Chapter 04.3

1.1K 104 1
                                        

Tidak terlalu lama seperti yang kulihat. Aku hanya perlu mendengarkan pengarahan NPC yang seperti manusia sungguhan itu dan menyelesaikan registrasi. Dan memang, event ini terbagi menjadi dua divisi. Divisi party dan divisi squad. Dan jumlah party yang mengikuti event ini tidak terlalu banyak yang kubayangkan, kira-kira hanya seperempat jika dibandingkan dengan divisi squad.

"Hubungi Avery. Kita akan mendirikan tenda di sini," ucapku sesaat menemukan Foxx yang menungguku di gazebo tadi.

"Sudah!"

"Oh!" aku hanya ber-oh-ria menanggapi jawaban yang Foxx berikan kepadaku. Ternyata dia lebih tanggap dari yang kukira.

"Makan ini dulu." Dia menyodorkanku sebuah bungkusan makanan ketika aku duduk di kursi depannya. Betul juga, rasanya singkat meski sebenarnya cukup lama. Apa aku merasa menikmatinya? Itu mungkin saja.

Aku makan makanan yang ia berikan kepadaku. Rasanya sangat pas untuk cuaca seperti ini. "Apa ini?"

"Hmm?"

"Apa nama makanan ini?" aku bertanya lagi dengan kalimat berbeda.

"Ah, aku tidak tahu, aku rasa makanannya enak, jadi aku beli saja."

"Oh, oke."

"Kenapa bahasamu berubah?" dia bertanya sambil mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arahku, mengamati lebih jauh lagi.

"Ah," kami bertatap mata, wajahnya begitu muda walaupun dia lebih tua daripada aku "Tidak, aku hanya terbiasa berbicara seperti ini dengan orang lain di dunia ini," aku menjelaskan pertanyaannya sambil mengayunkan tangan kananku sebagai penjelas. "Kau juga harus membiasakan dirimu, Foxx," tambahku lalu melahap sebagian besar makanan.

"Oh." Dia mengangguk lalu dengan cepat kembali bersandar di kursinya.

"Berapa lama lagi dia akan sampai kemari? Avery?" aku bertanya sambil menggigit sisa-sisa terakhir makananku.

"Dia berkata akan berangkat sekitar sore atau malam hari."

"Oke."

"Oke apa?"

"Berarti masih ada waktu buat kita untuk ngeluyur dulu."

"Ah! Benar juga!" ekspresi wajahnya berganti seketika. Sangat mudah untuk membuatnya senang hanya dalam hitungan detik. "Dan juga, kamu belum menyelesaikan ceritamu karena kedatangan teman lamamu itu, siapa namanya?" wajahnya sedikit manyun.

"Casey." Aku menyelesaikan potongan terakhir makananku lalu memandang ke sekitar untuk menemukan sebuah tempat sampah, tepat beberapa meter di sebelah kiriku. Aku melemparkan makanan itu seperti seorang pemain basket. 3 poin.

"Benar, itu dia, Casey."

"Kamu ingin aku bercerita dulu, atau ngeluyur dulu?" aku memberinya sebuah pilihan yang semestinya mudah untuk dia. Namun dia malah bingung dengan pilihan yang kuberikan. "Ini masih jam satu siang." aku kembali melihat tab jam yang berada di layar mataku.

"Hmm," dia terlihat berpikir sambil memandang ke bawah, sesekali dia melirikku. Bibirnya dimainkan tanda ia semakin bingung. "Aku ingin keduanya." Dia nyengir, lalu memainkan dan memandang kedua jarinya.

Aku tersenyum lalu berdiri. "Baiklah, kalau begitu kita jalan-jalan sambil kuceritakan."

Dia tersenyum simpul lalu berjalan mengikutiku di belakang dan kemudian berjalan sejajar denganku.

Tak jauh dari sana, kami kemudian berjalan entah ke mana, hanya mengikuti ke mana kaki-kaki kami melangkah menginjak tanah gunung yang terlihat asri ini. Aku mulai bercerita, melanjutkan pada bagian di mana aku terhenti tadi.

Project Legacy: AwakeningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang