"Anjing!"
"Babi!"
Umpatan-umpatan terus keluar dari mulut Rendi dan Edi, mengiringi permainan ps mereka. Malam minggu ini, mereka berdua menginap di rumah Tian.
"Yan.., masak mie gitu kek. Gue laper" Rendi dengan songongnya memerintah.
"Masak sendiri sono. Noh, mie nya di atas kulkas" Tian tengkurap di lantai, sibuk dengan ponselnya.
"Lo aja gih, gue nanggung nih."
"Gue lagi ML, gak bisa di ganggu"
"ML?" Rendi langsung membalikan badan, melihat Tian.
"Main ML maksud gue, mobile legend."
Rendi menepuk jidat Tian "Kalo ngomong yang lengkap, gue kira lo nonton anu-anu"
"Gue menang!" teriak Edi.
"Lah... Gara-gara Tian, gue kalah."
"Yang kalah masak mie instan sono" perintah Edi.
"Gak bisa gitu dong" elak Rendi.
"Halah.., cepetan sono" edi mendorong bokong Rendi dengan kakinya.
"Iye-iye. Yang pake kuah aja ya?."
"Serah elu, asal bisa dimakan."
Rendi berjalan menuju dapur rumah Tian. Diambilnya tiga mie instan dari atas kulkas.
"Yan, gimana kabar lo sama Keyla?" Edi berbalik, menatap Tian dengan serius.
"Ya gak gimana-gimana. Kan udah putus." Jawab Tian.
"Lo gak berusaha buat ngajakin dia balikan gitu?"
"Sekarang enggak. Tapi gatau kalo besok, besok lusa, atau kapanpun itu. Kalo emang berjodoh, dengan cara apapun pasti bakal bisa balikan lagi"
"Ea... pasti bisa kok."
"Oy... Yan! Kompor lu gasnya abis nih!" seru Rendi dari dapur.
"Lah iya. Gue lupa ngomong, gasnya abis dari kemaren" Tian nyengir.
"Bakalan kelaperan nih, mana di luar hujan lagi..." Rendi mulai merenggek seperti anak kecil.
"Si kampret, gebleknya kumat" cibir Edi.
"Serahin ke gue," Tian bangkit, lalu berjalan ke arah dapur.
Sementara Tian di dapur. Rendi dan Edi menghidupkan televisi. Nonton acara dangdut di salah satu chanel televisi sambil berjoged ria.
Edi berjoged dengan penuh semangat, bokongnya di geol-geolkan menirukan gerakan Zaskia Gotic di tivi.
"Bokong lo keliatan seksi kalo joged gitu" Rendi menoel bokong Edi.
Edi menatap Rendi dengan tatapan horor, "Kok gue jadi jijik ya, lo ngomong begitu."
"Elah... biasa aja kali, gue bukan homo."
"Mas Tian... Aku mau diapa-apain sama Rendi, tolongin mas!" Teriak Edi.
"Elah... Mulut ember mulai lagi" Rendi menerjang Edi.
Mereka berdua mulai lagi bergulat ala pemain tinju bebas. Saling mengunci gerakan satu sama lain, berguling-guling kesana kemari hinga karpet yang ada di depan tivi jadi kusut tak berbentuk.
Kalau sudah begini, tidak akan ada yang bisa memisah mereka. Kecuali salah satu diantara mereka sudah ada yang mengaku kalah.
"Heh.., bocah! Gue gak mau tau kalo salah satu dari kalian sampe hamil." Seru Tian.
Edi mendelik sambil mengunci lengan Rendi dengan tangannya "Mulutnya kalo ngomong. Kalopun ada yang hamil, pasti si Rendi. Rendi kan ganda campuran"
"Kampret! Kalo gue hamil, ngelahirinnya lewat mana coba?" Rendi berusaha melepaskan diri dari Edi.
"Mie instannya udah mateng. Kalo lu pada gak berhenti, gue abisin sendiri nih" Tian berjalan menuju meja makan.
Mendengar ancaman Tian tersebut, Rendi dan Edi saling melepaskan diri. Lalu buru-buru menyusul Tian di meja makan.
Begitu sampai di meja makan, Rendi dan Edi menyambar mangkuk mie instan dan duduk manis sambil memakan mie tersebut dengan lahap.
Tak ada yang bersuara, mereka bertiga sibuk dengan mie instannya masing-masing.
"Malem minggu, hujan, dan mie instan. Sungguh perpaduan yang sangat pas buat kaum jomblo" celetuk Rendi.
"Iya, berasa kek hidup," sahut Edi "Btw, gasnya kan abis. Terus ini lo masak mie nya gimana?"
"Pake air panas lah"
"Gue tau kalo pake air panas. Tapi lo dapet air panasnya dari mana?"
"Dari dispenser" jawab Tian.
******
Kantin sekolah kali ini benar-benar ramai. Beberapa siswa terlihat memainkan gitar sambil bernyanyi-nyanyi ria, membuat beberapa siswi berteriak histeris, ada yang dibuat mematung menatap mereka.
Siswa-siswa tersebut adalah teman-teman Tian. Mereka saling bergantian menyanyi. Dan kali ini adalah giliranTian bernyanyi.
"Kangen hati ini," Tian mulai bernyanyi sambil memetik gitar, "Kepadamu... Setiap khayal, selalu menghadirkan dirimu.
Sekian lama berjarak, hasrat semakin ingin dekat. Mencoba memelihara, harapan yang terpendam...
Aa.., aa... aku kangen kamu...
Aa.., aa... Aku rindu kamu..."
Keyla yang sedang memakan bakso sambil melamun menghentikan kunyahan bakso dimulutnya. Ia begitu mengenal suara yang sedang bernyanyi saat ini. Ia menoleh ke belakang, dan benar saja, Tian sedang bernyanyi di sana.
"Musim panas berganti, musim hujan berakhir.
Membayangkan, kita menjalin kasih kembali...
Sekian lama menunggu, sekian kasih melintas. Aku sayang kamu, tapi tak mau cintaku sia-sia...
Aa.., aa... Aku kangen kamu-"
"Suara jelek oy!" ejek Rendi yang membuat Tian menghentikan lagunya.
Keyla merutuk kesal karena nyanyian Tian terhenti. Keyla menggelangkan kepalanya. Berusaha menghilangkan Tian dari kepalanya.
Hal tersebut dilihat oleh Vita. Vita merasa geli sekaligus kasihan melihatnya.
"Biar bang Rendi yang nyanyi. Lagu lo terlalu galau buat cuaca secerah hari ini." Rendi merebut gitar dari Tian. Di genjrengnya dengan penuh semangat.
"Apa salah dan dosaku sayang, cintaku suciku kau buang-buang. Lihat jurus yang kan ku berikan, jaran goyang.., jaran goyang..." Rendi bernyanyi dengan kencang.
Tian sudah terpingkal tanpa alasan. Sedangkan Edi mulai berkeliling kantin. Mencopot sebelah sepatunya lalu disodorkan kepada para pengunjung kantin, meminta upah seperti pengamen.
Ada yang suka rela memberi uang seribunya untuk dimasukan ke dalam sepatu Edi, dan tak sedikit siswi yang misuh-misuh karena saat sedang makan malah di sodori sepatu.
******
Sayang, opo kowe krungu?
Kagak!!! #abaikanauthorgaje
Halo... saya update lagi lho
Jangan pada jadi sider, komen gitu. Biar saya gak ngerasa kesepian (eh...) ✌
Vote nya jangan lupa yak 😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Seperti Hujan
Fiksi RemajaCover by : @Keynaa_key Direvisi setelah tamat. Tentang aku, kamu dan juga hujan "Hujan pernah membuat kita dengan sengaja dipertemukan". -K- Namun, ketika yang dianggap sebagai takdir tuhan ternyata hanya sebuah kebetulan Akankah takdir masih tetap...
