28 Juli 2038
Memulai perang dunia ketiga—atau lebih tepatnya perang dunia maya pertama itu bukanlah hal yang sepele, kebenaran bahwa ketika HP-mu mencapai angka nol kau akan mati dan tidak lagi di-respawn seperti game RPG pada umumnya itu menjadi kendala utama para pemain, dan kau juga akan merasakan ketakutan yang tidak wajar seperti biasanya. Karena singkatnya, perang di dunia maya ataupun dunia nyata itu sama saja. Ketika mati, di situlah petualangan berakhir.
Hanya perlu beberapa langkah lagi untuk mewujudkan perang itu, tapi pada dasarnya tanpa adanya Kaum Pemberontak pun atau yang bisa disebut dengan Uprising Force atau The Resistance, perang itu akan tetap berlangsung.
Hal pertama yang harus aku lakukan adalah memastikan tentang kabar guild yang kudengar dari Kyle. Di mana aku perlu mendapatkan informasi itu? Jawabannya hanya ada satu: Walnut.
Aku bahkan tidak perlu mengiriminya pesan untuk dapat bertemu dengannya, karena dasarnya aku hanya tinggal mampir di Arcelius Cafe. Sudah pasti dia berada di sana. Dan mungkin kalau aku mengiriminya pesan, dia akan menghindar, karena, kau tahu, sekarang informasi sudah tidak gratis lagi.
"Nanti temenin gue ke suatu tempat abis kita ke markas yang lu sebutin," ucapku pada Casey yang berjalan sedikit di belakangku, tanpa melihatnya.
"Ke mana?" tanyanya.
"Ikut aja, nanti juga tau sendiri," jawabku acuh. Aku memang tidak bisa fokus bertemu Kaum Pemberontak saat ini, aku hanya memikirkan tentang Violet dan guild-guild itu.
"Hmm."
Tak lama berjalan, kami berdua tiba di tempat yang dibicarakan oleh Casey pada hari sebelumnya. Tempatnya cukup bagus digunakan sebagai markas karena bangunannya dibuat sedemikian rupa hingga terkesan menyatu dengan sekitarnya. Sebuah benteng tak terlihat.
Dia mempercepat jalannya ketika akan sampai di depan pintu utama rahasia yang aku tidak menyangka bahwa itu adalah pintu masuk.
"Tempat ini cuma buat orang-orang penting aja," ucapnya. Kami memasuki lorong yang cukup sempit dan gelap di sana. "Jadi di sini cuma ada segelintir orang aja," lanjutnya, kemudian dia berhenti tepat sebelum percabangan jalan di depan kami. "Cuma petinggi yang berkepentingan dan anggota guild-ku yang menjadi pemberontak."
Aku sedikit terpancing pada akhir kalimatnya, aku tepuk bahunya dan berhenti berjalan "Apa nggak bahaya bawa anggota? Gimana kalo salah satu dari mereka itu ternyata mata-mata?" tanyaku curiga. "Lalu apa nggak ada kegiatan guild?" lanjutku.
"Tenang aja, lu nggak usah khawatir gitu." Dia tersenyum menoleh ke arahku dan melanjutkan langkah kakinya. Di sini memang gelap, namun dia terlihat hafal betul ke mana langkah kaki itu ia bawa.
"Yakin?"
Dia mengangguk. Memang, sih, dia orang yang sangat teliti, tapi tidak mungkin kalau dia tidak pernah kecolongan, pasti ada celah yang bisa terlihat.
"Hmm."
Tak lama berjalan di lorong gelap yang lebih seperti labirin itu, di ujung kami menemukan sebuah pintu kecil, itulah pintu masuk sebenarnya, bukan yang ada di depan tadi. Rupanya dia membuat bangunan ini dengan cukup matang. Jika hanya tahu pintu masuknya saja pasti akan sia-sia, karena ada labirin di dalamnya.
Pintu kecil itu dibuka, ada beberapa orang di sana. Orang yang tidak kukenal sama sekali, bahkan satu dari mereka pun tidak ada yang kukenal.
"Yo!" Casey melambai pada mereka yang perhatiannya teralihkan ketika dia membuka pintu ini. Ada enam pemain di sini, ditambah dua—aku dan Casey.
KAMU SEDANG MEMBACA
Project Legacy: Awakening
Ciencia Ficción[Proses Editing] [Sebagian bab sudah dihapus] [Buku pertama dari seri Project Legacy] [komplit] [sudah direvisi] ... Apa yang kau pikirkan ketika kau secara tidak sadar telah kembali dalam dunia virtualmu setelah dua tahun tak menyentuhnya...
