|18| Semesta Sedang Bercanda

19.2K 772 16
                                        

18. Semesta Sedang Bercanda

Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.
—Tere Liye

—Tere Liye

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~

Pagi menyambut. Setelah dua hari absen karena sakit, hari ini Aira memutuskan untuk pergi sekolah. Ia tidak ingin menambah daftar alpa di rapor semester limanya nanti. Selain alasan itu, tentu saja ia sudah kangen bertemu dengan teman-temannya—walaupun Bunga dan Rico selalu menjenguknya setiap hari. Bertemu di rumah dan bertemu di sekolah itu jelas berbeda, dan tentu saja ia ingin tahu gosip apa yang sudah ia lewatkan selama dua hari absen.

Aira menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia sambar jepitan rambut yang berada di atas nakas, lalu menggulung asal rambutnya ke atas. Dari pantulan cermin, ia dapat melihat penampilannya sudah tidak seperti mayat hidup lagi.

"Gue kayaknya perlu pakai blush on nih." Ia mengomentari penampilannya sendiri. Meskipun sudah tidak kelihatan seperti mayat hidup lagi, tetap saja wajahnya masih terlihat pucat. Pipinya juga masih mengalami ketirusan. Benar-benar terlihat jelek. Padahal ia hanya sakit selama dua hari saja.

"Oke, let's take a bath first," putusnya. Saat hendak ke kamar mandi, matanya bersirobok dengan teru-teru bozu yang tergeletak manis di atas meja riasnya. Senyum manis langsung tersungging di bibir pucatnya.

"Sekarang kamu sudah punya dua pilihan. Kalau kamu mau ketemu hujan, kamu bisa minta ke aku atau gantung teru-teru bozu ini terbalik di depan jendela."

"Anak gadis pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri aja." Aira menoleh dan menemukan Sang Ayah berdiri diambang pintu kamarnya. "Boneka dari siapa?" tanyanya ketika sudah berdiri di samping Sang Putri. Matanya langsung terdistraksi dengan boneka kecil di tangan putrinya.

"Lucu ya, Yah, namanya teru-teru bozu. Katanya, kita bisa menangkal atau minta hujan turun dengan ini. Arka sweet ya, Yah? Dia kasih ini karena dia tahu Aira suka hujan."

"Oh, jadi, namanya Arka." Aira kembali menolehkan kepalanya pada Sang Ayah dengan dahi berkerut. "Pacar kamu, yang kasih teru-teru bozu ini, namanya Arka?" sambung Faisal yang langsung tahu arti tatapan Sang Putri.

"Bukan pacar—belum," ralat Aira. "Tapi, Aira sudah menyukainya. Dia juga menyukai Aira." Aira menyenderkan kepalanya ke pundak Faisal. Lima menit bermanja-manja sebentar dengan Sang Ayah seperti masih memungkinkan. Hari ini Aira bangun lebih cepat, jadi tidak akan drama terlambat meskipun ia mengulur waktu selama lima menit. "Nanti Aira kenali deh ke Ayah. Ayah pasti bakal suka. Dia pandai main piano, Yah."

"Gesang sudah setuju?" Aira mendongak, bingung kenapa ayahnya malah membawa nama Gesang di tengah pembicaraan mereka. Faisal pun menjelaskan, "Gesang itu tangan kanan Ayah. Dia yang bantu Ayah menyeleksi calon pacar kamu. Kalau Gesang setuju, Ayah pasti setuju."

Hello, Rain!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang