduh parah. Bisa-bisa kena banjir nih aku.
Baru ku gendong satu menit, umar sudah merengek minta digendong Neng Alfi lagi.
"Uccu cu cup cup.. Tayang.. Ciluk baaa.. Eh umar , ammah punya bagus. Ammah punya cicak yang bisa terbang, umar mau lihat?"
"Huaaaaaa" Tangisnya malah semakin keras.
"Eh yaudah. Kalo gitu , ini deh, Ammah punya kucing rebus. Mau gak umar?" Kataku ngaco.
"Hus. Ngawur kamu" Neng Alfi menyudahi tadarusnya. Kemudian mengambil alih umar, dan ajaib. Umar langsung diam. Kan kampret !!!
"Gimana persiapan ujian tahfidzmu?"
"InsyaAllah Neng, siap. Nanti malam ba'da tahajjud akan dimulai. Aneh ya neng kayaknya, kok kayak istimewa banget aku?" Tanyaku pede.
"Bukan istimewa. Semua santri yang telat ikut ujian tahfidz emang gitu adatnyaa. Kenapa? Ya sebenarnya agak istimewa sih, aku juga gak tau apa alasannya pesantren menerapkan sistem semacam ini. Itu rahasia sejak dulu. Waktu angkatan kemarin , ada 3 santri yang ikut ujian tahfidz susulan, jadi lumayan ada temennya. Lah ini kamu sendirian, yang nyimak senior semua lagi. Hahaha" Neng Alfi beruar cepat. Tawanya renyah. Menenangkan.
"Tapi isy.." Lanjutnya.
Kenapa?
"Hati kamu harus lapang. Tidak ada rasa marah pada siapapun. Harus ikhlas dan legowo. Biar lancar."
Neng Alfi berdiri dan mengambil sebuah kertas putih yang aku duga itu adalah surat.
"Dari siapa?"
"Gus mu" Jawabnya singkat.
"Assalamualaikum.
Semangat imtihan ya Aisyah. Ma'an Najah.
Dapet salam dari Piramida mesir"
Aku mengernyitkan dahi. Surat macam apa ini? Pendek. Gak bermakna!
"Pesanku ke kamu isy, jangan mudah salah paham. Jangan terlalu mudah menyimpulkan. Kamu diciptakan untuk berfikir, menganalisa, bukan menerima apa yang kamu lihat dan rasa secara mentah. Fikir, berfikirlah secara jernih. Bertafakurlah isy, minta pada Allah dan semua akan berjalan baik baik saja." Ucapnya datar. " Aku mau ke ndalem, Abangku bentar lagi sampai. Umar rindu pada Pamannya"
KAMU SEDANG MEMBACA
LASKAR JM fi Ma'had
SpiritualAis si gadis tomboy penggila playstation harus kecewa berat.Bukannya di bawa holiday sebagai hadiah kelulusannya , ais malah di bawa ke pondok pesantren as salafi. Bersama Marwa dan Vani ,ais membentuk "Geng Jemuran" yang selalu bikin onar di...
