Chapter 06.6

781 63 0
                                        

Inilah pertandingan yang kunanti.

Aku tidak dapat berharap lebih banyak seperti saat aku memenangkan semifinal tanpa rencana yang berarti. Aku justru hampir kalah di sana, untungnya Athena menyelamatkanku tepat waktu.

"Lima menit, kawan." Quincy kembali naik ke atas panggung, ia bahkan terlihat lebih bersemangat dibandingkan kami yang akan bertarung.

"Apa kau punya rencana?" Athena bertanya, aku menoleh kepadanya sambil tersenyum.

"Tidak ada rencana mulai dari sekarang. Tidak ada gunanya."

Dia kembali bersandar pada kursinya, meminum sesuatu yang bahkan aku tak tahu apa namanya itu.

"Apa kau pernah melawan mereka sebelumnya?"

"Coba kulihat," ia kemudian membuka menu kompetisinya. "Hmm, Radius dan Landar. Radius adalah bajingan yang kuat," dia tertawa ketika melihat detail statusnya, kemudian beralih ke lainnya. "Tapi Landar, aku tak tahu tentang dia. Sepertinya dia baru seperti kau."

"Oke," aku memberi jeda pada kalimatku. "Tipe elemen apa yang ia pakai?"

"Elemen?" dia mengulangi pertanyaanku, aku mengangguk. "Uh, kurasa api."

"Baiklah kalau begitu, gunakan senjata berelemen petir untuk jaga-jaga."

Dia menaruh minumannya, lalu memandangku dengan senyuman.

"Kejutan apa lagi yang akan kaubuat kali ini?" dia tersenyum dengan pandangan ingin tahunya.

Aku menatapnya balik, dan terkekeh. "Pakai saja, kau akan tahu nanti."

"Oh~ sekarang kau berlagak seperti orang misterius." Dia tersenyum dan bersandar di kursi, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.

"Benarkah?" aku terkekeh mendengarnya.

Ocehan Quincy di atas panggung bahkan tidak kami berdua hiraukan. Kami terlalu santai untuk ukuran finalis kompetisi bulanan.

Radius, dia orang yang kukenal dulu, setidaknya hanya namanya. Aku pernah bertemu dia di kejuaraan tahunan saat aku masuk sepuluh besar. Dia mendapat posisi kedua kalau aku tidak salah ingat. Dia lebih muda dariku dan juga lebih hebat dariku.

"Ini sudah lima menit, Waktu istirahat kalian sudah habis. Oke, inilah saatnya! Ini puncak acaranya!" Dengan sedikit tarian konyolnya, sebuah lampu hologram menyala, menerangi jalan kami dari stan menuju arena. Ini sungguh terlihat seperti kami berdua adalah bintang dari sebuah acara, atau katakan saja, artis dadakan.

Aku hanya sedikit ingat bagaimana cara bertarung Radius, itu pun aku hanya menyaksikannya saja dari bangku penonton.

Kami, empat petarung menaiki arena, saling menghadap satu sama lain.

Aura berubah seketika, bahkan Quincy tidak berkata apapun. Ini seperti kami adalah musuh bebuyutan yang bertemu untuk ke sekian kalinya di medan pertempuran. Pandangan mata kami bertatap tajam satu sama lain selama hampir tiga menit.

"Apa kalian sudah selesai dengan adegan saling menatapnya?" suaranya sedikit terdengar bingung. "Baiklah, ini terlihat sedikit aneh."

"Oke, ayo kita mulai," ucap Radius yang tersenyum dengan percaya diri. Ia mengambil beberapa langkah mundur di belakang Landar, ia mengambil sepasang pedang kembarnya yang aku bisa lihat itu adalah katana.

Aku tahu, dia mungkin adalah salah satu Warrior dengan kecepatan yang luar biasa, mungkin terbaik yang pernah kulihat secara langsung. Dan sekarang, dia akan melawanku di atas arena, hari ini, malam ini.

Project Legacy: AwakeningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang