|26| Flashback : When I Met Him

15.1K 1.1K 49
                                        

26. Flashback : When I Met Him

14/2/2012Dear diary, it's valentine day

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

14/2/2012
Dear diary, it's valentine day.
Bukannya ketemu pacar, gue malah ketemu siswa SMA Garuda yang terkenal minus sopan santun dan aneh itu. YA. ANEH. Sudah cocok dengan peran antagonisnya, eh malah berubah haluan menjadi protagonis. Mana payung yang dipinjamnya berwarna merah motif polkadot lagi. Lucu sih, tapi sangat unmatchable!
Btw, Anjani sedang jatuh cinta. Gue jadi sedikit iri. Valentine tahun depan dia sudah nggak sendiri lagi. Lah gue? Mungkin masih akan terus menulis diary seperti ini.

~

Sorry banget, Ai. Mas Eka tiba-tiba bikin pertemuan buat membicarakan pertandingan basket minggu depan. Gue pesan Taxi saja buat jemput lo, boleh?

Secepat itu Aira membuka ponselnya, secepat itu pula Aira mematikannya setelah membacanya. Bibirnya langsung mencebik penuh kesal. Ia bahkan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku rok abu-abunya dengan kasar.

Dasar tukang ingkar janji! Gue akan mogok bicara sama lo, Gesang Pramudya Radhinka.

Aira tatap jalanan di depannya dengan cemberut. Sekarang ia harus memikirkan bagaimana cara pulang ke rumah sendirian. Aira bisa saja membalas 'boleh' pada Gesang dan menunggu Taxi menjemputnya, tapi kan ia sedang marah dan akan mogok bicara—jadi opsi itu akan Aira hapuskan.

Harus Aira akui Gesang menjadi sangat sibuk belakangan ini karena tengah mempersiapkan pertandingan basket antar SMA tingkat kota. Sebagai kapten basket, sudah pasti ia menjadi orang tersibuk dalam tim. Mas Eka selaku pelatih sering mengadakan pertemuan untuk membahas taktik yang harus mereka gunakan saat bertanding.

Aira bisa memberi Gesang pengertian kalau saja dia tidak berjanji ingin menjemput lalu mengingkari seenak jidatnya seperti sekarang. Kalau Gesang tahu sedari awal ia terlalu sibuk dan tidak mampu menjemputnya, ia tidak perlu mengumbar janji-janji manis pada Aira. Jadi, jangan salahkan Aira jika ia merasa sangat kesal pada Gesang sekarang.

Kafe yang Aira kunjungi tidak langsung menghadap jalanan raya yang dilalui oleh banyak kendaraan. Untuk sekedar memanggil Taxi Aira harus berjalan beberapa meter ke depan—mencapai halte. Langit yang sedari tadi ditutupi awan hitam kelabu, perlahan mulai pecah satu per satu. Senyum Aira merekah—hanya sebentar karena setelah itu ia tersadar akan sesuatu. Aira tidak punya payung! Selama ini yang memperhatikan detail sekecil ini adalah Gesang dan cowok itu tidak bersamanya sekarang. Menyebalkan.

Kalau saja bisa, Aira pasti akan memilih menerobos hujan saja. Sayangnya ia tidak bisa.

Haruskah Aira menunggu sampai hujan reda—setelah sebelumnya sudah menunggu lebih dari satu jam lamanya menunggu jemputan Gesang? Atau masuk ke dalam kafe lalu meminjam payung pada salah satu staf di sana? Mengapa gojek payung tidak eksis di saat genting seperti ini? Atau ia gunakan saja tas ranselnya sebagai payung? Uhm ... sepertinya itu ide buruk. Tas miliknya tidak berbahan anti air dan di dalamnya ada berbagai novel yang baru ia beli dan belum dibaca. Big No.

Hello, Rain!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang