Chapter 09.5

650 66 0
                                        

Tidak ada hal menarik yang terjadi sepanjang perjalanan yang cukup lama itu. Dia hanya berpesan untuk tidak menyebutkan nama atau mengeluarkan senjata. Itu saja. Aku sendiri tidak banyak bertanya dengan rencananya.

Jalan menuju Danderius Lake cukup jauh jika ditempuh lewat darat, terutama hanya dengan mount darat yang tidak begitu bagus dalam hal kecepatan.

Tengah malam sudah lewat terlalu jauh. Hawa semakin dingin menusuk tulang. Penyempurnaan indra-indra di dunia ini tampaknya sudah semakin mendekati kata sempurna. Bahkan bau tanah yang terkena hujan pun sekarang bisa kucium aromanya. Petrichor.

Casey tiba-tiba saja berhenti. Memberi sebuah isyarat untuk turun dari mount yang kami tunggangi. Aku turun, begitu juga dengannya.

"Masukin mount lu, kita jalan dari sini," ucapnya. Entah mengapa, tetapi aku dapat mengatakan bahwa dia terlihat sangat waspada.

Ia lalu mengeluarkan sebuah item. Item yang jarang kudengar namanya: Voice Changer.

"Pake ini." Dia kemudian memberikan item yang berbentuk seperti microphone itu. Ia menaruh benda itu di sekitar leher, tertempel begitu saja secara otomatis. Aku pun juga memakainya.

"Tes."

Suaranya berganti. Kini aku tidak mengenalinya secara keseluruhan jika seperti ini.

"Tes," ucapku mengikuti. Suaraku juga berubah.

"Inget, gue cuma bisa memperingatkan lu kali ini aja, di sana nanti mungkin bakal ada pertarungan tak terduga. Selama itu, lu jangan sekalipun ngeluarin senjata lu." Kali ini aku mendengarnya berbicara seserius ini, raut wajahnya tak bisa kulihat, namun ucapannya dapat meyakinkan aku bahwa dia sangat serius dan sekaligus khawatir. "Dan sekali lagi, lu nggak boleh ngeluarin emosi. Jaga emosi lu!"

Aku mengangguk setelah kalimatnya selesai.

Kemudian kami berjalan menuju danau yang dimaksud, danau itu tidak terlalu jauh dari sini, cukup bisa kulihat dengan jelas namun keberadaan Walnut masih tidak bisa kulihat.

Jalan kami sepi, tak banyak hewan non-monster yang berkeliaran di sekitar sini. Itu merupakan hal yang biasa terjadi di sini karena memang dari dulu tidak banyak hewan yang bermain di sekitar danau ini. Sepi, hanya serangga-serangga kecil saja yang terlihat tanpa suara.

Setelah mencapai tempat itu, hal pertama yang kukunjungi adalah pohon yang menjadi tempat favoritku. Pohon yang selalu menjadi tempat pertama untuk memejamkan dan membuka mataku di dunia ini.

Seperti dugaanku. Walnut duduk di bawah pohon itu, mencuri spot-ku. Aku tidak pernah menyadari bahwa ia mengetahui banyak tentangku walaupun aku sendiri tidak pernah menyebutkan tentang tempat ini, sejauh yang kuingat hanya Casey saja yang pernah kuberi tahu.

Oh, ini sedikit menjelaskan rencana Casey setelah berpikir dengan semua yang kulihat sekarang.

"Walnut," ucapku menyambut dia.

Ia berdiri.

"Akan kubuat ini cepat," ia memandang kami berdua secara bergantian. "Tentang ketujuh guild..." ia terlihat sedikit bingung "... mereka berhubungan satu sama lain." Kata-kata yang seharusnya sudah kuduga sebelumnya, oleh karena itu aku tidak begitu terkejut mendengarnya. Tetapi tetap saja, mendengarnya masih terasa surreal.

"Dan?"

"Ada anggota baru di setiap guild, di waktu yang hampir bersamaan, bergabung dengan guild dan menjadi Guild Master, kecuali satu." Kalimatnya terhenti cukup lama, mungkin ia berpikir dengan kata-kata yang akan ia ucapkan. Aku pun juga sedang menanti dengan satu guild yang tidak mengganti Master-nya. "Olympus: Tiberius. Golden Ink: Lemon. Euronesia: Reed. Eternality: Misaki. Seventh Heaven: Sibal. Necromancer: Alistya. Aurora: Gabrielle."

Project Legacy: AwakeningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang