Chapter 08.2

782 65 0
                                        

Aku kembali menapakkan kaki di kastel ini. Kastel yang terlihat seperti kastel seperti kebanyakan. Warna abu-abu adalah warna yang mendominasi. Tembok-tembok batu yang besar. Sebuah spanduk besar tergantung di aula besar setelah memasuki gerbang utama, spanduk yang merupakan lambang guild Seventh Heaven. Lambang guild ini tidak pernah diganti sejak pertama kali guild ini didirikan. Aku masih mengingatnya.

Athena muncul ketika aku memasuki aula besar itu.

"Blue!" ia berlari menghampiriku saat itu juga.

"Apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyaku. Dia menatapku dengan memberikan ekspresi yang tidak kumengerti. Antara cemas dan senang, kurasa. Aku tidak tahu pasti dengan ekspresi yang sedang ia gunakan.

"Guild Master memanggilmu."

Aku mengernyitkan dahi. Aku tidak menyangka kalau dia akan memanggil kami secepat ini. "Kapan?"

"Sekarang, itulah mengapa aku mencarimu. Ayo." Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan seolah sedang menuntunku. Surai rambut panjang berwarna biru bergelombang itu turut mengikuti gerak tubuhnya.

Aku mengikuti di belakangnya.

Tak lama kemudian kami tiba di depan ruangan Guild Master yang dimaksud. Pintu raksasa terbuka saat kami datang. Rion keluar dari dalam ruangan itu. Wajahnya terlihat sedikit kesal saat ia berjalan melewatiku.

Aku kembali menatap ke dalam ruangan itu melalui pintu. Sebuah isyarat muncul dari Sibal.

"Masuklah."

Aku dan Athena kemudian masuk.

"Jadi..." ucapnya menggantung, ia membaca-baca lembaran kertas yang terlihat seperti sebuah laporan. "Kau yang mengalahkan monster jenis baru itu? Siapa namanya, Grim Reaper?"

"Ya," jawabku singkat. Ia masih berkutat pada lembaran yang ia bolak-balikkan.

"Aku terkesan. Mereka berkata bahwa kaulah yang memimpin mereka untuk mengalahkan monster itu."

Aku terdiam sejenak, melirik Athena dengan sekejap. "Tidak. Tidak benar-benar seperti itu, Sir."

"Tidak, tidak. Panggil saja aku dengan Sibal."

Aku mundur sedikit. "O-oke." Aku melirik Athena yang juga melirikku. Ini benar-benar terasa canggung mengenai bagaimana ia berbicara dan bertingkah, benar-benar seperti seorang raja yang sederhana.

"Bagaimana... bagaimana caramu mengatur mereka?" ekspresinya benar-benar terlihat demikian dengan bahasa tubuhnya. "Maksudku, aku membaca ini," ia menunjuk kertasnya dengan jari, "ini benar-benar terlihat mudah bagaimana kau mengatur mereka sehingga kau bisa mengalahkan boss itu dan tidak kehilangan lebih banyak orang." Aku tidak sadar bahwa ia sebenarnya suka berbicara banyak seperti ini. Kemudian ia menyandarkan bahunya kembali ke kursi putar yang ia duduki "Aku kehilangan lebih banyak orang di sisi timur laut daripada tenggara. Bagaimana itu bisa terjadi?" ia mengangkat kedua bahunya, seperti terlihat benar-benar ingin tahu. Ekspresinya pun begitu, masih terlihat penasaran.

Dia tersenyum memandang kami berdua secara bergantian, lalu Athena juga ikut tersenyum dan berkata "Dia..." ia menoleh ke arahku "... dia orang yang tak terduga. Dia selalu datang dengan pikirannya tentang strategi atau apa yang akan dia lakukan untuk beberapa menit ke depan. Dan itu selalu berhasil," ia menyelesaikan kalimat terakhirnya dengan sebuah senyum penutup dan melirikku singkat. Itu sungguh kata-kata yang sangat berlebihan tentangku.

"Tidak..." aku menggeleng geli, "... itu terlalu berlebihan." Aku terkekeh lalu memandang lantai di bawah yang aku pijak saat ini.

"Oke..." dia kembali memutar-mutar kursinya. "Kau punya potensi." Kalimat terakhirnya tidak terdengar terlalu jelas karena ia sedang memutar kursinya, aku mendengar itu namun tidak yakin ia menyebutkan itu.

Project Legacy: AwakeningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang