3 September 2038
Sumpah itu—oath yang dibicarakan Sibal—berlangsung secara tertutup di bangunan tersembunyi yang berada di kastel guild. Aku sendiri juga baru tahu mengenai lokasi bangunan tersembunyi itu. Keempat dari kami disumpah hari itu, tengah malam. Dalam upacara itu pun hanya dihadiri oleh beberapa anggota dengan jabatan tinggi, beberapa orang tak kukenal juga datang dari guild lain, kurasa itu adalah perwakilan dari ketujuh guild lain sebagai saksi dalam upacara. Aku mengidentifikasi mereka secara diam-diam.
Auriel juga terlihat di sana, ia mewakili guild Hexagonal.
Tingkat selanjutnya dalam organisasi itu, aku yakin dengan arti dari kata-kata itu saat Sibal mengatakannya padaku. Yah, ini kelihatannya hampir sama seperti sistem dalam organisasi Yakuza atau Triad. Namun, mengapa saat itu kami dipanggil satu per satu saat melaporkan misi itu? Itu yang terus membuatku berpikir. Saat upacara itu, kami diberi sebuah sebutan: Outliner—yang entah apa maksudnya.
Aku mencari Landar setelah upacara itu. Mungkin dia adalah satu-satunya orang yang dapat kupercayai saat ini, tidak Rion ataupun Athena. Bukan bermaksud tidak mempercayai mereka berdua, namun opsi untuk mempercayai Landar lebih masuk akal untuk dipilih saat ini.
Kami tidak terpisah setelah itu. Hal yang membuatku semakin lebih penasaran adalah siapa-siapa saja perwakilan dari guild lain itu.
"Bisakah kita mempercayai orang-orang ini?" pernyataan sekaligus pertanyaan itu terlontar dari salah seorang pemain dari guild Euronesia. Aku memperhatikan lebih cermat terhadap pemain yang mewakili tujuh guild lain. Ada satu yang tidak lengkap: Aurora. Mengapa aku bisa berkata demikian? Ini mudah karena setiap perwakilan di guild itu menggunakan sebuah identitas berupa logo guild yang kecil di equipment mereka, sama seperti guild Seventh Heaven.
Mereka melihatku, pandangan setiap perwakilan itu berbeda-beda, ada yang terlihat percaya, ada yang tidak. Namun kebanyakan tidak.
"Kita lihat saja nanti," ucap salah seorang yang lain, perwakilan dari guild Golden Ink.
"Kau sudah mendapat kepercayaanku," ia menepuk pundakku sambil tersenyum, lalu melanjutkan kalimatnya. "Namun jika kau mengacaukannya, kau tahu konsekuensinya."
Ia kemudian menjauh untuk menemui sekumpulan perwakilan itu. Aku menelan ludah setelah mendengar perkataannya, aku tahu konsekuensi itu. Aku tahu betul seperti apa. Ini tidak ada bedanya seperti di dunia nyata, hanya saja, setidaknya aku masih mempunyai tempat untuk berlindung, namun itu bukan jalan yang kuinginkan. Inilah risiko yang akan kuhadapi.
"Sial," gumamku lirih.
"Hei, ada apa?" Landar tiba-tiba saja datang, ia datang bersama dengan Athena dan Rion.
"Kau tidak terlihat baik, apa kau sakit?" Athena mendekatiku ketika aku melihatku dengan ekspresi yang tidak seperti biasanya. Aku langsung mengganti ekspresiku menjadi biasanya setelah itu.
"Aku baik-baik saja."
"Tapi 'sial' kenapa?" ia bertanya lagi sambil menirukan caraku berucap, aku berusaha mengabaikannya dengan hanya memberikan isyarat bahwa aku tidak tahu dengan mengangkat bahuku.
"Ada yang mengganggumu?" kali ini Rion bertanya, ia melipat kedua tangannya di depan dada seperti yang sudah biasa ia lakukan.
Aku hanya diam, tidak memberikan jawaban apapun terhadap semua pertanyaan mereka bertiga.
"Tidak ada," jawabku.
"Hei, ini waktunya untuk lebih serius, dan lebih bahagia, jadi mengapa kita tidak hanya menikmati ini?" ucap Landar, meskipun aku tahu dialah yang paling tertekan setelah misi terakhir kami, namun tampaknya dialah orang yang bisa mengontrol mentalnya dengan sangat baik, tidak sepertiku yang amburadul.
"Dia benar, kita seharusnya menikmati ini, kan?" Athena tersenyum, seperti sebuah ajakan untuk menjadi lebih baik. Entah mengapa aku ikut tersenyum, walaupun itu hanya sesaat.
"Ya, aku setuju denganmu." Ucapan Rion itu, terdengar aneh bagiku. Kemudian ia sendiri langsung mengambil minuman dan pergi entah ke mana setelah perkataannya. Athena mengikutinya dari belakang.
"Rion, tunggu!"
Aku dan Landar melihat mereka pergi, dan kemudian ia berkata, "jadi, ada apa?"
Aku langsung menoleh memandangnya, ia sedang memandang ke arah para perwakilan yang ada di sekitar Sibal.
"Aku tahu ada sesuatu yang mengganggumu—entah apa itu—dan aku tidak tahu apa."
"Ya, aku hanya tidak tahu ke mana dan pada siapa aku harus berbicara."
Raut wajahnya terlihat lebih serius setelah mendengar perkataanku barusan, ia menyilangkan kedua tangannya.
"Kau bisa berbicara kepadaku jika kau mau. Aku siap mendengarkanmu."
"Terima kasih, tapi, mungkin tidak sekarang," balasku. Entah kenapa aku tidak ingin membicarakan hal itu kepadanya, walaupun aku ingin sekali dan mungkin hanya dia orang yang bisa kupercaya di sini dan saat ini.
Acara singkat itu selesai dalam beberapa jam, acaranya tidak terlalu meriah dan kurasa cukup bisa untuk dinikmati, meskipun suasananya lebih suram ketimbang dugaanku karena mereka semua yang mewakili setiap guild berpikir bahwa ini sangat penting—dan memang benar jika ini sangat penting—setidaknya bagi mereka yang menjadi bagian penuh dan sadar akan hal-hal yang mereka ikuti dan lakukan.
--
KAMU SEDANG MEMBACA
Project Legacy: Awakening
Ficção Científica[Proses Editing] [Sebagian bab sudah dihapus] [Buku pertama dari seri Project Legacy] [komplit] [sudah direvisi] ... Apa yang kau pikirkan ketika kau secara tidak sadar telah kembali dalam dunia virtualmu setelah dua tahun tak menyentuhnya...
