Chapter 11.4

591 59 0
                                        

Tidak lama kita berjalan menuju sebuah exclusive dungeon. Exclusive dungeon adalah mode dungeon berbeda dari dungeon biasa. Mengapa aku mau agar kita memasuki exclusive dungeon dulu dan membicarakan hal itu? Itu karena jika masuk ke dalam exclusive dungeon sebagai party, tidak akan ada yang bisa memasukinya, jadi tidak akan ada pemain lain yang akan mengganggu atau menguping.

Tempat dungeon ini berada di ruang bawah tanah Constantinople, batu-batuan khas kastelnya bisa kurasakan sangat kental khas Istanbul, sama seperti kastel Seventh Heaven.

Aku berhenti ketika sudah berada di dalam dungeon, setelah mereka semua masuk.

"Jadi, apa yang kau rahasiakan?" Avery membuka pembicaraan, wajahnya terlihat tegang, begitu juga denganku dan Foxx.

"Pertama-tama, aku ingin kalian berjanji terlebih dahulu kepadaku. Anggap bahwa perbincangan atau pertemuan kita di sini tidak pernah terjadi."

Jeda sebentar dari Avery. Aku menatap satu per satu dari mereka. Dan Avery akhirnya mengiyakan. "Oke."

"Kami, Uprising Force sedang melakukan persiapan untuk peperangan."

"Peperangan apa?"

"Entah, kami sedang mencari tahu mengenai itu." Aku mengatakannya dengan ekspresi ragu.

Dia kemudian melipat tangannya, memandangku dengan penuh tanya. "Karena kau itu adalah kita. Jadi apapun hal itu kami akan membantumu." Ha?

Aku mengernyit heran. "Maksudmu?"

"Kau tahu." Aku semakin khawatir apa yang dia maksud. Kulihat Foxx hanya tersenyum sambil mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Avery.

"Tunggu-tunggu. Aku tidak mengerti maksudmu." Aku ingin sebuah kejelasan dari Avery mengenai perkataannya tadi.

"Kami akan membantumu dengan masalah itu."

Jadi itu benar.

"Mengenai hal itu, bukan aku orang yang bisa memutuskannya." Aku harus mempunyai sebuah alasan yang dapat membuatnya mengubah keputusannya yang berbahaya.

"Kalau begitu bawa kami kepada orang yang berhak!" ucapnya, terdengar agak keras namun masih ditekan secara datar.

"Casey?" tanya Foxx.

"Tidak. Dia juga bukan orang yang berhak, dia hanya media saja," tolakku.

"Lalu siapa yang bisa?" tanya Foxx lagi.

"Entah, aku sendiri belum pernah menemuinya, itu ada di divisi lain."

"Kalau begitu pertemukan kita dengan divisi lain itu. Lewat siapa tadi, Casey?" Foxx mengangguk, ternyata susah juga berhadapan dengan orang yang keras kepala.

"Entahlah." Aku tidak tahu lagi harus berbicara apa. Bagaimana aku menjelaskannya pada mereka? "Aku..." aku menghela nafas panjang "... aku meninggalkan kalian karena aku tidak ingin kalian terlibat dengan semua ini." Suaraku lemah, aku tertunduk lesu, entah mengapa mereka seperti orang berharga untukku walaupun aku belum lama mengenal mereka.

Semua terdiam sejenak, bahkan Cello lebih diam dengan ekspresi memperhatikan.

"Hahaha." Tawa Avery lepas, hal terakhir yang kubayangkan akan terjadi. Mengapa dia tertawa? Apa perkataanku tadi terdengar lucu baginya? Tawa lainnya terdengar oleh mereka. Aku mengangkat kepalaku lalu Avery memegang pundakku.

"Ini hanya terdengar aneh bagi kami, benar, kan?" ia menoleh menatap Foxx, Arianne, dan Cello secara bergantian, lalu melanjutkan. "Kami sudah menganggapmu seperti keluarga, walau kau dan kita masih belum lama bertemu. Dan meski kau tidak bisa mengatakan alasan dan apa yang sedang kau cari, tapi kami tahu bahwa yang kaulakukan itu tidak sia-sia."

Entah mengapa, perkataannya itu membuatku lebih nyaman saat ini, seperti dialah yang membuatku ingin mengubah pendirianku agar dia tidak terlibat dalam masalah ini.

"Jadi, bagaimana? Apa kau mau mempertimbangkan kembali dan memikirkan agar kami bisa membantumu?"

"Aku tidak janji, tapi akan kupikirkan sebuah cara."

--

Project Legacy: AwakeningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang