Chapter 05.4

1K 87 0
                                        

"Kembali!" perintah Avery seketika melihat boss di sebuah ruangan di dalam dungeon itu. Ini sudah tiga jam lebih kami berada di dalam dungeon. Bisa dibilang susah karena kami tidak mempunyai banyak informasi terhadap apa yang kami hadapi. Dan aku juga tidak mendapatkan informasi berguna yang dapat menunjang strategi yang kami gunakan.

"Ada ap—"

"Shh!" Avery membungkam mulut Foxx dengan lengannya dibalik perisai yang ia pegang. Untung saja boss itu tidak menyadari keberadaan kami.

Ini adalah pertarungan penentuan untuk kami berlima. Fokusku semakin berhambur sekarang, susah kukumpulkan lagi.

"Cello!" ucap Avery pada Cello yang sekejap mata sudah menghilang, itu sebuah perintah untuknya.

Avery kemudian berjalan pelan menuju di mana boss itu berada, Foxx bersembunyi dibalik tubuh besar Avery, sedangkan aku dan Arianne masih terdiam mengintip dari bebatuan yang menutupi kami. Menunggu sebuah perintah, itulah pekerjaanku saat ini.

Meskipun aggro yang dimiliki Avery cukup besar, itu belum cukup untuk menarik perhatian monster berbentuk elang dengan sambaran-sambaran petir di sekelilingnya.

Level 110. Itu level yang cukup tinggi untuk ukuran boss. Ada perbedaan tingkatan kelas antara boss di dungeon, raid, dan world boss.

"Blue!" Avery memanggil setelah ia mengeluarkan provoke. Kukeluarkan anak panahku dan melepasnya dengan efek slow. Namun tidak mempan—tidak, petir itu menghalau anak panahku. Dengan segera monster yang mempunyai nama Storm Orion itu menatap Avery dengan sepasang mata berwarna merah darah yang ia miliki. Mengibaskan sepasang sayap yang ia rentangkan. Kekuatan kibasan itu cukup membuat Foxx terhempas ketika ia berusaha menebas monster itu dengan pedang raksasanya yang berjenis claymore.

Ia terhempas beberapa meter, begitu pula dengan pedangnya. Namun berbeda dengan Avery, ia masih cukup kuat untuk menahan hempasannya, hanya bergeser sedikit dari tempatnya menahan karena perisai miliknya.

Arianne akan bertindak dengan kekuatan penyembuhannya, ia akan melambaikan tongkat yang ia pegang dan itu ditujukan pada Foxx yang tadinya terhempas, mengurangi jumlah HP-nya secara signifikan, bahkan kurasa terlalu kuat. Aku menahan Arianne, jika ia melakukan penyembuhan padanya, itu akan membuat perhatian Storm Orion teralihkan kepadanya.

Avery maju menuju monster itu, Foxx masih berusaha berdiri dan mengambil pedangnya. Yang kulihat saat ini, ia hanya tersenyum sambil menatap Storm Orion.

Setelah genap membenarkan posisinya, Foxx mengambil pedang yang tidak sengaja ia jatuhkan tadi. Foxx berjalan menuju Storm Orion sambil menyeret pedangnya, lalu berlari dengan kecepatan penuh yang dimilikinya. Ia melesat secepat kilat.

Bodoh, ia akan kalah terlebih dahulu jika menyerangnya sekarang, terlebih tanpa bantuan atau pengalihan.

Aku lari menuju arahnya, menembakkan panah-panahku sebisanya agar ia tidak menyerang Foxx. Beberapa chain-skill yang kukeluarkan bahkan hampir tidak memberi efek yang terlihat. Ini benar-benar susah, terlebih dengan fokus yang tidak penuh seperti ini.

"Foxx!" aku berteriak padanya, ia bahkan tidak menghiraukan, dapat kulihat Avery tidak percaya melihat Foxx bertindak seperti itu, dan yah, walaupun Foxx memang sudah sering mengabaikan perintah, kukira yang satu ini benar-benar di luar batas toleransi. Kunci kemenangan sebuah raid bisa dilihat dari strategi dan bagaimana eksekusinya. Bukankah mereka semua ingin memenangkan kompetisi perdana mereka?

"Hei Foxx!" Avery berteriak kepada Foxx, namun tak dihiraukannya. Ia maju berlari ke arah elang itu, berusaha menghalau atau mendahului Foxx.

Foxx mengeluarkan chain-skillnya yang berupa kilatan-kilatan api. Tak mempan. Sangat tidak beruntung kalau tidak ada satu pun di antara kita yang menyukai elemen tanah, karena itu bisa menjadi senjata untuk melawan elemen petirnya.

Project Legacy: AwakeningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang