Athena sudah selesai mempersiapkan strategi untuk kali ini, dia akan maju mendekati secara perlahan ketika Grim kembali muncul, ketika Grim sudah berada dalam jarak serangnya, ia akan menangkis serangan dengan tambahan buff yang dimiliki oleh Lancer dan Bard yang merupakan anggota guild. Itu karena aku dan Athena sendiri tidak yakin kalau dia akan bertahan dengan serangan Grim tanpa buff pertahanan.
Tak lama, Grim kembali muncul. Adrenalin para pemain kembali meningkat seiring asap yang melengkapi tubuh Grim.
Langkah pertama, Athena menggunakan skill aggro-nya untuk menarik perhatian Grim. Setelah berada dalam jangkauannya, Athena kini mengubah gaya bertarungnya menjadi bertahan.
Selanjutnya, sembari Landar dan Rion bersiap, Bard memberikan Athena beberapa buff untuk meningkatkan pertahanan, namun sebelum Bard memberi skill itu, Athena menggunakan skill ultimate-nya yang berupa invincible selama sepuluh detik agar segala serangan tidak akan berpengaruh padanya. Grim menyerang Athena sesuai rencana, ketika skill invincible milik Athena akan habis, secara bersamaan Bard memberinya buff pertahanan dan Athena menggunakan sebuah skill lain yang berupa serangan beruntun untuk menciptakan combo, tujuannya untuk menyerang bagian yang dimaksud Landar—semacam kalung yang berada dibalik jubahnya. Athena harus berhati-hati agar dapat mengenainya.
Beberapa kombinasi serangannya meleset, namun Athena mampu menutupinya dengan mengeluarkan chain-skill dengan cepat dan beberapa serangan mengenainya. Seperti dugaan Landar dengan kelemahannya, Grim menampakkan wujud fisiknya ketika serangan Athena mengenai kalungnya.
Charge penuh yang sudah terisi kulepaskan, sebuah skill yang jarang kugunakan saat hunting karena aku tidak terlalu memfavoritkan elemen air. Anak panah kulepaskan tepat ketika Grim menampakkan fisiknya, tepat ketika anak panah akan mengenainya, kuaktifkan skill yang aku maksud: Ice Spark. Anak panahku terpecah menjadi air dan dengan efek glyph yang terpasang, air itu berubah dengan cepat menjadi es. Grim dengan wujud fisiknya membeku.
Sebuah aba-aba kuberikan pada Rion untuk menyerang. Dengan beberapa gerakan unik dia berlenggang seperti menari, sebuah pusaran yang berpusat pada Grim tercipta, pusaran ini tidak wajar seperti biasanya, pusaran yang berdiameter beberapa meter itu mengeluarkan sebuah aura yang berbeda dibandingkan dengan luarnya, seperti gravitasi yang berbeda tercipta di dalam pusaran itu. Warna ungu transparan, gerakan di dalam pusaran itu melambat. Ini yang membuat Majestic terlihat begitu istimewa, skill yang dimiliki Majestic tidak dibatasi waktu, merekalah yang membatasi skill semau mereka, dan tentu saja, batasnya hanya hingga MP (Mana Point) mereka habis. Inilah skill untuk mendukung rencana kali ini.
"Tahan!" teriakku pada Rion. Karena dia mempunyai level yang cukup tinggi, kukira dia akan bisa menahan skill-nya hingga beberapa puluh detik, mungkin tiga puluh detik maksimal.
Langkah inilah yang menentukan. Kulambaikan tangan untuk Sniper yang berada di atas menara.
"Kalungnya!" teriakku sambil membuat gerakan yang menunjukkan kalung yang dikenakan Grim.
Walaupun secara kasat mata ia mengerti—Sniper itu—dan menembakkan sebuah senapan dengan jarak yang cukup jauh dengan susah payah, menentukan jarak dan arah angin serta gravitasi. Semakin jauh jarang yang tercipta dari penembak ke sasaran, damage yang dihasilkan akan semakin besar, terlebih jika itu adalah critical hit. Tembakan pertama juga merupakan hal yang istimewa bagi Sniper.
Dia terlihat begitu serius saat akan menembak, ia mengambil napas panjang agar pegangannya tetap terjaga seimbang.
Beberapa detik berlalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Project Legacy: Awakening
Ciencia Ficción[Proses Editing] [Sebagian bab sudah dihapus] [Buku pertama dari seri Project Legacy] [komplit] [sudah direvisi] ... Apa yang kau pikirkan ketika kau secara tidak sadar telah kembali dalam dunia virtualmu setelah dua tahun tak menyentuhnya...
