Keyla duduk di bangku sebuah taman. Sesekali tersenyum melihat tingkah sepupu kecilnya. Sesekali meneriaki sepupunya untuk tidak bermain jauh darinya.
Di lain sisi, Tian melipat kedua tangan di depan dada. Tatap matanya tak sedetikpun terputus dari sosok yang berjarak agak jauh di depannya. Gadis itu tertawa lepas, sampai kedua matanya menyipit.
Tian tersenyum, entah untuk alasan apa ia turut merasa bahagia. Dadanya menghangat, beban rasa yang selama ini ia tahan terasa menghilang.
"Gak disamperin?" Ujar gadis yang tiba-tiba muncul di samping Tian.
"Buat apa?"
"Obat"
Tian menoleh ke arah Vania, menatap Vania dengan tatapan bertanya.
"Buat ngobatin rindu kalian. Dengan sikap kalian seperti ini, sama aja nyiptain sakit batin buat kalian."
Tian tersenyum samar, lalu kembali menatap ke arah Keyla, "Cukup kayak sekarang. Gue udah cukup seneng liat dia bahagia sama caranya sendiri"
"Sesederhana itu?" Tanya Vania.
Tian mengangguk, "Dia tertawa gue tertawa, dia bahagia, tanpa sebab gue juga ngerasain hal yang sama. Bahkan cuma ngeliat tawa lepasnya aja, gue ngerasa amat sangat bahagia. Sesederhana itu cinta gue ke dia. Sesederhana itu hati gue memilikinya."
"Untuk berapa lama?" Vania kembali bertanya.
"Sampai dia ketemu sama orang yang tepat"
Vania terdiam. Menatap nanar Tian.
"Dalam hitungan minggu. Gue pergi ngejauh dari dia" ujar Tian sendu.
"Manffatin waktu dengan tepat"
Tian mengangguk, "Ayo pergi."
Mereka berdua berjalan pergi. Keyla mengedarkan pandangannya ke semua penjuru arah. Merasa ada sesuatu yang salah.
------
Tian meletakkan bunga yang dibawanya di atas makam Pongky. Lebih tepatnya bunga beserta potnya.
"Di sana makanannya enak-enak kan Om? Gratis kan" Tian mulai berbicara, sambil mencabuti rumput liar.
"Tian payah Om, gamau memperjuangkan orang yang disayanginya. Kalau aja Om masih bareng kita disini, pasti Om udah ngejitak kepala Tian sekarang" oceh Vania. Berbicara dengan batu nisan makam Pongky selayaknya mengobrol dengan seseorang yang masih hidup.
Yang mati hanya raganya. Jiwanya tetap hidup, tinggal di dalam hati dan kenangan kita.
------
Tian memarkirkan motornya di teras samping. Berdampingan dengan dua motor milik Edi dan Rendi. Kemarin ia pergi ke tukang kunci, menggandakan kunci rumahnya. Membagikan kunci Rumahnya kepada Rendi dan Edi.
Tian memasuki rumah, menemukan Edi dan Rendi duduk di sofa. Terlihat sedang menunggunya.
Tian duduk herhadapan dengan mereka, "Nape gak dari kemarin-kemarin aja gue ngasih kunci Rumah gue ke kalian." Ujar Tian.
"Lo serius?" Tanya Edi.
"Serius lah"
"Lo serius mau kuliah di sana"
"Gak disini aja, barengan sama kita" tambah Rendi.
Tian tersenyum, "Tahun ini jadi tahun terburuk dalam hidup gue. Rencana gue kuliah disana atas dasar saran dari Ayahnya Almarhum Om Pongky."
"Gue sama Rendi sering tidur di rumah ini karena kita mau nyibukin diri lo, nyibukin pikiran lo dari kenangan-kenangan itu"
"Gue tau rasanya, tapi Yan. Waktu ga bisa diputar, dan hidup harus terus berjalan."
"Gue tau. Tapi, mungkin aja ini yang terbaik, gue temuin hal lain disana yang bisa ngobatin luka ini"
"Dan setelah lo temuin. Jangan lupa balik ke tempat ini, balik ke keluarga kedua lo ini." Rendi berdiri.
"Dan bakal kita mulai lagi kisah ini" tambah Edi, ikut berdiri.
"Gue ga bakal lupa jalan pulang" Tian bangkit berdiri.
Rendi menampar pipi kanan tian. Ditambah tamparan dari Edi di pipi kirinya. Lalu, Tian tanpa disangka-sangka menonyor dahi kedua temanya.
"Makan tuh" Tian berlari ke ruang tengah, menghindar dari kejaran Edi dan Rendi yang terlihat tidak waras lagi.
Pendek.
Selamat Tahun baru
Kayaknya bakalan cepet tamat.
Dan juga bakalan ada cerita baru setelah ini. Masih berbau tentang hujan juga sih. Kenapa? Gatau, suka aja sama filosofi dari hujan
KAMU SEDANG MEMBACA
Seperti Hujan
Fiksi RemajaCover by : @Keynaa_key Direvisi setelah tamat. Tentang aku, kamu dan juga hujan "Hujan pernah membuat kita dengan sengaja dipertemukan". -K- Namun, ketika yang dianggap sebagai takdir tuhan ternyata hanya sebuah kebetulan Akankah takdir masih tetap...
