25

501 26 5
                                        

"Yang sulit itu bukanlah pura-pura peduli, melainkan pura-pura tidak peduli.
Terasa sakit saat kita masih memikirnya, tetapi lebih sakit lagi ketika kita pura-pura tidak memikirkannya.
Karena, semakin berusaha melupakannya maka akan semakin mengingatnya."

                            """"""

Tian memarkirkan motornya di parkiran sekolah. Tiga hari ia tidak masuk sekolah, tapi bekas lebam di wajahnya masih bisa terlihat dengan jelas.

"Woho... Sohib kita dari dunia lain akhirnya nongol" seru Edi

"Kamu kemana aja mas, aku kangen tau" celetuk Rendi dengan nada manja.

"Najis! Kemasukan syetan dimana nih anak"

Rendi terbahak, "Kampret lo. Buset, muka lo bisa gitu. Gue jadi pengen ngehajar Dafa juga sekarang"

"Sekarang pengen ngehajar, kemaren-kemaren aja lo kek perangko sama si Dafa" ejek Edi.

"Kan gue belum tau wujud asli si Dafa. Sekarang mah, jijik gue sama tuh orang" ujar Rendi.

"Udah-udah, ke kantin yok. Gue kangen sama Bi Ami yang bohay itu" celetuk Tian sambil merangkul bahu kedua temannya, diseretnya Edi dan Rendi menuju kantin.

"Abis dihajar, otak lo geser kali ya. Bi Ami bodinya bulet gitu di bilang bohay" Edi menepuk jidat Tian.

"Bagusan punya Veren tuh" tunjuk Rendi ke arah Veren yang sedang berjalan tergesa-gesa dari arah berlawanan, "Naik, turun mulu. Udah kayak bola basket"

Tian meraup muka Rendi dengan tangannya, "Si kampret! Otaknya perlu dibersihin."

Edi menepuk pundak Tian, "Eh.., tuh si Keyla" tunjuk edi dengan dagunya.

Tian menoleh, tepat saat Keyla juga melihat ke arahnya. Pandangan mereka bertemu, namun hanya untuk beberapa detik. Mereka saling mengalihkan pandangan, seperti tak saling kenal satu sama lain.

"Ke kelas aja yok, gue gak jadi kangen bi Ami" Ujar Tian lalu berjalan menuju kelasnya.

"Mereka kenapa sih? Kalo masih cinta kenapa putus?" Tanya Rendi.

"Mana gue tau. Lagian lo tau dari mana kalo mereka masih saling cinta? Sotoy lu ah."

"Dari cara mereka berdua memandang aja udah keliatan."

"Mungkin mereka masing nunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat buat ngakuin kalo mereka masih saling sayang."

Rendi mengangguk-angguk, "susul Tian yok"

                            ******

"Ke kantin yuk" ajak Vita untuk kesekian kalinya. Namun tetap, Keyla menolak dan menyibukkan diri dengan buku paketnya.

"Takut ketemu Tian?"

Keyla menggeleng kuat, "Gak lah! Biasa aja. Kalo lo laper, lo ke kantin aja. Gue masih kenyang."

"Lo juga ikutan yuk. Gak usah sok nyibukin diri sama buku, padahal pikiran lo lagi mikirin hal lain."

"Gue emang lagi mikirin soal-soal ini kok" Keyla menunjuk kumpulan soal-soal di buku paketnya.

"Mau sampai kapan terus begini? Mungkin lo bisa bohong ke orang lain, sekalipun itu gue. Tapi lo gak bisa bohong sama hati lo sendiri."

"Gue ga ngerti deh, apa yang lo maksud"

"Udah ah, ke kantin yuk." Vita langsung menarik tangan Keyla. Tidak mempedulikan ocehan Keyla, diseretnya gadis itu menuju kantin.

Kedua gadis itu tiba di kantin sekolah yang hampir penuh dengan siswa-siswi yang kalap kelaparan. Mereka mengantri memesan makanan, dan setelah mendapat tempat duduk. mereka duduk manis sambil menikmati makanan masing-masing.

Seperti HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang