Chapter 14.3

676 56 0
                                        

Dengan sedikit kerja keras, aku akhirnya sampai di tempat yang kutuju. Sekarang masih pukul tiga sore, hanya beberapa jam lagi sebelum aku dapat melihat matahari terbenam. Dugaanku meleset karena aku menargetkan untuk tiba di sini sekitar jam empat atau lima, rupanya berkelilingku kurang lama.

Hawanya semakin dingin di bahu gunung seperti ini, aku sedikit menggigil, hoodie dan syal kupasang ketika aku tiba di sini tadi, namun itu ternyata tidak membuat banyak perubahan ketika udara berhasil mengalahkanku.

Aku keluar dari gua yang merupakan tembusan sebuah dungeon. Matahari sudah turun hingga setara kepala saat aku berdiri di mulut gua, warnanya cukup indah meski belum benar-benar memasuki waktu untuk terbenam. Kuning sayu yang tertutup awan yang tidak terlalu tebal, untung saja ini belum memasuki musim salju karena mungkin aku akan sangat kedinginan di sini. Meski tidak akan merasakan sakit, namun rasa dinginnya terasa nyata.

Satu hal yang berbeda dengan tempat ini ketika aku keluar gua. Tempat kecil di pinggir tebing ini dulunya dipenuhi rumput-rumput liar, sekarang terlihat sedikit berbeda. Rumputnya sudah hilang, dan di ujung-ujung tebingnya diberi pagar kecil. Adakah orang lain yang pergi kemari? Terakhir aku kemari itu sudah hampir tiga tahun lalu ketika aku pensiun bermain VRO. Aku penasaran. Siapa orang yang mengetahui spot ini? Atau jangan-jangan developer memberi tempat kecil ini sedikit perawatan? Itu terdengar kurang dapat dipercaya.

Ah, kalaupun ini adalah 'ulah' seorang pemain, aku juga tidak akan keberatan. Toh, tempat ini milik umum, semua orang bisa mengubahnya jika mereka ingin. Tidak ada yang ingin kulakukan sekarang, hanya diam dan menunggu, seperti dulu ketika aku menunggu matahari terbenam, aku juga tidak melakukan apapun hingga waktunya tiba.

Aku mengeluarkan pemutar musik yang akhir-akhir ini jarang kupakai. Musik yang kudengarkan masih sama seperti beberapa waktu lalu, biasanya jika senggang atau sudah bosan mendengarkan lagu itu-itu saja aku akan mencari lagu baru yang belum pernah kudengar—bukan baru seperti baru rilis, namun lebih ke baru di telingaku.

Memilah lagu dan aku menemukan lagu yang sudah jarang kudengar. Play.

Aku ingin melepaskan beban sejenak dengan cara berbaring di tanah dingin ini. Aku ingin bebas untuk sesaat. Tidak ada siapa pun yang dapat menggangguku saat ini, interupsi adalah hal yang akan kuabaikan sekarang—setidaknya biarkan aku merasa nyaman untuk sementara waktu, nyaman dengan caraku sendiri menikmati dunia.

"Ah..." udara kuhirup dalam-dalam, sedalam yang ku bisa hirup ke dalam paru-paru digitalku. Jika di dunia nyata, aku takkan bisa menghirup sebanyak ini, haha. Aku ingin memejamkan waktu untuk sejenak, bermimpi sesuatu yang ingin kucapai: keluar dari dunia ini dengan hidup-hidup.

Selama sekitar hampir satu jam selanjutnya aku memejamkan mata, bermimpi lewat pikiranku namun tidak tidur. Dan di saat itu, aku tahu ada seseorang yang sedang berdiri di mulut gua. Aku membuka mata dan bangun.

"Aku selalu bertanya-tanya kapan kamu kemari." Suara yang hilang selama beberapa bulan dalam pikiranku, suara yang menjadi motivasiku mengikuti segala macam hal ini. Suara yang selama ini aku cari dan kejar.

Aku menoleh sambil menebak-nebak semoga dia adalah dia yang kupikirkan.

Momen yang sama kembali terjadi ketika aku pertama kali bertemu dengannya di game ini, wajah yang tertutup jubah bercorak tribal. Kali ini sama, hanya saja ditambah dengan siluet cahaya yang menghalangiku untuk dapat benar-benar melihatnya.

"Violet?" tanyaku dengan suara lirih, tanganku terangkat horizontal tepat setara dengan dahiku namun aku masih tak bisa memandangnya.

Dia diam tidak menjawab, aku masih mematung di tanah dingin ini. Masih susah untuk otakku mencerna apa yang sedang terjadi.

Project Legacy: AwakeningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang