Menyiramkan air mineral ke atas makam Pongki, lalu jongkok di sebelah makam tersebut.
"Panas banget om" keluh Tian.
Tian melihat ke depan, ada seorang gadis berseragam SMA berdiri menatap sebuah makam. Pandangannya sendu, menyiratkan sebuah kerinduan yang terdalam.
Tian kembali menatap makam pongki, "Aku Lulus Om, nilaiku juga lumayan." Tian menarik napas, "Setelah ini, mungkin aku bakalan lama gak kesini lagi Om, sampai jumpa lagi" Tian bangkit berdiri, sebenarnya ingin sekali dia berlama lama di tempat itu. Tapi Tian tak ingin bersedih dan bahkan berubah pikiran.
Tian menatap le depan, gadis itu masih berdiri di sana. Mendongak, ia menatap langit yang berwarna oranye. Seperti senja, yang tau caranya berpamitan dan kembali.
Dilihatnya kembali gadis itu, masih berdiri, menunduk menatap makam di bawahnya. Tian mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia akan tinggal sebentar, menunggu gadis di depannya untuk pulang. Di pemakaman ini sepi dan jauh dari pemukiman penduduk, Tian merasa tak tega melihat gadis itu di sini sendirian.
Setengah jam kemudian.
Tian melihat jam di ponselnya, "Udah hampir jam setengah enam" Tian memasukan ponselnya ke saku celana, lalu berjalan ke arah gadis itu berdiri.
Ketika sudah sudah berdiri di depan gadis itu, Tian berdeham, gadis itu tersentak kaget lalu melihat ke arah Tian.
"Maaf, udah hampir gelap. Lo harus pulang kan?" Tanya Tian.
Gadis itu mengusap air matanya, lalu mendongak, menatap langit yang hampir gelap.
"Oh iya, makasih udah ngingetin," Gadis itu tersenyum.
Gadis itu berjongkok, mengelus nisan makam di depannya, "Ayah, aku pulang dulu, udah mau malem" gadis itu berdiri, membalikan badan lalu berjalan pergi meninggalkan area pemakaman.
"Ayah?" Tian menatap makam itu. Tian menatap gadis itu yang sudah keluar dari area pemakaman. Tian buru-buru berjalan pergi, berjalan menuju motornya yang terparkir di luar pemakaman.
Begitu sampai, dinaiki motor tersebut lalu dihidupkan mesinnya. Sedetik kemudian, Tian melajukan motornya menyusul gadis tadi.
Gadis itu berjalan terus sambil menoleh ke kanan dan kiri. Begitu Tersusul, Tian menghentikan motornya di samping gadis itu.
"Ayo naik, gue anter pulang" ujar Tian.
Gadis itu menoleh ke arah Tian, " Eng... Nggak deh, gue,"
"Mau jalan sampai di pangkalan ojek depan sana, mau ngojek. Gue gak yakin sama tukang ojek di depan sana, tampang mereka kayak penjahat yang lagi nyamar jadi kang ojek." Potong Tian.
Gadis itu nampak berpikir, memang benar yang diucapkan Tian.
"Iya deh" ucap gadis itu.
"Buruan naik"
Gadis naik ke atas motor Tian, lalu menunduk tanpa sepatah kata.
"Tunjukin arah ke rumah lo" ujar Tian,
"Iya"
Tian melajukan motornya, mengikuti arahan dari gadis tersebut. Sekitar Empatpuluh menit kemudian mereka sampai di depan area komplek perumahan.
"Sampai sini aja, rumah gue udah deket."
"Oh, iya. Kalo gitu gue balik dulu" Tian memutar arah motornya,
"Makasih ya"
Tian menoleh, mengangguk sambil tersenyum.
"Mau mampir?"
"Lain kali, kalau semesta ngijinin"
Gadis itu terdiam sejenak, "Dita,"
Tian diam, tak menerti.
"Nama gue Dita. Nama lo?" Tanya gadis itu.
"Oh... Pangil aja gue pawang hujan" ujar Tian lalu nyengir. Lalu melajukan motornya meninggalkan tempat tersebut.
"Pawang hujan" gadis itu tersenyum, lalu berjalan memasuki area komplek.
------
Tian melajukan motornya dengan kencang. Begitu melewati sebuah halte yang sepi, ia mengerem motornya, ia melihat sebuah mobil yang amat dikenalnya.
Tian memutar balik motornya, begitu berada di depan halte, ia berhenti, memarkirkan motornya lalu melepas helmnya.
Benar saja, di sana berdiri seorang pria paru baya yang amat dikenalnya.
"Ayah," Tian mendekat.
"Jangan ngebut seperti itu lagi" ujar Harun.
"Cuma pas lagi ngebut itu aku ngerasa bebas dari beban"
Hening, tidak ada yang bersuara diantara mereka berdua.
"Yakin, dengan yang kamu pilih" tanya Harun.
"Sangat yakin" jawab Tian.
"Buat hidup ini mudah. Tentukan pilihan dan jangan lihat kebelakang." Harun merogoh kantung jas-nya. Menyodorkan amplop besar dan tebal.
Tian menggeleng, "Ayah lupa sama wasiat Om Pongki? Dia bilang, dia yang bakal ngebiayain kuliahku sepenuhnya."
Harun mengangguk, "Ah, ya. Tapi kalo kamu butuh untuk tambahan keperluanmu,
hubungi Ayah." Ujar Harun.
Tian mengangguk. Harun mendekat, lalu menepuk-nepuk pundak Tian, "Dunia ini selalu punya obat untuk semua luka"
Harun berjalan menuju mobilnya, masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya.
Tian menatap mobil Ayahnya yang berlalu.
"Kadang dunia tak seburuk yang dipikirkan"
Tian berjalan menuju motornya. Baru saja menaiki motornya, lewat sebuah motor dengan kencang, "Gue suka jalanan" Tian tersenyum, memakai helm fullface-nya lalu menghidupkan mesin motornya. Sedetik kemudian Tian melajukan motornya dengan kencang, mencoba menyusul pengendara motor yang baru saja lewat.
-----
Halooo....
Maapkan Author yang lama gak update.
Terlalu sibuk di bengkel, ngurusin persiapan balapan, ngurusin doi yang belum peka juga.
Maap kalo kependekan, ataupun feelnya kurang ngena.
Makasih buat kalian yangmasih nungguin SH update.
Salam gerimis dari langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seperti Hujan
Novela JuvenilCover by : @Keynaa_key Direvisi setelah tamat. Tentang aku, kamu dan juga hujan "Hujan pernah membuat kita dengan sengaja dipertemukan". -K- Namun, ketika yang dianggap sebagai takdir tuhan ternyata hanya sebuah kebetulan Akankah takdir masih tetap...
