Tian mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba membiasakan matanya dengan cahaya terang sinar matahari yang bersinar menembus korden kamarnya. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di meja dekat tempat tidurnya.
"Baru juga jam enam lebih" Tian membenamkan kepalanya dibawah bantal. Hari minggu ini dia benar-benar nganggur dirumah, Om nya pasti sudah pergi jogging keliling kompleks. Ya, sudah beberapa hari ini dia tinggal bersama pongky. Orang yang sudah tua tapi jones, ditambah lagi mata keranjang amit-amit.
Lima menit kemudian Tian bangun dari tempat tidurnya dengan ogah-ogahan.
"Whooa....." Tian menuruni tangga sambil mengucek-ngucek matanya. Dia menuju kulkas dan mengambil sebotol air lalu meminumnya. Matanya kemudian tertuju ke meja makan, penasaran. Ia mendekati meja makan lalu membuka tudung nasi.
"Wuih.. Ini baru namanya hidup, pagi-pagi udah ada yang bikinin sarapan." Ternyata Pongki sudah masak dadar gulung sebelum pergi jogging.
"Nih orang udah tua alay lagi, pake nulis segala" Tian mengambil surat yang tergeletak di meja.
Ohayou gozaimazu-Selamat pagi
Aku tadi membuatkanmu dadar gulung dengan rasa cinta,
Tian bergidik, membaca surat dari Pongki, dia mengambil sendok lalu mengambil dadar gulung yang langsung dia masukan ke mulut sambil melanjutkan membaca surat Pongki.
Enak kan dadar guling buatanku. Maaf mungkin aku tadi menjatuhkan sedikit cangkang telurnya di dadarnya.
KRETEK..
Tian merasa mengunyah sesuatu di dadar gulungnya, dia mengeluarkan-nya dari mulutnya. ya, benar ada cangkang telur, yang aneh lagi dadar gulungnya rasanya tawar. Tanpa rasa curiga, Tian menyuapkan lagi dadar gulung ke mulutnya.
1.. 2.. 3..
Mata Tian melotot "Eughh. Buwehhh.." Tian menyemburkan dadar gulung yang ada di mulutnya lalu mengambil air minum dan meminumnya dengan buru-buru. Lalu dia membaca lagi surat dari Pongki yang belum selesai dia baca.
Dan kurasa rasanya kurang asin, padahal sudah kutambah garam sebanyak dua sendok makan.
Hidung Tian kembang kempis menahan kesal, dia kembali membaca.
Dan maaf dapur mu ku buat sedikit berantakan.
Tian terbelalak lalu berlari ke arah dapur. Dan benar, dapurnya bukan hanya sedikit berantakkan, tapi acak-acakan. Ada telur yang pecah di dekat kompor, dan garam yang tumpah disana-sini. Tian meremas surat Pongki lalu menggumpal-nggumpalnya.
"Arghh.. Om Pongki! Sini gantian Om yang kugoreng!!" Teriak Tian menggema di penjuru rumahnya.
"Kayaknya aku lebih baik melanjutkan jogging lagi" Gumam pongki yang hendak masuk rumah, tapi urung karena mendengar teriakan Tian. Pongki lalu berbalik untuk pergi jogging lagi. Tapi baru beberapa meter dia berjalan, tiba-tiba pintu depan rumah Tian terbuka. Kepala Tian melongok keluar sambil celingukan.
"Nah, Ternyata Om disitu" Gumam Tian sambil menyeringai setan.
"Om mau jogging lagi. jaa ne-sampai jumpa" Pongki melambaikan tangan-nya lalu mulai berlari menuju jalan.
"Eh, tunggu dulu" Tian keluar dari rumah.
Bukan-nya berhenti, Pongki malah berlari kencang.
"Oi.. Om, jangan lari!" Tian berteriak lalu berlari mengejar Pongki. Pagi-pagi mereka sudah seperti orang sinting yang saling kejar-kejaran.
......
"Daripada kau nonton acara gak penting sambil menguap terus. mending kau bantu aku bersihin dapur" Pongki berkacak pinggang di depan tv.
"Om saja sono yang bersiin, minggir-minggir. kelewatan acaranya nih!" Pongki minggir dari depan tv lalu memutar badan-nya menghadap tv
"Jadi yang kau tonton dari tadi cuma acara gosip ini" Tanya Pongki tak percaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seperti Hujan
Fiksi RemajaCover by : @Keynaa_key Direvisi setelah tamat. Tentang aku, kamu dan juga hujan "Hujan pernah membuat kita dengan sengaja dipertemukan". -K- Namun, ketika yang dianggap sebagai takdir tuhan ternyata hanya sebuah kebetulan Akankah takdir masih tetap...
