23 Juli 2038.
Rupanya cukup susah mengubah keputusan yang telah dibuat oleh Avery. Namun itu semua berbuah hasil ketika aku menantangnya untuk menyelesaikan sebuah raid. Taruhannya? Jika aku berhasil menyelesaikan raid itu dengan komandoku, Avery akan memperbolehkanku mendaftarkan party kami ke dalam kompetisi yang akan dimulai empat hari itu. Namun, jika kami gagal menyelesaikan raid itu dengan komandoku, Avery akan tetap pada keputusan sebelumnya.
Dan hasilnya? Walaupun dengan sedikit susah payah—karena Foxx sedikit susah untuk diberi perintah—pada akhirnya kami berhasil menyelesaikan raid tersebut dengan tingkat kesulitan yang tergolong cukup tinggi.
Pagi itu ada pembicaraan singkat setelah sarapan pagi.
"Baiklah, jadi siapa di antara kalian yang mau pergi untuk mendaftarkan party kita?" setelah terdiam untuk beberapa saat, akhirnya kata-kata yang kami tunggu keluar dari mulut Avery.
"Aku! Biar aku dan Blue saja!" Foxx tiba-tiba berteriak dengan semangat dan sontak membuat kami berempat menoleh ke arahnya. Dia hanya bisa nyengir sambil memandangi kami satu-persatu secara bergantian
"Ha, aku?" aku protes karena namaku disebut oleh Foxx, kenapa harus aku? Mengapa tidak bersama Avery atau Cello saja? Atau bahkan Arianne?
"Hmm." Avery menimbang-nimbang sejenak perkataan Foxx barusan.
"Bagaimana?" tanya Foxx dengan nada yang menggebu-gebu dan ekspresi wajah semringah.
"Baiklah, Foxx dan Blue," ucap Avery. "Tapi aku mengizinkan Blue karena aku tidak terlalu percaya dengan Foxx akan sampai pada tugas kali ini, dan juga, karena Blue juga yang sudah membuatku mengubah keputusanku kali ini," tambahnya panjang. Jadi ini karena aku? Haha. Tapi kalau dipikir-pikir benar juga, sih. Kalau Avery hanya mengirim Foxx saja, aku sendiri pun juga ragu dia akan tiba di sana, atau dia malah akan ngeluyur entah ke mana, atau bahkan tersesat.
Foxx manyun sebentar lalu mengubah ekspresinya lagi. "Jadi, kapan kami bisa berangkat?" tanya Foxx tanpa memedulikan kata sindiran Avery barusan, mungkin dia sempat memikirkannya sebentar, namun dengan cepat ia hapus dari pikirannya.
"Secepatnya." Cello menjawab lalu pergi entah ke mana.
"Secepatnya, waktu deadline untuk mendaftar hanya tinggal dua hari lagi," kata Avery menambahi.
"Kalau begitu kami akan berangkat sekarang!" tiba-tiba Foxx berdiri setelah mengucapkan itu, kemudian dengan cepat menarik lengan bajuku dan beranjak keluar dari rumah seolah ia sudah terkurung selama yang ia ingat.
"Kita pergi sekarang?" tanyaku, menghentikan langkah kakinya dengan kompak.
Dia mengangguk yakin.
"Lalu siapa yang membersihkan semua ini?" aku bertanya lagi, merujuk pada piring-piring kotor yang kami gunakan untuk makan pagi ini.
"Oh, itu, Arianne bisa membersihkannya," jawabnya enteng. Apa dia memang seperti ini kalau sudah terlalu bersemangat?
"Tenang saja," timpal Arianne mengenai pernyataan Foxx barusan dengan senyuman datar, lalu mulai berdiri dan mengumpulkan piring-piring tersebut.
"Ayo!" Foxx kembali menarik lenganku.
"Tidak apa-apa?" aku bertanya pada Foxx yang berjalan di depan setelah kami berdua keluar dari rumah. Dia terlihat ingin sekali pergi sejenak dari mereka.
Foxx mengangguk pelan lalu menoleh ke arahku. "Tidak apa-apa, kok." Dia tersenyum.
"Hmm," timpalku, aku bingung harus berkata apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Project Legacy: Awakening
Science Fiction[Proses Editing] [Sebagian bab sudah dihapus] [Buku pertama dari seri Project Legacy] [komplit] [sudah direvisi] ... Apa yang kau pikirkan ketika kau secara tidak sadar telah kembali dalam dunia virtualmu setelah dua tahun tak menyentuhnya...
