Selepas dari pelabuhan, Gus Adnan mengajakku berjalan-jalan mengelilingi Semarang. Ke kota lama, simpang lima, Brown Canyon, hingga hutan tinjomoyo.
Aku percaya dia sangat mengertiku. Dia paham betul bahwa aku lebih suka menikmati alam ketimbang harus nongkrong di mall, menjaga gengsi, atau sekedar mampir di cafe kopi dan membeli air mineral, kemudian nongkrong berjam-jam hanya untuk menikmati wifi gratis. Dia terlanjur mengertiku sebagai tarzan yang taubat, katanya suatu waktu.
Aku merasa lelah sekali hari ini. Tapi entah rasa bahagia itu tak kunjung menyublim seiring nafas yang mengabur di udara. Udara kamar ini, yang sekarang terasa sesak karena rombongan dari pondok dan keluarga kak fathur datang mengunjungiku. Umi mengusap kepalaku penuh kehangatan, dan Abah hanya menepuk pundak gus adnan , semberi mensinyalir untuk terus menjagaku.
Yang perlu aku akui, aku masih tidak percaya aku menjadi istri Gus Adnan, lelaki hujan yang dulu sangat aku harapkan. Lelaki yang pandai sekali membuat kejutan kejutan menyakitkam yang berakhir indah untukku. Termasuk pernikahan ini. Bayangan bayangan mengerikan tentang rumah tangga, yang jujur sedari dulu aku fikirkan mulai menghantuiku. Sungguhkah, aku harus mengabdi pada lelaki ini ?
Aku menatap gus adnan lekat-lekat.
"Mentang-mentang udah halal, diliatin aja terus" Marwa mengedip genit ke arahku.
Aku merasakan pipiku memerah. Ada-ada saja ! Aku seperti baru merasakan kasmaran untuk yang pertama kalinya.
"Jadi kapan resepsinya akan di langsungkan?" pertanyaan Ayah kak Fathur mengambil perhatianku.
"Resepsi?" aku mengernyitkan dahi.
"Kau tidak mungkinkan tiba-tiba tinggal serumah denganku, nanti orang orang menyangkaku menculik anak orang"Gus Adnan menimpali.
"Emangkan ?" jawabku sok jutek. Padahal dlam hati aku ingin menggodanya lagi.
"Jadi kamu belum percaya?" Gus Adnan menepuk jidat. "Hei adakah yang memotret acara akad nikahku dengan istriku yang super nyebelin ini?" lanjutnya.
Krik.
Tidak ada yang menjawab. Hanya respon geleng-geleng dari para orang tua yang mungkin geli melihat tingkah kami.
"Apa aku perlu menceraikanmu, kemudian menikahimu lagi ,agar kamu benar benar percaya?" gus Adnan masih bertanya dengan suaranya yang khas. Adem.
"Jangan" ujarku cepat.
"Cieeeeee"
Aku merasakan pipiku kembali memerah. Huh. Tuhkan. Jadi kayak remaja labil. Eh, aku kan memang masih remaja. Jadi wajar donk.
"Kata dokter, Aisyah boleh dirawat jalan. Jadi jika memang kedua pengantin ini tidak sabar, bisa kok besok langsung duduk berdua dipelaminan." Mamah menggodaku. Dengan nada bicaranya yang alay.
"Nah kalau begitu, bagaimana kalau Lusa resepsi itu di adakan di pondok as salafi?" Umi menyarankan.
Aku mendadak geleng-geleng. Gak, masak iya mantenan di pondok ? Aku bisa membayangkan tamu-tamu resepsi nanti tidak tersenyum gembira , tetapi memasang wajah mendung dan kuda kuda akan menyerang. Iyalah pastinya. Gus adnan itu kan idola santri putri sepanjang masa. Gak aku gak rela. Apalagi nanti kalau takdir berkata lain, tiba-tiba ada santriwati yang ngamuk gitu. Kan berabe. Hus mikir apa sih kamu Aisyahhh!!!!
"Boleh." Tak kusangka , kata-kata itu keluar dari mulut Abah. Seorang pembesar pondok As salafi. Dan jika sudah begini, bisa dipastikan acara ini akan tetap berlangsung, tak peduli seberapa kuat aku berargumen tentang konyolnya resepsi di pondok.
Gus Adnan mengerling ke arahku.
"Ye.. Sungguh senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau.. Aduhai..." dia menyanyi lagu qpshidah ala orang mantenan dengan suaranya yang dibuat-buat. Yaa meskipun tetap merdu sih.
KAMU SEDANG MEMBACA
LASKAR JM fi Ma'had
SpiritüelAis si gadis tomboy penggila playstation harus kecewa berat.Bukannya di bawa holiday sebagai hadiah kelulusannya , ais malah di bawa ke pondok pesantren as salafi. Bersama Marwa dan Vani ,ais membentuk "Geng Jemuran" yang selalu bikin onar di...
