Subuh bertabuh. As-salafi bahkan tidak tidur semalaman. Seisi pondok disibukkan dengan acara khotmil quran hari ini. Langit masih tampak gelap, rembulanpun masih enggan beringsut dari tempatnya nongkrong, seperti sebuah isyarat agar ia bisa turut menyaksikan 100 santriwati yang cantik-cantik berjajar dipanggung aula pondok untuk melantunkan indahnya kalam illahi.
Siapa yang tidak bahagia? Siapa yang tidak bertabur bangga didadanya ? Ketika dirinya resmi menjadi khafidzah, perempuan penggenggam al quran? Menjadi anak yang kelak bisa menyerahkan jubah karomah untuk keluarganya di surga? Pasti tak ada. Semuanya pasti akan merasa buncah bahagia itu begitu menyeruak didalam dadanya. Sungguh.
Namun tidak denganku. Aku belum menyelesaikan tugasku. Belum. Baru jalan dua jam sejak jam setengah tiga pagi tadi para murobbi,asatidz, dan beberapa santri lain yang menyimak ayat-ayat al quran yang aku lantunkan.
Aku merasakan getaran yang hebat menjalar di seluruh tubuhku. Ada sebuah kekuatan baru yang muncul di dadaku. Aku tak menangis. Hanya sedikit grogi karena Mamah tak henti-hentinya memandangiku dengan mata kebanjiran air.
Ayat-ayat suci Illahi itu seolah meresap ke ke seluruh badanku, mengalir mengikuti darahku, atau entah apalah itu. Aku kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya. Yang jelas aku merasa dipeluk berjuta rahmat dariNya.
Aku semakin menikmati bacaanku ketika sampai pada surat Al Kahfi. Mataku terpejam dan tak terasa air mata ini membanjiri jas kebesaran pondok As Salafi yang aku kenakan ini. Dengan ajaib, ayat-ayat itu menjelma menjadi gambar-gambar di jagad hayalku.
Kisah para pemuda ashabul kahfi. Para penghuni goa. Pemuda-pemuda yang teguh dan kukuh. Pemuda-pemuda cerminan islam yang berani mengambil keputusan, pemuda-pemuda yang hebat, tak takut, tak gentar.
Lalu seketika muncul gambaran-gambaran pemuda masa kini.
Yang galaunya karena diputus cinta.
Yang marahnya pada orang tua karena tak dituruti keinginan egoisnya.
Yang mencaci maki orang tua karena pekerjaannya.
Yang tak menghormati al quran. Yang dengan waktu 24 jam seharinya ia habiskan bersama gadget kesayangannya.
Yang telinganya tersumpal headphone saat adzan berkumandang.
Yang nongkrong bersama teman lebih seru dan asyik ketimbang sholat dan kajian bersama.
Yang uangnya ia hamburkan untuk foya-foya sedang disekelilingnya banyak pengemis tak berharta.
Yang kehilangan, identitas dirinya.
Sebagai hamba. Sebagai seorang makhluk ciptaan yang fana.
Perlahan aku merasakan sesak yang menggebu di dadaku. Seolah ada berton-ton bata menindih organ pernafasanku. Sesak.
Ya Allah.. Betapa bobrok akhlak pemuda kami, betapa buruk kami yang tak bisa menasihati dan menggenggam mereka. Ya Allah betapa kami butuh uluran kasih sayangmu.
Ya lathif.. Lembutkan hati mereka, lembutkan pula hati kami.
Buatlah dakwah di ardhMu ini menjadi indah berhias ukhuwah, bukan fitnah dan pertumpahan darah.
Ya rabb, kembalikan jiwa-jiwa pemuda kami. Yang dengan gagah berani menumpas segala kebathilan. Dari bentuk sekecil apapun.
Ya rabbi... Nawwir qolbi...
Aku mengatur nafas sejenak. Dengan sekilas ku tatap sekeliling ruang ujian ini. Dan .. Abi, umi..
Lihatlah dua pasangan itu duduk berangkulan diantara para asatidz. Dengan jubah kuning keemasan. Dengan senyum lebar yang menenangkan.
Aku menangis lagi. Betapapun tak sekali pun aku pernah melihat wajah kedua orang tua kandungku. Hanya foto usang. Yang di ujung-ujungnya telah penuh dengan sobekan. Saking seringnya ku genggam.
Umi... Ku pandangi wajah putih bersih berhias senyum itu. Matanya, mirip dengan mataku. Bibirnya mirip dengan bibirku.
Dan abi... Ku cermati gurat-gurat bijaksana pada wajah teduhnya itu. Aku merasa.. Mewarisi hidungnya. Mirip. Mirip sekali.
Allah... Kau hadirkan mereka ya Allah. Untukku. Untuk menyaksikan aku menyelesaikan amanah dari Abi.
Mataku terpejam lebih erat lagi. Aku tak sanggup membuka mata karena konsentrasiku mudah buyar jika harus melihat hal ini.
Sampai pada surat Ar Rahman. Aku masih terpejam , larut dalam teguran-teguran tuhan. Nikmat mana yang kamu dustakan ?
NIKMAT MANA YANG KAMU DUSTAKAN?
Lalu dengan ajaib, muncul sahabat-sahabat terkasihku. Neng Alfi, Marwa, Vani. Mereka tengah berlarian di padang ilalang dengan jubah dan cadar putih bersih. Semuanya. Aku mencoba memanggil mereka, tetapi mereka semakin berlari menjauh sambil tertawa-tawa. Aku sedih. Aku ditinggal sendiri. Hingga tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang memelukku. Mencium keningku, dan mengusap pipiku lembut. Aku dibuat nyaman senyaman-nyamannya oleh orang ini. Ingin sekali aku membuka mata, tapi tak bisa. Seolah ada lem yang melekatkan kelopak mataku. Seseorang itu , lalu membacakan surat al ikhlas ditelingaku. Tepat di daun telinga karena aku dapat merasakan hembusan nafas hangatnya.
Qul Huwallahu ahad.
Allahusshamad.
Lam Yalid wa lam yuulad.
Walam Yaqullahuu kuffuwan Ahad.
Dibaca dengan nada yang meneduhkan. Seperti suara yang amat aku kenali. Suaranya. Suara dia.
Hingga tuntas sudah aku membacakan surah An-Nas. Seluruh asatidz dan guru-guru mengangkat tangan memanjatkan doa. Doa untukku.
Ya Rabb.. Apakah ini nyata? Keajaiban mana yang mengantarku pada penghayatan al quran yang begitu mempesona? Dari mana Engkau munculkan gambar-gambar itu Ya Allah?..
Alhamdulillah..
Alhamdulillah..
Alhamdulillah..
Aku membuka mata perlahan. Tapi mendadak pandanganku buyar. Aku , tak bisa merasakan apa apa lagi setelah itu selain teriakkan histeris Mamah.
"Aisyaaah......!!!!"
en
KAMU SEDANG MEMBACA
LASKAR JM fi Ma'had
SpiritualAis si gadis tomboy penggila playstation harus kecewa berat.Bukannya di bawa holiday sebagai hadiah kelulusannya , ais malah di bawa ke pondok pesantren as salafi. Bersama Marwa dan Vani ,ais membentuk "Geng Jemuran" yang selalu bikin onar di...
