Aku berjalan memasuki kastel guild. Hiruk-pikuk kegiatan anggota-anggotanya kembali sibuk, tak jarang kulihat NPC juga keluar-masuk dan berkeliaran di sini. Ada apa?
Ketika aku melewati aula besar dan berbelok menuju koridor, Athena, Landar, dan Rion terlihat. Mereka memanggilku.
"Blue!" aku hampir tak menyadari keberadaan mereka, berhenti dan berbalik arah.
"Ada apa?" tanyaku. Aku memasang wajah datarku seperti biasanya, tidak banyak ekspresi.
"Guild Master memanggil kita—"
Aku memotong Athena dengan cepat, "aku tahu." Aku kemudian mengarahkan tatapanku ke Landar. "Tentang apa?"
Athena langsung terdiam seribu bahasa.
"Sebuah misi, seperti biasa," Landar menjawab. "Ayo."
Kemudian ia mulai berjalan terlebih dahulu dengan isyarat mata, aku dan Rion kemudian mengikutinya, dan Athena yang terakhir.
"Ini minggu keempat, misi rutin kita seharusnya sudah selesai pada minggu kedua dan ketiga," ucapku mengawali kembali pembicaraan. Tak banyak gerakan yang Landar buat, justru lebih terlihat seperti tidak tahu, sama seperti Rion.
"Aku benar-benar tidak tahu. Tapi aku berpikir bahwa ini sangat penting jika dia memanggil kita hanya untuk sebuah misi," ucapan Landar barusan memang terdengar wajar, tapi mungkin itu hanya dugaannya saja. "Guild Master sering memberikan perintah dadakan ketika itu harus segera diselesaikan, itulah apa yang mereka katakan." Mereka, mereka yang Landar maksud adalah mereka anggota baru.
"Ini menggangguku." Ucapan Rion barusan membuat ketiga dari kami menoleh melihatnya. "Apa?" lanjutnya disertai sebelah alis yang naik. "Aku butuh waktu luang juga, seperti kalian semua." Pandangan kami lepas lagi dengan cepat, kami sudah berada di depan ruangan yang kami tuju.
"Di sinilah kita, apakah kalian sudah siap?" ucap Landar, memandang kami seolah kami akan memasuki sebuah pertandingan besar. Dengan senyumannya, ia membuka pintu ganda yang besar itu.
Rembetan cahaya dari dalam ruangan tersebut sedikit demi sedikit mengisi celah yang terbentuk seiring pintu ganda itu dibuka. Kuhalangi cahaya silau itu dengan mengangkat tangan kananku tepat di depan wajahku, membentuk siluet.
Seperti biasa, Sibal duduk di kursinya sambil memandangi apa saja yang ada di atas mejanya.
Kami berempat maju memasuki ruangan, berdiri berjajar seperti akan mengikuti sebuah upacara.
"Aku tidak akan membuang waktu kita di sini, jadi aku akan langsung pada intinya." Ia membuka pembicaraan. Ia menaruh kedua tangannya di meja dan menautkan tangannya di depan bibirnya. "Aku punya sebuah misi untuk kalian semua, sebagai sebuah tim." Dia kemudian menyodorkan selembar kertas dan sekantung kain yang aneh yang ada di mejanya. "Sebagaimana aku memberikan misi ini, aku memilihmu, Landar, untuk menjadi pemimpin pada misi kali ini. Sekarang kau boleh ambil ini dan pergi."
Landar kemudian maju untuk mengambil selembar kertas itu dan juga item yang berada di sebelahnya.
"Ada pertanyaan yang berhubungan dengan misi ini?"
Landar membaca sejenak sambil mengamati kertas itu dan sepertinya mengerti dengan cepat, kemudian ia menggeleng. "Tidak, Master." Ia melipat kembali kertas itu lalu berbalik dan memberi isyarat kepada kami untuk keluar.
Kami berempat keluar. Hmm, itu sangat singkat sekali.
"Apa itu?" Athena tiba-tiba nimbrung ke arah Landar.
"Aku tidak tahu. Di sini tertulis 'Legacy Shards'," ucapnya, lalu ia mengeluarkan item aneh itu dari inventory-nya dan memperlihatkannya pada kami bertiga. "Aku tidak pernah melihat item seperti ini sebelumnya," tambahnya.
Di antara kami berempat, sepertinya hanya aku saja yang curiga dengan item itu.
"Jadi, misinya..."
"Oh, benar," ia kemudian membuka kembali selembar kertas yang ia lipat tadi. "Misi ini diberi kode nama: Post. Keempat dari kita disuruh untuk memberikan item ini kepada seorang pemain tertentu pada lokasi yang telah ditentukan."
"Ke mana?" Rion bertanya, Landar kemudian memandangnya secara spontan dengan wajah datar sebelum kemudian kembali pada kertas itu.
"Uh, di suatu tempat di Iceland?" wajahnya tampak bingung dengan kalimatnya sendiri.
Rion bertolak pinggang, gerakan tubuhnya sedikit menegang dan memberi kesan terganggu. "Di suatu tempat?"
"Apa mereka tidak bisa mengirimkannya melalui PM saja? Ini masih termasuk item, kan?" tanyaku sembari mengangkat bahu. Kalau dipikir-pikir memang sedikit janggal jika tidak dikirim melalui PM.
Mereka tampak berpikir setelah kata-kataku barusan. Athena mengangguk-angguk dengan tangannya terangkat memegang dagu layaknya orang yang sedang berpikir, sedangkan Rion hanya memantapkan tangannya yang ia letakkan di pinggul.
"Mungkin ini tidak bisa dikirim?" Landar bertanya balik dengan sebuah pernyataan. Itu mungkin saja, namun menurut sepengetahuanku, item yang tidak dapat dikirim hanya quest item, item yang tidak lain diberikan oleh NPC pada sebuah quest yang diambil. Dan untuk kasus ini tidak mungkin kami disuruh memberikan quest item tanpa mengambil quest dari NPC yang bersangkutan. Singkatnya, quest item tidak bisa diserahkan ke player lain kecuali yang mengambil quest itu.
"Itu bisa saja, tapi tidak logis di dunia ini," aku menolak pernyataannya. "Coba kirimkan itemnya padaku." Aku memberi ide.
Landar kemudian menggerakkan tangannya ke sana dan kemari. Di akhir, ia mengernyit.
"Tidak bisa," katanya, "ini aneh."
"Nah, kalian, ayo kita pergi ke Iceland terlebih dahulu, kemudian kalian bertiga bisa melanjutkan berdebat tentang hal ini." Rion sedikit keki dengan perkataannya, namun itu benar juga jika misi ini memang benar-benar urgent, maka misi ini harus segera diselesaikan dengan cepat.
Aku tidak berpikir lebih panjang mengapa item tersebut tidak bisa dikirim melalui PM.
"Ah, itu benar!" Athena memecah kecanggungan ini dengan suaranya yang keluar dengan tiba-tiba serta sebuah ketukan jari. Rupanya di antara kami berempat, Rion masih sama seperti saat kami baru mengenal. Yah, walaupun hingga saat ini kami tidak terlalu mengenal dengan baik karena jarang bertemu, mereka juga pasti sibuk dengan misi-misi yang diberikan oleh Guild Master.
Dengan ini kami berempat pergi ke pusat kota dan berteleportasi ke Iceland.
--
KAMU SEDANG MEMBACA
Project Legacy: Awakening
Science Fiction[Proses Editing] [Sebagian bab sudah dihapus] [Buku pertama dari seri Project Legacy] [komplit] [sudah direvisi] ... Apa yang kau pikirkan ketika kau secara tidak sadar telah kembali dalam dunia virtualmu setelah dua tahun tak menyentuhnya...
