Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Hijabku Pelindungku

5.3K 314 1
                                        

      Aku meraba kepalaku yang sekarang jadi kinclong itu . Vani menertawakanku , kujitak saja kepala dia yang malahan kinclongnya nggak merata . Sempat ku pergoki Vani minta tolong marwa untuk membabat habis rambut keriting miliknya .
biar bersih tanpa noda gitu kata dia waktu ku ejek dijemuran.

Pasca sidang , seluruh santri banyak yang menghujatku . You know , hanya aku ! Bahkan Mbak Luna  dan si Mak Centil mempunyai kebiasaan baru : nggosipin aku ! Tapi , mereka berdua itu tidak punya ilmu ngerumpi deh kayaknya. Seharusnya mereka kan ngomongnya pelan nih ya , tapi aku bisa mendengar semua yang mereka omongin tentang aku .

"Si siapa itu eh yang sekarang jadi tuyul botak? Aisyah ya ? Idih , kok bisa ya , santri kelakuannya kayak gitu , amit amit dah " Kata Mbak Luna waktu itu . Sampeyan santri ngomongin orang  ,kedengeran lagi sama orangnya , lebih amit amit mana , jeng? Aku membatin sengit . Tapi benarkan yang aku katakan? Menggunjing sesama itu kan nggak baik , bahkan kata neng Alfi itu sama saja memakan bangkai sesama manusia .

"Heeh , lagian tuh ya , iih kok bisa sih Si pangeranku ngebelain Si ipin botak? " Mbak Nurul berkata tak kalah sengit . Aku ilfeel dengan nada bicaranya yang alay . Tapi , pangeranku? Siapa yang dimaksud? Gus Adnan kah?

"Iya ya , apa hubungannya Sang Pangeran Tuban dengan Aisyah? Kok bisa ,seorang gus , malaikat bersuara emas seperti nabi dawud , berparas tampan seperti nabi yusuf , membela si gadis mbleler itu?" Mbak Luna tampak berfikir .

Aku jadi ikut berfikir , iya ya ? Kenapa gus adnan membelaku? Ah , akan aku tanyakan padanya kalau nanti bertemu lagi.

Ku sudahi sesi menguping itu , eh bukan menguping ! Sebenarnya tanpa perlu menguping aku bisa mendengar pembicaraan dua mak sinting itu . Apa iya , di pesantren mereka hanya untuk dilatih menjadi ahli gosiffiyah alias tukang rumpi? Naudzubillah dah ! Aku aja yang sembleler ini berencana buat tomat . Tobat maksiat .

"Ingat mati ingat sakit ingatlah saat kau sulit , ingat ingat hidup cuma..hkk " aku sedang menyenandungkan lagu band favoritku . Tapi pasti kalau di nada rendah ,atau di nada amat tinggi suaraku jadi mirip suara traktor deh ! Nggak enak banget didengerin .

"Satu kali .. berapa dosa kau buat , berapa kali maksiat, ingat ingat sobat ingatlah akhirat" Suara merdu itu melanjutkan nyanyianku yang kacau bin fals tadi . Aku menoleh , huft , ternyata neng Alfi .

"Cie senangnya yang nggak jadi pulang" Mbak Alfi duduk disamping papan kayu yang aku duduki . Aku sengaja mendesain jemuran ini menjadi tempat yang nyaman untuk nongkrong geng JM . Tapi , akhir-akhir ini neng Alfi sering bergabung dengan kami . Eit , tapi sekarang kami hanya nongkrong waktu hari jum'at . Soalnya kami udah nazar nggak bakal membolos satu kegiatanpun lagi .

"Eh si eneng , Hehe iya nih , kok aku semakin kerasan ya disini neng? " Ungkapku jujur .

"Kan aku udah pernah bilang , witing tresno , jalaran seko ra ono liyo ? Hehe iya kan ? Memang kamu ditakdirkan disini , sekuat apapun kamu berteriak protes sama Allah , jalanmu nggak ada yang lain , tetap disini" Aku selalu merasa tenang ketika mendengar kata-kata neng alfi —juga gus adnan .

Aku tersenyum sesaat , kusandarkan kepalaku dibahunya . Mataku menerawang ke langit senja ,

"Neng Alfi , ais boleh tanya?" Kataku pelan .

"Boleh , tanya aja"

"Tapi neng nggak boleh marah , ya ?"

"InsyaAllah"

"Jawab iya aku janji , jangan insyaAllah " aku merajuk kesal .

"InsyaAllah itu lebih menjanjikan ,karena disertai asma dan kehendak Allah " Neng Alfi menjelaskan lembut .

"Hehe , iya deh . Mmmm gini neng" aku ragu untuk melanjutkan ,tapi penyakit kepo ku lebih menuntut untuk di obati .
"Neng Alfi , sejak kapan ber.. ngg pakai pakaian kayak gini?"
Akhirnya , kata kata itu meluncur juga . Aku yakin  , neng alfi sudah sering mendapat pertanyaan yang sama .

"Ngg... Sejak ,  dua tahun yang lalu" Dia menjawab tanpa rasa curiga . "Kenapa ?" Lanjutnya bertanya .

"Nggak papa sih neng , mmm tapi apa enggak gerah , atau risih , atau ngerasa diasingkan gitu neng? Dipondok ini ,hanya eneng sama keluarganya abah yang mengenakan pakaian seperti ini . Apa nggak ada yang ngebully neng? " kucecar dia dengan banyak pertanyaan yang telah kusimpan sejak pertemuan pertama dengannya waktu ngeronda dulu.

"Gerah ? Enggak tuh , saya mah nyaman pakainya . Risih? Enggak juga  , saya malah ngerasa dilindungi , serasa mendapat prottection langsung dari Allah . Ngerasa di asingkan? Seharusnya kita seneng ais , jadi orang yang asing . 'Islam berawal dari keadaan yang asing , dan akan berakhir dalam keadaan yang asing pula  , maka berbahagialah orang orang yang asing itu' . Gitu kan hadisnya ? . Iya emang dipondok ini cuma keluarga Abah yang mengenakan Jubah dan Niqaab kayak aku , tapi meniru yang baik , kan berpahala , syah? . Ada yang ngebully ? BANYAK ! Kebanyakan mereka memandang miring orang-orang berniqaab atau berpakaian syar'i , kami dicurigai sebagai anggota isislah , terorislah , wahabilah , padahal kami juga sama dengan mereka , aswaja tulen" Dia menjawab dengan detail . Porsi yang cukup  .  Dalam urutan yang runtut . Hebat ! Dia gadis yang cerdas !

"Aku .. aku pingin bisa kayak eneng  , istiqomah menghijabi diri" Ucapku jujur . Yah , semenjak aku berada di pelukan pria bejat yang hampir merenggut kegadisanku , dan dipelukan ... Gus Adnan ? Hei ! Iya aku sempat menangis di pelukannya ! Ah , itu hanya efek ketakutan ku saja , aku jadi yakin dan mantap ! Aku butuh proteksi ! Yang dengannya , aku bisa lebih dihargai dan tidak sembarangan orang bisa mengatai hei cantik,  hei manis ! Dan proteksi itu , aku yakin adalah hijab ! Ya , selama ini aku berhijab hanya karna sebuah keterpaksaan . Hanya sebagai bentuk menghormati tradisi dilingkungan ku yang baru . Tapi, hijab ini bukan tradisi ! Ya bukan tradisi atau semacam fashion untuk memperindah diri ! Ini sebuah kewajiban , sebuah bentuk ketaatan hamba terhadap tuhannya .

Mbak Alfi menggenggam tanganku dengan antusias .
"Benar kah , aisyah?"

"Iya neng   , ajari aku agar bisa istiqomah sepertimu . Tapi , semua jilbabku tipis neng , bajuku juga banyakan baju dedek bayi , udah ngapret semua" Kuperjelas hambatan ku yang ingin berubah ini . Ya , baju bajuku memang nggak ada sama sekali yang memenuhi syarat syar'i yang kata neng Alfi nggak boleh ketat , nggak boleh transparan , harus menjuntai menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan .

"Tenang aja , aku punya banyak . Kamu bisa ikut memakainya , sementara belajar istiqomah , kamu menabung . Akhir tahun pasti ada bazar besar besaran di pondok , banyak yang jual jubah kok" neng alfi menawarkan kebaikannya .

Yaallah , semoga ini langkah yang tidak salah . . .

"Bagaimana ?"

"Oke deh neng , terimakasih ya , kau memang sumber inspirasiku" ku peluk tubuh neng Alfi .

"Eh , ais , neng boleh tau , kronologis kejadian mmm .. yang menyebabkanmu disidang itu?"

"Ngg .. boleh , tapi neng jaga rahasia ya ?"

Neng alfi mengangguk pasti . Lalu kuceritakan kejadiannya sedetail detailnya . Setelah selesai , neng alfi manggut manggut .

"Kamu kenal sama gus adnan tah?" Neng alfi bertanya kepo .

"Ngg.. enggak sih neng , hanya pernah bertemu waktu aku dindalemnya umi" Jelasku .

"Dia memang seperti itu" gumam neng alfi nggak jelas .

"Ah , apa neng? "

"Engga , engga papa kok ! Ais aku mau ambil laundry dulu ya! Eh , nanti malem ke ghurfahku , kupinjami kau jubahku , okey" neng alfi berlalu buru-buru. Sepertinya , ada yang dia sembunyikan .. tapi  hei ! Kebiasaan! Dia selalu meninggalkan kitab sembarangan . Yasudah , kubaca saja kitab al ibriz , juz lima , bab pernikahan . Hihi , kecil-kecil udah belajar kayak ginian , ya tapi kan belajar dimulai sejak kecil yakan ya kan?

Kubuka halaman 207  , betapa terkejutnya aku melihat foto lelaki itu , Gus Adnan? Bersama Neng Alfi ? Dan .. bayi kecil ?

Alisku bertaut tanda tak mengerti . Apa hubungannya neng alfi dengan gus adnan? Padahal dia santri baru disini ? Dan siapa bayi kecil itu?

Aku akan menanyakannya pada neng Alfi !!

LASKAR JM fi Ma'hadCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang