Chapter 02.2

2.9K 173 1
                                        

Aku berbaring di atap sebuah penginapan yang aku sewa bersama Violet—dan tentunya, dengan dua kamar yang terpisah. Aku mendengarkan musik dari sebuah player melalui earphone yang kukenakan. Lagu-lagu klasik yang akhir-akhir ini sedang kusukai. Pikiranku sedang membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi jika terjebak di dalam game seperti cerita klasik anime yang dulu pernah diputar di televisi. Ini semua terlalu mendadak. Setidaknya, biarkan aku menyelesaikan kuliahku dulu, huh?

Bagaimana jika semua ini menjadi kenyataanku? Hingga akhirnya tubuh fisikku sudah tidak kuat lagi dan aku akan mati. Begitu saja? Ah, banyak sekali hal yang ingin aku lakukan di luar sana.

"Lagi ngapain?" tiba-tiba saja Violet merayap naik ke atap menggunakan sebuah tangga. Aku tidak menjawabnya, hanya melepas earphone yang terpasang di telinga sebelah kanan selagi melihatnya ikut merebahkan tubuh dan memandang apa yang kupandang: langit. Langitnya memang sedang terlihat indah, seolah nyata... padahal tidak.

"Pandanglah. Apa yang kita lihat ini tidak lebih dari sekadar ilusi yang dihasilkan oleh sebuah data." Dia terdiam sambil memandangi langit malam yang dinginnya terkadang menghampiri.

"Setidaknya banyak orang yang hidup lebih bahagia di sini dibandingkan di dunia nyata. Bukankah kamu juga kayak gitu?" itu memang benar, hidup di dunia ini memang lebih mudah dan lebih menyenangkan jika harus dibandingkan dengan dunia nyata yang kau tahu seperti apa. Berbagai konflik mudah muncul. Politik. Ekonomi. Semua selalu tentang uang. Sistem yang rusak. Itulah kehidupan, kau tidak akan pernah bisa hidup tanpa sebuah sistem yang mengikatmu.

"Yah, aku nggak bisa bilang kalau aku nggak setuju." Aku lalu menyodorkan earphone yang kulepas sebelah pada Violet, dia memakainya dan mendengarkan apa yang sedang kudengar.

"Mmm. Lagu klasik." Dia mengucapkan itu setelah mendengarkan beberapa detik.

"Lagu klasik memang yang paling terbaik," komentarku.

"Kupikir kamu tidak suka lagu-lagu seperti ini," dia beralih memandangku.

"Akhir-akhir ini aku mengganti selera musikku, mencoba menyukai apa yang aku benci," aku bangun, duduk bersila kemudian memandangi Violet yang masih terlihat santai. "Kenapa kamu tidak istirahat? Atau tidur?"

Dia menggeleng dan mengernyitkan dahinya secara bersamaan, "aku tidak bisa tidur dan tidak tahu pasti kenapa." Benar, aku pun juga begitu, tidak tahu pasti apa yang sedang kupikirkan. Aku ambil kesempatan ini untuk memancingnya ke topik pembicaraan yang selama ini ingin kubicarakan dengannya.

"Apa? Rindu dengan pacarmu di dunia nyata yang tidak bermain VRO?" aku terkekeh sambil melihatnya sesekali.

Violet manyun lagi. "Aku tidak punya pacar, tau!" dia bangun kemudian memukul lemah bahu kananku. Benarkah itu? Atau dia yang berbalik memancingku? Itu jawaban menjebak. Tapi dilihat dari ekspresi dan nada bicaranya, dia memang jujur. Dia tidak bisa menipuku dengan ekspresi yang dibuat-buat. Setidaknya, dia memang tidak pandai berbohong sejak dulu.

"Oh? Selama aku mengenalmu, kamu tidak mempunyai pacar?" aku kembali meledeknya lagi. Dia semakin manyun. Duh, aku suka sekali melihat ekspresi wajahnya saat ini.

Tiba-tiba dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius, dan entah mengapa sekaligus terlihat sedih. Pembicaraan ini tiba-tiba saja menjadi pembicaraan pribadi yang aku tidak tahu ke mana arahnya. "Pernah, sekali. Tapi itu tidak berhasil." Oh, jawaban macam apa yang dia berikan? Ini bukan drama percintaan di mana sang gadis patah hati. Rubah alurnya!

"Ah, tidak usah dipikirkan," dia menoleh ke arahku, sedangkan aku tetap menatap langit malam. Tangan kiriku terangkat ke atas, menunjuk sesuatu yang tidak pasti. "Aku yakin kamu pasti dapet pacar yang sepadan sama perjuanganmu." Aku tidak tahu harus berkata apa, tiba-tiba saja aku menjadi melankolis, atau... masokis?

Project Legacy: AwakeningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang