Tak jauh dari sungai, kami semua berkumpul. Merayakan sebuah kemenangan yang entah mengapa harus dirayakan seperti ini. Ini seperti merayakan kemerdekaan. Lucu. Aku akhirnya mengetahui level Pixie itu. Levelnya justru di bawahku, 57. Itu hal yang membuatku terkejut saat mengetahuinya. Dia hebat. Lebih hebat dariku dengan strateginya.
"Jadi siapa namamu, Pahlawan?" dia menghampiriku saat setelah mengambil sebotol minuman yang dipesannya melalui bartender. Kami semua berkumpul di dalam bar, sebagian ada di luar. Seperti aku. Aku tidak terlalu suka keramaian.
"Namaku Blue!" aku menjawabnya, sedikit berteriak karena di sini ramai sekali.
"Aku Gabrielle. Dengan huruf L ganda," dia menyeruput minumannya. "Gerakan bagus di sana tadi," ujarnya sambil menunjuk ke arah sungai dengan jempolnya.
Aku tersenyum tanpa memandangnya. "Yeah, kau juga."
"Blue, huh? Aku tahu nama itu. Kau adalah archer pertama yang berhasil lolos ke kejuaraan, dua tahun lalu, apa aku benar?"
Ya, aku mengangguk, rupanya dia tahu aku. "Yeah."
"Itu menjadi berita besar waktu itu. "First Archer that enters the championship." kata mereka." Dia mengatakannya seolah aku ini sangat hebat, padahal tidak. Namun aku tidak bisa membantahnya. Mungkin saat itu keberuntungan sedang berpihak kepadaku. Aku juga ingat ketika berita itu menyebar sangat luas di internet. Aku tiba-tiba saja menjadi seorang artis di dunia maya. Namun di dunia nyata, mereka sama sekali tidak mengenalku. Itulah salah satu kehebatan VRO. Kau bisa menjadi orang yang tidak bisa kau implementasikan dalam kehidupan nyatamu. Singkatnya, beautiful lies. Aku suka kutipan itu, entah dari mana dulu aku pernah mengutipnya.
"Ah, kau bilang itu," aku terkekeh. Kemudian dia juga ikut terkekeh.
"Jadi, dari mana kau berasal? Di dunia nyata tentunya." Dia lalu bertanya sambil sesekali menyeruput minumannya lagi.
"Indonesia."
"Oh, Bali, huh? Aku pernah ke sana."
Aku menatapnya, tentu saja, sebagian besar orang dari luar negeri sudah pernah berkunjung ke Bali. "Benarkah?" dia menangguk, "indah bukan?"
"Menakjubkan!" wajahnya berseri, mungkin sekarang dia sedang mengingat-ingat saat dia mengunjungi Bali, salah satu pulau yang paling terkenal di muka bumi. Dan juga merupakan daya tarik terbesar dari negara Indonesia.
"Kau harus pergi ke sana lagi suatu hari."
"Ya, tentu saja." Kemudian dia berdiri karena ada seseorang yang mengajaknya bicara. "Sebentar," ucapnya.
"Oke."
Tak lama kemudian Violet datang, menembus dari kerumunan yang berpesta memenuhi jalanan. Sama seperti saat dia pertama memanggilku di Lyon.
"Kukira kamu tidur," sambut setibanya dia di berada dekatku. Dia kemudian mengambil duduk di sebelah kananku.
"Orang macam apa yang bisa tidur pas ada suara-suara gempa kayak tadi?" dia manyun. Pertanyaanku memang sedikit konyol karena memang langkah kaki centaur yang tadi kami lawan terdengar sangat keras. Lagi pula penginapannya juga tidak terlalu jauh dari lokasi bar. Aku sempat bersyukur karena centaur itu tidak mampir ke penginapan dan menghancurkannya.
Aku terkekeh sambil mengacak-acak poni rambutnya yang dari dulu tidak berubah. Gaya model himiko namun hanya seleher dan poni depannya lebih panjang menyamping.
KAMU SEDANG MEMBACA
Project Legacy: Awakening
Bilim Kurgu[Proses Editing] [Sebagian bab sudah dihapus] [Buku pertama dari seri Project Legacy] [komplit] [sudah direvisi] ... Apa yang kau pikirkan ketika kau secara tidak sadar telah kembali dalam dunia virtualmu setelah dua tahun tak menyentuhnya...
