12 September 2038
Kemarin kuhabiskan memikirkan cara untuk mereka agar dapat membantu, meski aku tidak setuju dengan hal itu. Dan pada akhirnya aku harus menemui Casey untuk memikirkannya.
"Susah," katanya, memegang dagu sambil terus berpikir. Ia memandangi sekeliling ruangan yang kurang akan penerangan, kurasa dia terlalu banyak pikiran saat ini.
"Jadi gimana? Dia ngotot buat bantu, apalah, terserah jadi apa."
"Masukin lu aja susah. Awalnya gue harus diem-diem biar lu bisa masuk." Ia berpikir lebih keras, entah skenario atau ide apa saja yang sudah terlintas di otaknya, namun kurasa itu semua terlihat mustahil baginya, satu orang saja susah, apalagi empat.
"Jadi harus hati-hati, ya."
"Banget!" dia kemudian duduk di sofa, tidak ada orang lain lagi di sini, jadi kami bisa santai membicarakan hal seperti ini.
Cklek.
Pintu terbuka, pandangan kami berdua beralih pada pintu yang terbuka itu. Julian.
"Oh, kalian berdua," sambut Julian, ia terlihat cukup letih hari ini.
"Kebetulan sekali ada kau di sini." Casey menunjuk Julian yang baru datang dengan tangan kanannya.
"Ada apa memangnya? Kelihatannya penting sekali." Ia bertanya dengan antusias, letihnya terlihat hilang begitu saja ketika ada hal serius yang akan dibicarakan.
"Gue bisa jelasin kalo lu nggak keberatan." Aku memberikan tawaran kepadanya, aku merasa bersalah jika membebaninya seperti ini dengan pikiran-pikiran tentang semua hal ini.
"Oke, jelasin aja."
"Ada apa, Blue?"
"Entah bagaimana aku harus memulainya, tapi langsung ke intinya saja: aku mempunyai kelompok kecil yang terdiri atas lima orang termasuk aku. Casey tahu salah satu dari mereka, dan saat aku dan Casey bertemu, ia menawarkan untuk membantunya. Jadi setelah itu aku meninggalkan kelompokku agar mereka aman."
"Lalu, di mana letak masalahnya?" ia bertanya lagi sambil mengangkat bahu.
"Aku kemarin bertemu dengan mereka secara tidak sengaja. Dan aku terpaksa menjelaskan hal itu kepada mereka," lanjutku menjelaskan.
Julian diam sebelum menanggapi. "Aku mengerti. Meski kau tidak seharusnya menjelaskan itu karena kita ini adalah organisasi yang tidak nyata di mata mereka." Betul, memang benar jika Uprising Force ini adalah suatu hal yang seharusnya tidak nyata.
"Aku minta maaf untuk itu, tetapi masalahnya bukan di situ. Mereka ingin masuk ke dalam organisasi."
Julian kembali mengangguk-angguk dengan khas. "Itu sangat kebetulan jika mereka ingin masuk ke dalam organisasi, tapi tidak benar-benar masuk, sih."
"Apa pun itu tidak masalah, mereka mau jika hanya sekadar membantu saja, anggota tidak resmi pun mungkin bukan masalah untuk mereka."
"Bisa kuusahakan, kebetulan kita memang sedang butuh anggota, jadi mereka masih mengisi posisi kosong tersebut. Dan ini kabar baik yang ingin kusampaikan kepada kalian, kita bisa menemui mereka akhir pekan ini. Jadi kau bisa membawa keempat temanmu ini untuk menemui mereka. Bilang saja kita akan bertemu di sini pada hari Sabtu sore. Setelah semuanya berkumpul kita akan ke lokasi pertemuan."
"Di sini? Kau yakin?" tanya Casey, ia menatapku dan Julian secara bergantian.
"Ya, jika kau keberatan kita bisa mengganti tempatnya, asumsiku adalah kau juga mempercayai temannya temanmu, C."
"Oke, aku tidak mempermasalahkan itu jika Blue mempercayai mereka. Dan, oh, kebetulan sekali, bagaimana kau menghubungi mereka? Tidakkah susah melobi mereka?" tanya Casey dengan wajah sedikit lega, seperti masalah yang ia hadapi sudah berkurang sedikit.
"Tidak, salah satu dari mereka adalah saudaraku, jadi aku bisa mendapat informasi lebih dan kemudahan untuk itu."
"Hmm, baguslah kalau begitu," timpal Casey.
"Kukira masalah ini sudah selesai. Dan oh, aku permisi, aku mau istirahat. Hari ini sangat melelahkan, dan kita harus bersiap untuk Boss Wave besok, jadi bersiaplah untuk nanti."
Setelah kalimat terakhirnya, Julian mulai beranjak dan ke arah lorong.
"Oke, istirahatlah." Casey membalas sebelum Julian benar-benar hilang memasuki lorong dan hilang dalam gelap.
"Hmm, cukup mudah jika memiliki orang kayak dia, kita sangat beruntung."
"Ya, tapi cukup inget satu hal, jangan percaya siapa pun di dunia ini." Mungkin itulah hal yang akan kuingat darinya.
Setelah kabar dari Julian, sekarang aku hanya harus menghubungi Avery untuk pertemuan itu. Sebenarnya aku tak ingin menghubunginya, tapi aku tidak bisa terus mengecewakannya seperti terakhir kali. Ini dilema.
Sebuah PM singkat kukirim untuk Avery, dan sebuah balasan cepat kudapatkan. Ia mengiyakan pertemuan kami besok.
--
KAMU SEDANG MEMBACA
Project Legacy: Awakening
Science Fiction[Proses Editing] [Sebagian bab sudah dihapus] [Buku pertama dari seri Project Legacy] [komplit] [sudah direvisi] ... Apa yang kau pikirkan ketika kau secara tidak sadar telah kembali dalam dunia virtualmu setelah dua tahun tak menyentuhnya...
