Chapter 14.1 - Violet

754 53 0
                                        

20 Oktober 2038

Sudah satu bulan berlalu sejak pertemuan itu, dan satu bulan juga tugas-tugas diberikan. Tidak ada yang spesial. Tugas-tugas yang diberikan hanyalah tugas-tugas biasa, begitu repetitif dan membuatku bosan dengan cepat. Seperti pada titik jenuh yang kucapai, seperti bahwa aku sudah ketahuan jika aku sedang menyamar.

Pagi ini aku mendapat panggilan oleh Guild Master melalui PM, dan sepertinya ini adalah broadcast untuk seluruh anggota lain dari guild. Dengan segera aku pergi menuju kastel dan menemui Sibal di sebuah ruang rahasia yang berada di balik ruangannya, sedikit tersembunyi karena aku tidak menyadari ada sebuah pintu di dalam ruangannya. Itulah mengapa disebut ruang rahasia.

"Kau tahu apa yang terjadi?" tanya Athena setibanya datang di ruangan ini. "Aku tidak tahu ada ruangan di dalam sini," tambahnya.

"Entah, aku juga baru tiba." Landar memandang Athena lalu kembali memandang kembali ke depan, mungkin bertanya-tanya mengapa Sibal sendiri belum kemari.

Aku menggeleng menanggapi pertanyaannya, begitu juga Rion yang cuek seperti biasanya. Kami berempat sudah seperti sebuah kelompok kecil, setiap ada panggilan atau pertemuan kami selalu berdampingan, seolah seperti hal yang wajar bagi kami. Rasanya seperti perjanjian tak terucap, mungkin juga karena kami berempat tidak terlalu suka membaur dengan anggota lain, dan lainnya.

"Jadi, ada yang mau menebak?" tanya Rion, suaranya begitu berat di awal kalimat, ia memandang kami satu per satu setelah kalimatnya. Ini sedikit aneh, biasanya dia adalah orang yang paling jarang berbicara, mungkin mendengarkan suaranya adalah hal yang jarang yang bisa ditemui dalam dirinya.

"Hmm." Aku mencoba menanggapi tantangannya, menempatkan tanganku pada dagu. Mataku masih memperhatikan sekitar, mencoba menebak-nebak apa yang akan terjadi.

"Mungkin dia akan memberi kita hari bebas!" ucap Athena sedikit bersemangat, suaranya terdengar oleh anggota lain di ruangan, semua menoleh namun hanya sekejap sebelum mereka berkutat kembali dengan apa yang mereka kerjakan.

"Atau mungkin Sibal mempunyai tugas lagi untuk kita..." ucapnya seolah mengeluh sambil menaikkan kedua bahunya. "Setiap pertemuan resmi yang ia adakan kebanyakan hanya merupakan tugas, kan?" tambahnya. Masuk akal juga jika melihat situasinya, terlebih pertemuannya dibuat secara rahasia seperti ini.

"Ah..." keluh Athena dengan satu kata panjang. "Kau ingin menambahkan?" tanyanya, memandangku yang belum memberi sebuah tebakan untuk apa yang Sibal akan lakukan nanti.

Aku menggeleng lemah tanpa memandang mereka. "Kukira dua jawaban itu adalah dua jawaban yang paling mungkin."

"Aku pikir juga demikian," tambah Rion, memandang dengan cepat lalu menoleh karena suara dari pintu. Sibal datang dengan wajah ramahnya seperti biasa.

Seketika suara-suara kecil di sekeliling kami berhenti terdengar.

"Maaf sudah menunggu," ia datang dengan santai seperti biasa, namun tidak dengan bagaimana ia berbicara barusan, kali ini ia datang dengan empat anggota pribadinya, bisa dibilang mereka adalah anggota yang cukup penting dalam organisasinya. "Aku akan cepat dengan pertemuan ini." Kemudian ia memandang kami dengan cepat seolah sedang menghitung siapa saja yang hadir, tidak banyak dari kami sehingga ia bisa melanjutkan kata-katanya dengan cepat. "Karena aku mendapat tugas khusus, aku berencana memberi semua anggota guild hari bebas, khusus hari ini saja. Dan tentu aku sudah memberi tahu anggota lainnya." Berbeda denganku, lainku dengan lain miliknya. Lainku adalah untuk mereka, namun lain miliknya untuk yang tidak tahu apapun tentang organisasi milik Sibal.

"Tuh, kan!" bisik Athena dengan sorak kemenangannya yang seolah baru memenangkan sebuah undian lotre disertai dengan tepukan padaku, Rion, dan Landar.

"Kalian akan diberi waktu bebas selama 24 jam mulai dari sekarang, jadi besok di jam yang sama, kalian sudah harus kembali bertugas," tambah Ardel senada ketika ia melangkahkan kakinya ke depan satu langkah.

Setelah perkataan Ardel, suara-suara kecil itu kembali terdengar, kali ini lebih ramai. Aku melirik mereka yang bersuara, dan mereka saling menatap satu sama lain dengan pandangan bertanya-tanya. Tak jarang beberapa dari mereka memandang kelima orang yang berada di depan, terutama memandang Sibal yang sedang berbicara dengan keempat orang itu. Ardel, Scythe, dan dua lainnya anggota yang tidak kukenal.

Tanpa perkataan lebih lanjut, Sibal pergi dengan empat orang itu, meninggalkan kami yang setelahnya secara rapi ikut keluar dari ruangan. Aku dan tiga lainnya keluar paling akhir.

"Satu hari bebas. Kalian mau ke mana? Ada rencana?" tanya Athena ketika kami keluar berjalan menuju aula kastil. Kami berempat berhenti berjalan.

Rion mengangkat bahunya dengan wajah datar yang sinis. "Jika kau berniat mengajakku piknik atau semacamnya, akan kupastikan aku tidak akan ikut bersama kalian." Nada khasnya entah mengapa menjadi lebih menyebalkan, sama menyebalkan dengan wajah sinisnya.

"Oke, kau tidak akan ikut. Dan kau? Landar? Blue?" penolakan itu mendapat reaksi angkat bahu dari Athena dan berbalik menatap kami berdua yang belum mendapat jawaban.

Entahlah, di satu sisi aku ingin menerima ajakannya, di satu sisi aku butuh waktuku sendiri untuk beberapa saat. Aku bosan dan juga rindu akan pertemanan yang wajar.

"Landar? Blue? Bagaimana dengan kalian?" tanya Athena mengulangi, memandang kami berdua secara bergantian. Aku dan Landar hanya bisa bingung dengan saling menatap.

"Entahlah," jawabku sekaligus dengan bahu terangkat yang senada dengan kalimatku barusan. Athena membalas jawabanku dengan wajah cemberut, manyun.

"Landar?" ia kembali menatap satu orang yang belum memberi jawaban, meski memang aku juga belum memberi jawaban yang pasti.

Terbesit di benakku bahwa aku harus pergi ke Obihiro, menikmati matahari terbenam yang sudah lama tidak kunikmati. Entahlah. Tidak ada sesuatu yang jelas yang kuinginkan sekarang.

"Entahlah," jawab Landar, dengan ekspresi sama sepertiku.

"Jangan memberikan jawaban seperti itu! Aku juga manusia yang butuh jawaban pasti, duh!" Athena keki mendengar dua jawaban yang tidak bisa ia cerna—atau pahami, sama saja.

"Sebenarnya, aku baru saja memikirkan sesuatu di mana aku butuh ketenangan sendiri, dan maaf Athena jika aku menolak tawaranmu. Sebenarnya aku mau, namun tidak untuk kesempatan yang aku dapatkan kali ini." Aku mengatakannya dengan penuh rasa bersalah, aku tahu bahwa tidak ada satu di antara kami berempat yang benar-benar membaur dengan anggota lain, hanya kenal, namun tidak dekat seperti kami berempat, meski Rion juga termasuk dalam kategori yang tidak terlalu kami kenal karena memang dia yang menutup diri dari kita, dia benar-benar berbeda, memiliki determinasi sendiri—seperti memiliki tujuan sendiri mengapa ia datang kemari.

"Oke, aku lebih baik menerima jawaban tidak dari pada entahlah. Bagaimana Landar?" Athena lagi-lagi menoleh menatap Landar dengan tatapan mengintimidasi. Lain dengan Landar yang bingung dan melirikku sesekali sambil berusaha untuk mengatakan sesuatu melalui tatapannya itu. Aku memberikannya isyarat dengan tanganku agar dia menemani Athena.

Tidak lama berpikir untuknya untuk memutuskan setuju. "Baiklah," jawabnya kepada Athena.

"Nah!" ekspresinya berubah seketika ketika mendengar kata itu keluar dari mulut Landar.

"Kalau begitu akan kutinggalkan kalian di sini selagi kalian membuat rencana piknik satu hari kalian." Masih dengan wajah menyebalkannya, Rion meninggalkan kami bertiga tanpa kata-kata lagi. Ia hanya pergi begitu saja.

"Yah, begitulah dia," ucap Landar sembari mengambil napas panjang, memandang Rion yang berlalu seperti angin. Aku dan Athena juga memandangnya penuh dengan rasa sabar seperti ketika menghadapinya. Kebusukannya.

"Baiklah, kalian sudah punya rencana, begitu pula aku dan juga Rion memiliki rencana masing-masing, aku akan meninggalkan kalian di sini. Sampai bertemu besok," ucapku. Salam perpisahan untuk hari ini. Maaf kawan, aku tidak bermaksud untuk menolak tawaran itu, namun kurasa jika tidak lengkap maka tidak akan ada artinya.

Aku mulai berjalan meninggalkan mereka, melambaikan tangan sesaat dan mereka membalasnya.

--

Project Legacy: AwakeningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang