13 Agustus 2038
Malam tiba dengan cepat. Bulan terlihat begitu bulat jika dipandang secara telanjang mata. Putih, bahkan warna kelabu awan pun tidak dapat menghalanginya.
Seluruh anggota Seventh Heaven terkumpul di sepanjang garis perbatasan kota Istanbul. Kami berempat. Satu party yang tidak akan pernah bertarung bersama—setidaknya hanya Rion saja yang aku pikir akan bertarung sendirian, berdiri di barisan terdepan.
Malam ini sedikit lebih dingin dibandingkan malam-malam sebelumnya. Entah apa yang terjadi, tapi ini bisa saja berkaitan dengan boss kali ini. Cuaca dingin bukanlah cuaca yang aku favoritkan, aku justru membenci dingin. Flu, demam, dan lain semacamnya.
Dua puluh menit menunggu. Hari berlalu dan berganti, itu berarti kedatangan wave boss kali ini sudah semakin dekat kami rasakan. Entah kejutan apalagi yang akan diberikan pada boss yang akan kami hadapi kali ini, tapi dalam setiap wave, boss yang muncul semakin kuat dibandingkan sebelumnya.
Kutoleh sebelah kanan. Di ujung, Landar masih tetap diam tak berkutik, kapak besar yang ia letakkan berdiri dan ia pegang itu tidak bergerak sama sekali. Sebelahnya, ada Athena yang sedang berjongkok, perisainya ditaruh di depannya dan tombaknya ia taruh begitu saja di tanah. Berbeda saat aku menoleh ke sebelah kiri, kulihat Rion terdiam, sama seperti Landar, hanya saja dia berdiri melayang dengan santai, itulah yang membuat job Majestic terasa lebih istimewa dibandingkan job lain.
Hening.
Tak satu suara pun dapat mengalahkan suara napas yang dihirup.
Aku melirik tab party yang berada di sebelah kanan layarku, Athena dan Rion sama-sama ber-level 107. Landar 97. Sedangkan aku sendiri 93.
Aku kembali menoleh ke arah menara pengawas yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri, terlihat sedang mengamati sesuatu.
"Kontak! Tenggara!" teriak salah seorang pengintai, pandangannya terlihat kaget. Apakah kali ini wave boss benar-benar worth untuk dikalahkan? Kuharap begitu.
Gemuruh langkah kaki terdengar, mereka semua menuju kemari.
"Kontak! Timur laut!" suara dari kejauhan terdengar, apa ini berarti ada dua boss dalam wave kali ini? Ini benar-benar tidak terduga.
"Kontak hilang!" kedua pengawas itu berkata secara bersamaan. Entah itu guyonan tapi itu singkat sekali.
Ribuan suara langkah kaki itu terhenti. Mereka bingung. Kami berempat menoleh ke belakang memandangi para pemain yang juga kebingungan. Kami berempat pun bingung.
"Tetap tenang, prajurit!" suara yang kukenal itu berteriak, menggunakan sejenis pengeras suara. Semua pemain yang berada di situ menoleh ke arah sumber suara, begitu juga dengan kami berempat. Suara itu terdengar lagi, "bagi squad-nya! Separuh pertama bergabung denganku di tenggara, separuh lainnya bergabunglah dengan Pendatang Baru di timur laut."
Pendatang Baru? Sebuah panggilan yang tidak buruk, kurasa.
Setelah perkataan Sibal, semua orang secara otomatis terbagi menjadi dua kelompok. Perkataannya seolah sudah menjadi sebuah tugas mutlak yang harus dilakukan.
Kelap-kelip lampu mengalihkan perhatian kami, diikuti dengan aura yang tiba-tiba berubah menjadi suram. Kerikil-kerikil di sekitar kami bergerak, seolah ada jejak kaki besar dari kejauhan sebagai tanda akan kedatangan sebuah pasukan.
Seekor makhluk berwarna gelap muncul dari tanah, beberapa meter di depan kami. Mungkin itu boss-nya? Dia bahkan lebih terlihat seperti Grim Reaper. Tubuhnya seperti terbuat dari asap hitam yang pekat, bergabung membentuk sosoknya sekarang. Dia melayang di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Project Legacy: Awakening
Science Fiction[Proses Editing] [Sebagian bab sudah dihapus] [Buku pertama dari seri Project Legacy] [komplit] [sudah direvisi] ... Apa yang kau pikirkan ketika kau secara tidak sadar telah kembali dalam dunia virtualmu setelah dua tahun tak menyentuhnya...
