Chapter 11.3

622 55 0
                                        

11 September 2038

Pagi tidak diawali dengan sesuatu yang indah. Terlihat biasa saja. Bahkan mungkin terlalu baik untukku. Waktu istirahat yang kudapatkan hanya beberapa jam saja dan itu kurasa sudah cukup, namun tubuhku tidak merasa cukup, masih terasa sedikit lemas sisa dari hari sebelumnya. Persetan, ini bahkan tidak nyata. Kalaupun iya, mungkin aku sudah tidak berada di sini lagi. Tubuh asliku pasti sudah tidak mampu.

Dan aku juga berpikir, apa sekarang kita semua di sini hanya data simulasi dari otak asli kita, yang menganggap bahwa kita di dunia nyata masih hidup? Pikiran seperti itu benar-benar bukan suatu hal yang baik untuk memulai hari.

Ah, lupakan.

Tiba di kastel, ada hal yang tidak biasa. Kastel tampak ramai, tidak seperti biasanya yang sepi akan anggota guild, mungkin hanya akan ada beberapa petugas atau petinggi-petinggi yang sedang tidak ditugaskan. Namun kali ini berbeda, ini terlihat seperti semua anggota sedang berkumpul, semua tanpa garis pemisah itu.

"Ada apa?" tanyaku pada salah seorang anggota yang sedang berbincang pada anggota lainnya yang aku tidak terlalu mengenalnya.

"Tidak tahu."

Hanya jawaban itu yang kudapat, setidaknya hingga beberapa anggota lain memberikan jawaban yang sama ketika aku menanyakan hal itu. Ada apa sebenarnya?

Hmm. Pemandangan di sini tidak hanya anggota guild saja, rupanya, ada banyak pemain tanpa guild dan dari guild-guild kecil. Mungkin sebuah perlombaan? Atau hanya sekadar acara?

Aku berkeliling mencari seorang yang mungkin bisa memberikan penjelasan tentang semua ini. Bukan Sibal, dia mungkin terlalu sibuk sekarang. Mungkin Ardel? Scythe? Casey? Landar? Rion? Athena? Siapa saja yang kutemukan pertama akan kuberikan pertanyaan yang sama lagi seperti tadi.

Berkeliling bukan hal yang sebentar di sini, ini dikarenakan kastel ini cukup besar dengan ruangan-ruangan yang sulit dihafal seperti memasuki sebuah labirin.

Sekitar 20 menit setelah aku mulai mencari, aku akhirnya menemukan seorang yang kukenal, atau yang dapat kuberi pertanyaan dan dia dapat menjawabnya: Rion.

"Hei," sapaku dengan canggung.

"Oh, hei," ia menoleh ke arahku, membalas ucapanku tadi. Namun sikapnya masih saja menyebalkan—meski tidak secara langsung jika ia memperlihatkan sikap menyebalkannya itu.

"Ada apa?" tanyaku langsung pada pertanyaan utama yang ingin kutanyakan.

"Entah, seperti acara, tidak ada yang tahu ketika aku bertanya seperti itu kepada mereka."

"Hmm."

"Apa?" Rion dengan sikap cueknya bertanya, dan inilah yang aku benci.

"Tidak, ini hanya sedikit aneh." Aku berusaha tetap terlihat tenang.

"Aneh seperti apa? Aneh sepertimu?"

"Ha, lucu sekali, Rion." Datar, mengatakan hal itu dengan sangat-sangat datar ditambah dengan ekspresi yang lebih datar sebenarnya bukan sebuah masalah, tetapi berbeda cerita jika mengatakannya kepada orang yang sedikit sensitif.

"Oh, kau bisa memberi respons sarkasme juga rupanya." Rion tersenyum simpul sambil melipat kedua tangannya lalu berbalik lagi, ia terlihat menoleh ke sana kemari seperti sedang mencari sesuatu.

"Tidak hanya kau saja yang bisa menjadi menyebalkan," tukasku tidak kalah sinis.

Beberapa saat berlangsung seperti itu, tidak salah seorang dari kami berjalan menjauh, setidaknya aku memang butuh orang lain untuk menemaniku saat ini, ramai, dan aku tidak terlalu menyukai keramaian.

Project Legacy: AwakeningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang