|16.1| Simpul Teka-Teki Mulai Terurai

18.5K 902 23
                                        

Setelah mengalami pengeditan, ternyata bab ini panjang sekali, hampir menyentuh 4000 kata. Maka dari itu, aku memutuskan untuk membagi bab ini menjadi dua bagian. Biar enak dibacanya.

Sebenarnya oke-oke aja sih kalau tetap dijadikan satu bab kayak bab 11 yang mencapai 3900 sekian kata. Cuma kok pas aku cek bab 11 lagi, jadinya agak capek ya nge-srcroll-nya sampai ke akhir bab😅
Jadi, kali ini, kita bagi dua aja ya.

Bagian keduanya akan di posting malam ini juga.

Happy reading!

Hujani bab ini dengan vote dan komen kalian guysss🥰

☔☔☔


16.1. Simpul Teka-Teki Mulai Terurai

Cinta tidak selamanya tentang memiliki. Kadang, melepaskan bisa jadi pilihan terbaik.

~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~


"Sebenarnya siapa dia?" Erwin bertanya pada Sang Cucu. Kesabarannya sudah habis, karena Sang Cucu tidak kunjung menjawab pertanyaannya sejak tadi.

Beberapa hari belakangan ini, Anjani menjadi lebih sering ke ruangan Sang Kepala Sekolah atau lebih tepatnya adalah ruangan kakeknya. Anjani tidak datang cuma-cuma. Ia sedang merayu Sang Kakek untuk memberinya akses ke ruangan data para siswa SMA Nusantara.

"Kakek nggak akan beri kamu akses ke data pribadi siswa di sekolah ini, An. Meskipun kakek bisa, tapi kakek tidak mau," jelas Erwin. "Dan kamu belum jawab pertanyaan kakek. Siapa dia? Kenapa kamu ngotot sekali mau akses data pribadi anak baru itu?"

Erwin bangkit dari kursinya. Ia hampiri Sang Cucu yang sedang selonjoran di atas sofa. Melihat Sang Kakek jalan mendekat, Anjani lekas memperbaiki duduknya. Erwin lantas mengelus kepala Sang Cucu dengan lembut. "Kamu itu cucu pertama kakek. Cucu kesayangan kakek. Kakek mengenal kamu sejak di dalam perut Mama. Saking mengenal kamu, kakek bisa tahu loh kapan kamu jujur dan kapan kamu berbohong."

Tidak ada gunanya berbohong pada Sang Kakek. Seperti ucapannya, Erwin memang mengenal Anjani dengan sangat baik. Sejak kecil, setiap kali ia berbohong, Sang Kakek akan selalu tahu. Entah memang Erwin pandai membaca ekspresi, entah karena Anjani yang tidak pandai akting.

Anjani menghela nafas. "Sebenarnya—"

"Dia mirip cowok yang kamu sukai di masa lalu?"

"Kakek tahu?" Mata Anjani langsung melebar.

"Memang alasan apa lagi yang membuat kamu sering ke Street Garage sejak setahun lalu sampai sekarang kalau bukan karena montir itu? Montir yang kamu sukai itu?"

Hello, Rain!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang