|32| Nadir

15.4K 1K 84
                                        

32. Nadir

Hujan menyisakan jejak basah. Seperti cintamu yang tertinggal di sini. Selamanya.
—Robin Wijaya


~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~

Aira pernah melemparkan pertanyaan seperti ini pada Gesang, "Gue nggak ngerti, Ge. Kenapa Tuhan kasih gue imun yang lemah di saat gue sangat menyukai hujan? Nggak adil!"

Dan jawaban Gesang saat itu begitu sederhana, tetapi menghantam tepat di dadanya.

"Kadang apa yang paling disukai, bisa berubah menjadi yang paling menyakiti."

Gesang benar. Faktanya, memang begitulah hujan dalam hidup Aira—memiliki dua wajah yang berlawanan. Membawa momen bahagia, namun di saat yang bersamaan, menyakitinya.

Hari ini Aira absen dari sekolah. Diary dan segala kenangan yang ia temukan di dalam kotak itu berhasil mengguncangnya.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Haruskah ia meminta tanggung jawab pada Arga?

Membenci Arka karena berpura-pura tidak tahu apa-apa?

Atau menunjukkan penyesalannya pada Anjani?

Aira merasa bingung, kehilangan arah, dan tidak harus berbuat apa.

Ayah sedang dalam perjalanan bisnis. Gesang berada di sekolah. Bunda Vera pamit pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Tinggal Aira seorang diri di rumah. Dan ia ... merasa kesepian.

Aira berbaring menyamping, menarik kedua lututnya menekuk ke depan dada, lalu memeluknya—meringkuk seperti bayi di dalam rahim Sang Ibu.

She feels so lost and in need—

"Gesang ..."

Tanpa sadar, nama itu lolos dari bibirnya.

Hujan memang menarik, tapi Aira lebih membutuhkan payung di hidupnya. Angin, hujan, petir, bahkan guntur bukanlah apa-apa jika ia memiliki payung.

Aira membutuhkan sahabatnya.

Aira membutuhkan Gesang.

Mengapa dia terlambat menyadarinya?

Air mata kembali jatuh di pipinya. Aira menyerah—ia membiarkan rasa menyesakkan itu menguasai seluruh tubuhnya, hingga tanpa sadar, ia pun jatuh tertidur.

Entah berapa lama ia terlelap. Aira baru terbangun ketika merasakan lengan sebelah kanannya terasa kebas. Saat ia menunduk, ia mendapati sahabatnya tertidur di atas lengannya.

Gesang sudah tahu tentang Arga.

Kemarin, setelah Aira sadar dari pingsan, kamarnya sudah rapi kembali. Pasti Gesang yang membereskan kekacauan itu. Pasti pula, Gesang sudah membaca diary-nya.

Hello, Rain!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang