Aku meraba kepalaku yang sekarang jadi kinclong itu . Vani menertawakanku , kujitak saja kepala dia yang malahan kinclongnya nggak merata . Sempat ku pergoki Vani minta tolong marwa untuk membabat habis rambut keriting miliknya .
biar bersih tanpa noda gitu kata dia waktu ku ejek dijemuran.
Pasca sidang , seluruh santri banyak yang menghujatku . You know , hanya aku ! Bahkan Mbak Luna dan si Mak Centil mempunyai kebiasaan baru : nggosipin aku ! Tapi , mereka berdua itu tidak punya ilmu ngerumpi deh kayaknya. Seharusnya mereka kan ngomongnya pelan nih ya , tapi aku bisa mendengar semua yang mereka omongin tentang aku .
"Si siapa itu eh yang sekarang jadi tuyul botak? Aisyah ya ? Idih , kok bisa ya , santri kelakuannya kayak gitu , amit amit dah " Kata Mbak Luna waktu itu . Sampeyan santri ngomongin orang ,kedengeran lagi sama orangnya , lebih amit amit mana , jeng? Aku membatin sengit . Tapi benarkan yang aku katakan? Menggunjing sesama itu kan nggak baik , bahkan kata neng Alfi itu sama saja memakan bangkai sesama manusia .
"Heeh , lagian tuh ya , iih kok bisa sih Si pangeranku ngebelain Si ipin botak? " Mbak Nurul berkata tak kalah sengit . Aku ilfeel dengan nada bicaranya yang alay . Tapi , pangeranku? Siapa yang dimaksud? Gus Adnan kah?
"Iya ya , apa hubungannya Sang Pangeran Tuban dengan Aisyah? Kok bisa ,seorang gus , malaikat bersuara emas seperti nabi dawud , berparas tampan seperti nabi yusuf , membela si gadis mbleler itu?" Mbak Luna tampak berfikir .
Aku jadi ikut berfikir , iya ya ? Kenapa gus adnan membelaku? Ah , akan aku tanyakan padanya kalau nanti bertemu lagi.
Ku sudahi sesi menguping itu , eh bukan menguping ! Sebenarnya tanpa perlu menguping aku bisa mendengar pembicaraan dua mak sinting itu . Apa iya , di pesantren mereka hanya untuk dilatih menjadi ahli gosiffiyah alias tukang rumpi? Naudzubillah dah ! Aku aja yang sembleler ini berencana buat tomat . Tobat maksiat .
"Ingat mati ingat sakit ingatlah saat kau sulit , ingat ingat hidup cuma..hkk " aku sedang menyenandungkan lagu band favoritku . Tapi pasti kalau di nada rendah ,atau di nada amat tinggi suaraku jadi mirip suara traktor deh ! Nggak enak banget didengerin .
"Satu kali .. berapa dosa kau buat , berapa kali maksiat, ingat ingat sobat ingatlah akhirat" Suara merdu itu melanjutkan nyanyianku yang kacau bin fals tadi . Aku menoleh , huft , ternyata neng Alfi .
"Cie senangnya yang nggak jadi pulang" Mbak Alfi duduk disamping papan kayu yang aku duduki . Aku sengaja mendesain jemuran ini menjadi tempat yang nyaman untuk nongkrong geng JM . Tapi , akhir-akhir ini neng Alfi sering bergabung dengan kami . Eit , tapi sekarang kami hanya nongkrong waktu hari jum'at . Soalnya kami udah nazar nggak bakal membolos satu kegiatanpun lagi .
"Eh si eneng , Hehe iya nih , kok aku semakin kerasan ya disini neng? " Ungkapku jujur .
"Kan aku udah pernah bilang , witing tresno , jalaran seko ra ono liyo ? Hehe iya kan ? Memang kamu ditakdirkan disini , sekuat apapun kamu berteriak protes sama Allah , jalanmu nggak ada yang lain , tetap disini" Aku selalu merasa tenang ketika mendengar kata-kata neng alfi —juga gus adnan .
Aku tersenyum sesaat , kusandarkan kepalaku dibahunya . Mataku menerawang ke langit senja ,
"Neng Alfi , ais boleh tanya?" Kataku pelan .
"Boleh , tanya aja"
"Tapi neng nggak boleh marah , ya ?"
"InsyaAllah"
"Jawab iya aku janji , jangan insyaAllah " aku merajuk kesal .
"InsyaAllah itu lebih menjanjikan ,karena disertai asma dan kehendak Allah " Neng Alfi menjelaskan lembut .
"Hehe , iya deh . Mmmm gini neng" aku ragu untuk melanjutkan ,tapi penyakit kepo ku lebih menuntut untuk di obati .
"Neng Alfi , sejak kapan ber.. ngg pakai pakaian kayak gini?"
Akhirnya , kata kata itu meluncur juga . Aku yakin , neng alfi sudah sering mendapat pertanyaan yang sama .
"Ngg... Sejak , dua tahun yang lalu" Dia menjawab tanpa rasa curiga . "Kenapa ?" Lanjutnya bertanya .
"Nggak papa sih neng , mmm tapi apa enggak gerah , atau risih , atau ngerasa diasingkan gitu neng? Dipondok ini ,hanya eneng sama keluarganya abah yang mengenakan pakaian seperti ini . Apa nggak ada yang ngebully neng? " kucecar dia dengan banyak pertanyaan yang telah kusimpan sejak pertemuan pertama dengannya waktu ngeronda dulu.
"Gerah ? Enggak tuh , saya mah nyaman pakainya . Risih? Enggak juga , saya malah ngerasa dilindungi , serasa mendapat prottection langsung dari Allah . Ngerasa di asingkan? Seharusnya kita seneng ais , jadi orang yang asing . 'Islam berawal dari keadaan yang asing , dan akan berakhir dalam keadaan yang asing pula , maka berbahagialah orang orang yang asing itu' . Gitu kan hadisnya ? . Iya emang dipondok ini cuma keluarga Abah yang mengenakan Jubah dan Niqaab kayak aku , tapi meniru yang baik , kan berpahala , syah? . Ada yang ngebully ? BANYAK ! Kebanyakan mereka memandang miring orang-orang berniqaab atau berpakaian syar'i , kami dicurigai sebagai anggota isislah , terorislah , wahabilah , padahal kami juga sama dengan mereka , aswaja tulen" Dia menjawab dengan detail . Porsi yang cukup . Dalam urutan yang runtut . Hebat ! Dia gadis yang cerdas !
"Aku .. aku pingin bisa kayak eneng , istiqomah menghijabi diri" Ucapku jujur . Yah , semenjak aku berada di pelukan pria bejat yang hampir merenggut kegadisanku , dan dipelukan ... Gus Adnan ? Hei ! Iya aku sempat menangis di pelukannya ! Ah , itu hanya efek ketakutan ku saja , aku jadi yakin dan mantap ! Aku butuh proteksi ! Yang dengannya , aku bisa lebih dihargai dan tidak sembarangan orang bisa mengatai hei cantik, hei manis ! Dan proteksi itu , aku yakin adalah hijab ! Ya , selama ini aku berhijab hanya karna sebuah keterpaksaan . Hanya sebagai bentuk menghormati tradisi dilingkungan ku yang baru . Tapi, hijab ini bukan tradisi ! Ya bukan tradisi atau semacam fashion untuk memperindah diri ! Ini sebuah kewajiban , sebuah bentuk ketaatan hamba terhadap tuhannya .
Mbak Alfi menggenggam tanganku dengan antusias .
"Benar kah , aisyah?"
"Iya neng , ajari aku agar bisa istiqomah sepertimu . Tapi , semua jilbabku tipis neng , bajuku juga banyakan baju dedek bayi , udah ngapret semua" Kuperjelas hambatan ku yang ingin berubah ini . Ya , baju bajuku memang nggak ada sama sekali yang memenuhi syarat syar'i yang kata neng Alfi nggak boleh ketat , nggak boleh transparan , harus menjuntai menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan .
"Tenang aja , aku punya banyak . Kamu bisa ikut memakainya , sementara belajar istiqomah , kamu menabung . Akhir tahun pasti ada bazar besar besaran di pondok , banyak yang jual jubah kok" neng alfi menawarkan kebaikannya .
Yaallah , semoga ini langkah yang tidak salah . . .
"Bagaimana ?"
"Oke deh neng , terimakasih ya , kau memang sumber inspirasiku" ku peluk tubuh neng Alfi .
"Eh , ais , neng boleh tau , kronologis kejadian mmm .. yang menyebabkanmu disidang itu?"
"Ngg .. boleh , tapi neng jaga rahasia ya ?"
Neng alfi mengangguk pasti . Lalu kuceritakan kejadiannya sedetail detailnya . Setelah selesai , neng alfi manggut manggut .
"Kamu kenal sama gus adnan tah?" Neng alfi bertanya kepo .
"Ngg.. enggak sih neng , hanya pernah bertemu waktu aku dindalemnya umi" Jelasku .
"Dia memang seperti itu" gumam neng alfi nggak jelas .
"Ah , apa neng? "
"Engga , engga papa kok ! Ais aku mau ambil laundry dulu ya! Eh , nanti malem ke ghurfahku , kupinjami kau jubahku , okey" neng alfi berlalu buru-buru. Sepertinya , ada yang dia sembunyikan .. tapi hei ! Kebiasaan! Dia selalu meninggalkan kitab sembarangan . Yasudah , kubaca saja kitab al ibriz , juz lima , bab pernikahan . Hihi , kecil-kecil udah belajar kayak ginian , ya tapi kan belajar dimulai sejak kecil yakan ya kan?
Kubuka halaman 207 , betapa terkejutnya aku melihat foto lelaki itu , Gus Adnan? Bersama Neng Alfi ? Dan .. bayi kecil ?
Alisku bertaut tanda tak mengerti . Apa hubungannya neng alfi dengan gus adnan? Padahal dia santri baru disini ? Dan siapa bayi kecil itu?
Aku akan menanyakannya pada neng Alfi !!
KAMU SEDANG MEMBACA
LASKAR JM fi Ma'had
SpiritualAis si gadis tomboy penggila playstation harus kecewa berat.Bukannya di bawa holiday sebagai hadiah kelulusannya , ais malah di bawa ke pondok pesantren as salafi. Bersama Marwa dan Vani ,ais membentuk "Geng Jemuran" yang selalu bikin onar di...
