[PEMENANG THE WATTYS 2018 KATEGORI THE HEARTBREAKERS]
Aira suka hujan, namun Gesang tidak suka jika Aira menyukai hujan, karena menurutnya hujan adalah apa yang membuat sahabatnya sakit.
Aira suka Arka, namun lagi-lagi Gesang tidak suka jika Aira me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
29/9/2012 Dear diary, it's been three days, but I can't kick him out of my head. Bisa-bisanya gue denial terus. I mean bisa saja kan Arga sengaja mengeluarkan kata-kata kasar untuk mendorong gue menjauh, padahal kenyataan dia nggak mau begitu? Dan kalau pun teori gue benar, apakah gue bisa menerima kalau dia pernah berurusan dengan narkoba? I don't know. There must be something wrong with my brain.
***
Seminggu berlalu. Aira masih berusaha menghilangkan Arga dari pikirannya.
Dua minggu berlalu. Aira yakin bisa berhenti memikirkannya.
Tiga minggu berlalu. Ujian tengah semester datang, jadi Aira pikir ia akan fokus pada ujian.
Empat minggu berlalu. Aira pikir ia berhasil melupakan Arga.
Lima minggu berlalu, Aira tidak berhasil melupakan Arga.
Arrgghh!
Aira bangun dari tidurnya, terduduk di atas kasur, dan mengerang dengan kesal.
Aira tidak bisa terus begini!
Jadi, di sini lah Aira berada sekarang. Berdiri di depan gerbang SMA Garuda. Nomor Aira sudah diblokir. Jadi, satu-satunya cara untuk bertemu Arga adalah dengan menemuinya secara langsung.
Aira tahu tindakannya ini sangat nekat dan berisiko tinggi untuk disesali di kemudian hari. Tapi, Aira sudah memutuskan mau ketemu cowok itu lagi. Ada beberapa hal yang masih mengganjal di benaknya. Aira perlu tahu jawaban pastinya. Setelah itu, jika memang tidak bisa dimaafkan, Aira benar-benar akan pergi menjauh.
Begitu netranya menangkap presensi Arga, Aira segera menghampirinya. Arga tidak sendiri. Ada beberapa orang yang keluar bersamanya. Aira segera membentangi tangannya—menghalangi jalan cowok itu.
Umpatan langsung keluar dari mulutnya karena harus mengerem secara mendadak. Cowok itu sudah siap mengamuk, tapi urung saat tahu bahwa Airalah pelakunya.
Amarah Arga ditutup oleh kebingungan, lalu berubah jadi khawatir. Ia tampak kalang kabut melihat sekitar—seperti sedang mengecek sesuatu. Setelah menyadari apa yang dicari masih ketinggalan jauh di belakang, ia segera turun dari motornya, lalu menarik Aira menjauh dari sana.
"Ngapain lo kemari, hah?!"
"Ketemu lo. Apa lagi?" Walaupun agak terintimidasi, Aira berusaha terlihat santai.
Arga mendesis. "Ya, tapi kenapa di sini?!"
"Lo blok nomor gue!" Aira mendongakkan kepala. Tidak mau kalah angkuh dari cowok itu. "Lo aja bisa tuh muncul tiba-tiba di swalayan, Gramedia, di mana saja semau lo buat ketemu gue. Kenapa gue nggak bisa?"