Chapter 02.1 - Wave Boss

2.7K 195 2
                                        

12 Februari 2038.

"Oke, cukup untuk hari ini."

Sudah dua hari sejak aku meng-GB Violet. Aku masih heran kenapa kita belum bisa logout, padahal ini sudah lewat dua hari dan mereka belum membetulkan bug itu. Hanya saja, baru segelintir pemain yang menyadari bug ini mencurigakan, hanya sebagian kecil termasuk aku. Aneh, bukan?

"Baiklah," dia menyelesaikan sebuah mantra untuk membunuh monster terakhir yang baru saja aku tembak dengan busurku, dengan sihirnya dia menciptakan beberapa batu es yang berbentuk runcing, terkadang dia membakar monster-monster itu dengan api. HP monster itu lenyap dan mati, tak lama kemudian muncul monster lain. Respawn. Pada dasarnya di hidden dungeons ini tidak ada batasan monster yang akan muncul, namun entah kenapa sekarang seperti diberi limit kemunculan monster, itu sedikit menyusahkan kami karena kami harus keluar-masuk saat monster sudah habis. "Ngomong-ngomong, dari mana kamu tau cara hunting kayak gini? Aku bahkan nggak bisa mendapatkan experience secepat ini dalam waktu dua hari saja." Violet terlihat sedikit lelah saat memandangku. Kami sudah hunting selama beberapa jam tanpa istirahat.

"Seperti yang kubilang, aku exploring." Aku tersenyum sebelum melanjutkan kalimatku, "kamu bisa menuju level 60 dalam beberapa bulan saja kalau kita terus hunting kayak gini. Mungkin satu atau dua bulan kalau kita bener-bener terjebak di game ini," bercandaku dan diselingi tawa yang canggung. "Aku tahu di mana spot hunting dari level awal hingga level 60. Jadi setelah level kita sama—atau setidaknya jaraknya dekat, kita bisa hunting bersama-sama," aku menjelaskan panjang. "Itu pun kalo kamu mau ikut denganku, kalau nggak, aku juga nggak maksa," tambahku.

Tiba-tiba saja dia mengubah ekspresi wajahnya saat kulontarkan kalimat terakhirku, manyun. "Tentu saja aku akan ikut denganmu! Kamu dulu pernah bilang ke aku kalo jangan pernah mempercayai seseorang di dunia maya," ah, memang benar, aku sampai lupa kalau dulu aku pernah bilang itu kepadanya. Sok bijak, eh? Mungkin juga terlalu munafik. "Lagi pula kamu sudah membantuku," ekspresinya mulai lebih tenang, namun kembali menampakkan wajah sebal lagi. "Apa yang bikin kamu bilang kayak itu?"

"Ah, aku hanya mikir..." aku menimbang-nimbang kalimat yang akan kukeluarkan, takutnya dia akan salah paham. "Mungkin aja suatu saat nanti kamu nemuin sebuah guild yang cocok denganmu, atau menemukan seseorang yang bisa kamu percaya, atau mungkin juga bertemu temanmu dari dunia nyata. Jadi aku nggak akan nyesel." ah, kata-kata yang bodoh. Kenapa aku mengucapkan itu?

Lantas dia pun tertawa, aku bahkan tidak mendapat sisi humornya di sini. "Kamu ini, ada-ada saja!" kemudian dia berjalan kembali menuju arah pintu masuk dungeon, aku mengikutinya di belakang, ini berarti kami berdua menyudahi perburuan hari ini.

Kami berjalan keluar dari hidden dungeon ini dengan cara sembunyi-sembunyi. Kenapa harus sembunyi-sembunyi? Karena hidden dungeon itu bagaikan harta karun bagimu jika kau adalah seorang bajak laut. Hanya kau saja yang boleh mengetahui lokasinya, kan? Seperti itulah. Monster yang berada di dalam sebuah hidden dungeon milik semua pemain yang berada di dalam sana, semakin sedikit pemain makan akan semakin banyak jatah monster untuk dibunuh, itu artinya semakin banyak exp untukmu. Hidden dungeon yang kami tempati tidak terlalu jauh dari kota kecil yang bernama Whitehorse di Kanada. Dan sesuai dengan nama kotanya, makhluk di sini kebanyakan berbentuk kuda, atau berwarna putih, hampir menyerupai musimnya yang hampir sepanjang tahun musim dingin.

"Hey, Blue." Suara Violet kembali terdengar setelah beberapa saat kami keluar dari dungeon itu.

"Hmm?" aku membalas malas panggilannya sambil terus melihat-lihat beberapa item baru hasil berburu tadi. Tak ada item yang menarik, hanya item biasa. Paling bagus hanya item berwarna oranye yang harganya lumayan jika dijual ke NPC yang tepat.

Project Legacy: AwakeningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang