Lokasi pendaftarannya tidak seperti yang kami duga, dengan wilayah yang dikelilingi oleh hutan dan juga para pemain lain yang tidak kukenal dengan tujuan sama dengan kami, tempat ini justru terlihat menyenangkan bagiku. Terlebih dengan hewan-hewan non-monster yang kerap terlihat berkeliaran di sekitar sini.
"Oh iya," ucap Foxx yang terlihat seperti teringat akan sesuatu.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kamu masih berhutang sesuatu padaku." Dia memandangku dengan saksama.
"Berhutang apa?" aku bahkan lupa pernah berhutang sesuatu kepadanya. Seingatku aku tidak pernah berhutang pada siapa pun, termasuk Foxx.
"Cerita. Rainbow." Jawabannya singkat dengan dua kata yang terpisah oleh titik.
"Oh, benar juga!" aku jadi ingat dengan itu, ketika aku bertemu pertama kali dengannya sekitar beberapa hari lalu, aku pernah berjanji untuk menceritakan kisahku tentang Rainbow kepadanya. Namun nampaknya aku lupa dengan janjiku padanya.
"Ceritakan!" ujarnya, dia sedikit memaksa dengan memasang ekspresi yang memaksa juga.
"Nanti saja setelah kita mendaftar, karena waktunya tidak akan cukup untuk menceritakan itu." Aku tersenyum. Kemudian dia mengulurkan jari kelingkingnya kepadaku. Ini tanda sebuah kontrak janji.
"Janji?"
"Janji!" aku melingkarkan jari kelingkingku dengan miliknya, tidak lama dan lalu terlepas.
"Kalau kamu lupa?"
"Kalau aku lupa?"
Dia mengangguk, lalu aku berpikir sebentar.
"Aku akan meminjamkanmu Bahamut selama seminggu."
"Benarkah?"
Aku mengangguk, sekarang dia terlihat yang berpikir. Aku sebenarnya tidak ingin meminjamkan Bahamut kepada siapa pun, jadi aku berharap bahwa aku tidak lupa.
"Kalau begini aku jadi berharap kamu akan lupa menceritakannya," ucapnya lirih, manyun, lalu senyum jahil mengembang di sudut-sudut bibirnya sembari dia memandangiku yang berada di sebelahnya. Aku hanya bisa tersenyum balik kepadanya sambil mengacak-acak poninya yang barusan dia rapikan ketika mendarat dari Bahamut. Aku terkekeh sembari melihatnya merapikan poninya lagi, sebal mungkin.
Beberapa menit berlalu seperti itu. Kami akhirnya sampai di depan mulut raid—tempat di mana pendaftaran event itu berada.
"Masih ramai," ucapku sambil berusaha menengok menembus kerumunan yang sedang berbaris. Foxx mengangguk setuju sambil terus melihat satu-persatu pemain yang juga ikut mendaftar. Kira-kira masih ada beberapa ratus party atau squad lagi. Aku menoleh, pendaftaran ini sudah seperti pasien yang mengantre di rumah sakit, kau harus mengambil nomor agar antreannya tidak panjang. Jadi kau bisa meninggalkan agar tidak jenuh.
Lalu aku mengambil nomor yang berada di meja depan sebuah bangunan kecil yang digunakan untuk tempat mendaftar. Dua ribu lima ratus sembilan puluh. Aku mengintip ke dalam. Ada empat buah sekat resepsionis yang tidak terlalu berjauhan. Tempat ini sudah seperti tempat festival saja. Atau taman bermain?
"Panggilan untuk nomor dua ribu dua ratus sembilan puluh dua."
Ah. Berarti ini lumayan lama juga, melihat mereka yang mendaftar membutuhkan waktu yang terbilang tidak singkat. Seperti menandatangani sebuah kontrak, mereka perlu membaca peraturan yang ditetapkan dalam event kali ini.
Setelah itu, aku kembali menemui Foxx yang menunggu di tempat aku meninggalkannya tadi.
Aku mengacungkan kertas keras yang lebih terlihat seperti papan kecil itu kepada Foxx.
KAMU SEDANG MEMBACA
Project Legacy: Awakening
Science FictionApa yang kau pikirkan ketika kau secara tidak sadar telah kembali dalam dunia virtualmu setelah dua tahun tak menyentuhnya? Dan yang lebih baiknya lagi, kau bertemu dengan seorang gadis yang menjadi impianmu sejak dulu? Bertemu dengan sahabat lamamu...
