Chapter 10.3

758 61 0
                                        

Pemandangan serba hijau dengan kota yang cukup kecil. Tak beda dengan yang berada di dunia nyata. Ini justru lebih menarik jika terjadi Nation War di sini, dengan lapangan terbuka yang luas akan menjadi seperti peperangan sungguhan dengan skala yang besar.

Oh, benar juga, Nation War adalah peperangan antar Nation atau negara yang dibentuk atas kumpulan guild yang bersatu, ketika lebih dari dua guild mendeklarasikan aliansi, mereka dapat bersatu dengan mendirikan sebuah Nation. Nation sendiri dapat menampung hingga 10 guild. Dan memang benar, sekarang ini fitur Nation jarang digunakan, Nation hanya terkenal di kalangan guild-guild kecil daripada guild-guild besar. Maka dari itu jarang ada Nation War skala besar dengan jumlah pemain yang menarik.

"Ini indah, kan?" ucap Landar.

Athena mengangguk pelan sambil terus mengedarkan pandangannya ke seluruh area. "Yeah, sejauh mata memandang kau hanya bisa melihat warna hijau!" matanya berbinar memandang hamparan berwarna hijau di sekelilingnya. Kemudian ia menutup matanya, merasakan setiap udara kasat mata yang menerjangnya. Bisa kuakui, walaupun ini hanyalah kumpulan data, tetapi rasanya lebih nyata dari yang bisa kurasakan di dunia nyata.

"Ya, dan rasanya nikmat." Kulihat Rion tersenyum simpul untuk pertama kalinya sambil merasakan udara seperti yang Athena lakukan.

"Ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum," ucapku terheran-heran memandang Rion. Setelah ucapanku barusan, ia langsung mengganti ekspresinya menjadi ekspresi datar yang terkesan menyebalkan seperti biasanya.

"Ini bahkan bukan sebuah keajaiban jika aku bisa tersenyum, Blue," balasnya dengan nada sinis miliknya.

Seperti diorama yang terus berjalan di hadapanku, aku memandang mereka semua yang sebenarnya menikmati semua pemandangan yang sedang mereka lihat. Walaupun hanya Rion saja yang tidak mau menunjukkan hal tersebut di hadapan seseorang, bahkan mungkin dirinya sendiri.

"Hmm, apa namanya?" tanyaku kepada Landar.

"Apa namanya apa?" Landar bertanya balik dengan sebuah pertanyaan, ia terlihat seperti orang bingung dengan pertanyaanku.

"Seorang pemain?" kataku dengan nada menyindir.

"Oh," ia terlihat ingat sekarang, "seorang pemain yang bernama Auriel."

"Seorang perempuan?" tanya Rion.

"Aku tidak tahu. Dilihat dari namanya, itu bisa saja perempuan atau laki-laki," jelas Landar. Perkataannya cukup masuk akal, nama itu dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Dengan kata lain, nama itu uniseks.

"Jadi apa yang harus kita lakukan untuk menemukan orang ini, perempuan atau laki-laki, atau apa pun dia," ucap Rion, kali ini ia juga terlihat bingung namun juga terlihat tidak peduli.

"Ayo kita cari tahu." Dengan sebuah isyarat kami berjalan menuju kastel.

Tak terlalu lama, kami melewati beberapa bangunan-bangunan kecil karena ukuran kota ini relatif sangat kecil, mungkin masih belum dikembangkan oleh pemegang kotanya. Bangunan-bangunannya masih terlihat sederhana dan jarang, juga tidak padat.

"Di sini terlalu sepi," ucap Athena. Kulihat ia memandang sekitar dengan wajah yang sedikit bingung. Aku sendiri tidak begitu mengerti dengan perkataannya, ini terlihat normal-normal saja, kok.

"Apa? Apanya yang terlalu sepi?" Landar juga menoleh ke arah Athena lalu memperhatikan sekitar.

"Dia benar, di sini terlalu sepi." Rion menyanggah pernyataan Athena dengan sebuah anggukan sambil terus mengamati sekitar. "Tidak ada seseorang pun di sini," ia menambahkan.

Project Legacy: AwakeningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang