"Kita berada dalam zona mati!" suara itu menggema dalam sebuah dungeon yang sedang kujelajahi. Dan, zona mati yang dia maksud itu adalah, kita tidak bisa menggunakan map, item-item teleportasi instan ke kota terdekat, dan juga telepati. Itu tidak heran karena mengingat dungeon ini adalah dungeon baru—bukan seperti baru dibuka, namun baru aku ketahui. Tidak banyak yang masuk dan berburu ke dalam dungeon ini karena mungkin levelnya cukup untuk membuatku mati konyol dengan berburu sendirian di sini. Aku hanya melihat-lihat di dalam sini. Aku kemudian berhenti sejenak. Memfokuskan pendengaranku kepada arah sumber suara.
"Mundur!" suara itu terdengar lagi, namun berbeda dengan suara yang tadi. Kelihatannya mereka berada dalam masalah. Mungkin mereka tidak sengaja bertemu mini boss atau sejenisnya. Setelahnya, aku mulai berjalan menuju suara itu. Suara-suara geraman monster juga tak jarang kudengar.
"Ah!" sebuah suara menggema lagi. Suara perempuan. Aku mempercepat jalanku melewati terowongan gua yang memiliki jalan bercabang-cabang. Hingga akhirnya aku terhenti lagi di sebuah cabang. Dua cabang yang aku ragu untuk memilih mana yang akan kulalui untuk menemukan mereka. Di dalam sini bahkan tidak bisa menggunakan peta untuk menentukan di mana lokasi mereka. Jadi jika aku tersesat, akan semakin sulit untuk kembali menemukan mereka.
Masa bodoh, aku ambil saja jalur kiri.
Suara dentingan pedang terdengar semakin menjelas seirama dengan langkahku yang semakin jauh memasuki gua itu lebih dalam. Aku sekarang tidak yakin bisa keluar dari sini dengan cepat karena aku biasanya tidak masuk sedalam ini.
"Heal!" seruan itu keluar lagi, dilanjutkan dengan lafal mantra yang tidak aku ketahui. Aku yakin bahwa aku sudah semakin dekat.
"Counter!" suara tebasan terdengar sesaat kemudian.
Semakin dalam aku memasuki gua ini, semakin berbeda aura yang muncul. Aura di sini semakin suram. Aku cukup hafal tentang aura seperti ini.
"Mundur!" suara pertama yang kudengar tadi mengucapkan kata yang sama. "Foxx!" dia memanggil seseorang, pasti anggota party-nya. Kilatan cahaya akibat dentingan pedang mereka muncul berkali-kali di ujung belokan yang beberapa puluh meter di depanku. Mereka pasti di sana.
Aku segera mengambil busur yang kutaruh di punggungku. Busur ini baru saja dapatkan setelah ikut membantu mengalahkan wave boss beberapa hari lalu yang muncul di sebuah kota di negara kecil di Eropa yang aku tidak ingat namanya. Seingatku mereka hanya meminta bantuan untuk mempertahankan kota kecil mereka karena guild mereka masih tergolong kecil untuk dapat bertahan oleh serangan wave boss. Itu wave kelima yang muncul di VRO. Seekor monster bertipe naga. Aku harus sedikit bersusah-payah mengalahkan monster itu sambil menaiki Bahamut. Untungnya monster itu tidak terlalu sulit untuk dikalahkan, hanya membutuhkan waktu saja.
Dengan skill Silent Step dari Archer. Aku mendekati belokan itu dengan perlahan. Suara dentuman perisai terdengar terus menerus. Dengan diam-diam aku memutar arah, aku mencapai titik di mana aku bisa menembak dengan leluasa. Tepat di sebuah lubang yang menanjak yang berakhir didinding area pertempuran mereka.
Ada empat orang di sana. Human Lancer. Pixie Priest. Pixie Slayer. Myria Rogue. Masing-masing dari mereka terlihat sibuk. Lancer sedang sibuk menahan serangan-serangan monster berbentuk kelelawar dengan level yang sedikit di atasku, 95. Ukuran kelelawar ini justru lebih besar daripada kelelawar biasa. Sedangkan Priest itu sibuk melempari Lancer dengan kristal-kristal healing, Rogue sedang mempersiapkan sebuah jebakan. Slayer sedang kewalahan menghadapi monster terbang itu. Job Slayer justru tidak berguna saat melawan monster yang terbang karena senjata mereka yang tergolong cukup berat untuk diayunkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Project Legacy: Awakening
Science FictionApa yang kau pikirkan ketika kau secara tidak sadar telah kembali dalam dunia virtualmu setelah dua tahun tak menyentuhnya? Dan yang lebih baiknya lagi, kau bertemu dengan seorang gadis yang menjadi impianmu sejak dulu? Bertemu dengan sahabat lamamu...
