|33.2| Arka POV

2.1K 196 0
                                        

33.2. Arka POV

I can love her more than Arga ever could—more than any other guy in this world. And I will never hurt her.

~

15/8/2012

"Mau ke mana lo? Rapi banget." Gue melangkah masuk ke kamar Arga dan mendapatinya tengah berkaca di depan cermin.

Saat ini, Arga terlihat sangat rapi, seolah hendak menghadiri acara spesial. Jika biasanya Arga selalu memakai celana bolong kebangsaannya dan kemeja flanel yang terlihat lusuh ke mana pun ia pergi, kali ini ia menyulap dirinya seperti pangeran.

"Nge-date."

"Sama Aira?" tebak gue.

Sejak pertemuan mereka di supermarket yang berakhir buruk, secara mengejutkan Arga berhasil memperbaiki hubungannya dengan Aira—dalam waktu hanya lima bulan.

Dari mana gue tahu?

Selain karena Arga nggak pernah berhenti cerita soal kedekatannya dengan Aira, gue juga ... diam-diam mengikuti mereka. Awalnya, niat gue bukan untuk stalking. Murni karena khawatir Arga melakukan hal yang nggak seharusnya—terutama karena masih ada kesepakatan gelap antara dia dan Alex—gue akhirnya mulai membuntuti mereka. 

Dan sekarang, kegiatan itu ... entah sejak kapan, sudah jadi kebiasaan. Arga nggak pernah tahu kalau kembarannya memata-matai dia.

"Iya, sama Aira," jawab Arga dengan senyum kecil—nyaris tak terlihat, tapi ada.

Katanya sih, dia belum berada di tahap "menyukai". Tapi gue tahu itu omong kosong. Nggak mungkin matanya selalu berbinar dan bibirnya melengkung tiap kali nama Aira disebut kalau dia nggak ngerasa apa-apa.

Arga sedang memoleskan Pomade pada rambutnya. Bahkan rambut berantakan yang jadi ciri khasnya ... sekarang udah nggak ada. Dia tampil rapi. Terlalu rapi untuk ukuran Arga yang gue kenal. Dan cuma satu orang yang bisa membuat perubahan seperti itu dalam hidupnya: Aira Talitha.

Entah kenapa, melihat perubahan itu ... bikin gue merasa aneh.
Kesal. Iri. Cemburu.

Gue juga ingin merasakan yang sama.

Tapi ...

Tunggu. Emang gue boleh merasa cemburu seperti ini?

***

"Bagi gue rokok." Tanpa banyak pikir, gue mengambil sebatang dari orang di samping dan menyelipkannya perlahan di celah bibir.

Asap belum menyala, tapi kepala gue udah dipenuhi asap lain—cemburu, yang datang tanpa permisi dan tumbuh di tempat yang nggak seharusnya.

Gue sadar perasaan itu salah. Tapi perasaan, mana bisa diatur?

Jadi di sinilah gue sekarang. Menemui Dani.

"Tumben," sindirnya sambil menjulurkan pemantik. "Biasanya gue tawari, lo ogah banget. Sekarang malah minta."

Dani tahu gue. Dia tahu gue bukan perokok, dan rokok tuh dulu kayak barang haram buat gue. Jadi wajar dia heran.

"Gue cuma pengen tahu rasa benda yang selalu disesap Arga tiap kali dia kacau."

Seketika, gue nyalain rokok itu. Gue menyesapnya dalam satu tarikan panjang dan dalam, yang sukses paru-paru gue protes hebat. Gue batuk, tersedak, hampir copot paru.

Dani ketawa ngakak melihat gue yang kepayahan. 

Sialan. Kenapa sih orang bisa sebegitu candunya sama benda ini?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Hello, Rain!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang