Chapter 06.2

1.1K 84 0
                                        

Beberapa jam berlalu dan kini sudah masuk tengah malam. Aku beranjak pergi dari markas, menuju tempat di mana aku bisa mencari informasi yang kubutuhkan saat ini.

"Kita mau ke mana sih?" tanya Casey sembari mengikuti langkahku di bawah kegelapan malam. Aku dapat melihat jalanan gelap yang samar-samar disinari oleh cahaya bulan yang menembus rindangnya pepohonan di sekitar kami.

"Lu tau, markas lu terpencil banget. Kita udah hampir satu jam jalan tapi belum nemu kota," protesku mengalihkan pembicaraannya.

"Ah, tapi itu tempat yang strategis, butuh perjuangan beli tempat itu."

"Emang harganya berapa?" lanjutku. Pembicaraan ringan seperti ini cocok untuk mengusir rasa bosan perjalanan.

"Lu inget harga mount Wyvern warna hitam yang gue pengen dulu?"

Aku mengingat-ingat mount itu, mount yang cukup populer pada masanya, harga yang ditawarkan juga cukup mahal karena mount itu adalah salah satu mount langka yang dicari kolektor.

"Ah, mahal banget," timpalku.

"Yah, tapi sepadan, lah. Jarang-jarang bisa dapet bangunan tersembunyi di tengah hutan, dan—oh, apa lu udah gue kasih bookmark markas?"

"Hmm." Aku mengingat-ingat tentang apa saja yang aku lakukan di sana tadi tapi tidak mengingat bahwa aku sudah mem-bookmark tempat itu, atau mungkin saja terlupa olehku. Kemudian aku membuka menu dengan melambaikan tangan kiriku dan membuka menu opsi, rentetan menu baru terjejer setelah kutekan, tujuanku bookmark. Muncul beberapa tempat yang kuketahui, Danderius Lake, Arcelius Cafe, Hideout, dan Home. Markas itu memang kuberi nama Hideout, namun satu yang menjadi perhatianku adalah bookmark Home. Setelah mendapati bahwa aku sudah mem-bookmark tempat itu, aku baru ingat bahwa Jesse memberinya padaku sebelumnya. "Udah, tadi Jesse yang ngasih ke gue," lanjutku tanpa memperhatikannya. Perhatianku tetap tertuju dengan menu yang sedang terpampang di depan wajahku; Home. Aku bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang sudah memberiku tempat tinggal dan menerimaku saat itu. Aku jadi merasa bersalah terhadap mereka.

"Apa itu? Home?" tanpa sepengetahuanku, ternyata Casey membaca bookmark itu.

Dengan segera aku menutup menu dengan sekali lambaian besar. Aku sedikit terkejut sembari memandangnya sekejap dan berkata "Nggak, bukan apa-apa."

"Ah, ayolah, apa itu rumah bersama kelompok kecil itu?" tanyanya. "Gue yakin itu rumah sama kelompok kecil itu." Aku berpikir sejenak sambil memandangi kerikil-kerikil di sepanjang jalan yang kulalui. Aku memang tidak pandai menyembunyikan sesuatu dari sahabatku sendiri. "Hmm?"

"Oke-oke," aku memberi jeda pada kalimat yang akan kuberikan padanya, tapi dari mana aku harus memulainya? "Dari mana gue harus cerita?"

"Yah, mana aja," dia mengangkat bahunya tanda dia sendiri juga tidak tahu dari mana cerita harus kumulai. "—dan hei, dude, kita bisa ngabisin waktu untuk sampai di kota sambil dengerin cerita lu." Oh, benar juga, itu ide yang cukup bagus untuk menghabiskan waktu.

Tanpa pikir panjang, aku memulai ceritaku.

"Waktu itu gue lagi hunting di wilayah baru yang gue tau di Manila," aku memulai cerita.

"Sachs Cave?"

Aku menangguk. "Ya, waktu itu udah menjelang malem, gue lagi mapping di sana. Terus gue denger suara Avery—ketua party-nya, lagi ngasih perintah. Lu tahu, kan, kalo di dungeon itu kebanyakan monsternya terbang?" dia mengangguk sebelum aku melanjutkan cerita. "Kebetulan banget mereka nggak punya job range."

Project Legacy: AwakeningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang