[PEMENANG THE WATTYS 2018 KATEGORI THE HEARTBREAKERS]
Aira suka hujan, namun Gesang tidak suka jika Aira menyukai hujan, karena menurutnya hujan adalah apa yang membuat sahabatnya sakit.
Aira suka Arka, namun lagi-lagi Gesang tidak suka jika Aira me...
Halo, selamat membaca. Jangan lupa hujani bab ini vote dan komen.
☔☔☔
23. Simpul Teka-teki itu Kembali Terikat
Bagaimana jika ... deja vu yang gue alami bukanlah sekedar deja vu? Bagaimana jika ... gue memang pernah ke sana setahun lalu? What if ... I know Arka's twin since a long time ago?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~
Aira hendak menuju ke toilet ketika ia melihat Anjani tergesa-gesa menuruni tangga. Saat mata mereka tidak sengaja bertemu, ia melihat mata itu berkaca-kaca. Aira sempat terpaku di tempat—bingung antara mau menghampiri atau mengabaikan. Dan ketika wajah itu berpaling darinya, Aira merasakan sengatan di dadanya. Menyadari kalau Anjani masih belum mau berbicara dengannya seperti dulu lagi.
Aira berdiri cukup lama di sana memandangi punggung mungil itu menjauhinya.
Apakah yang terjadi di masa lalu sebesar itu? Sampai-sampai Anjani bersikap begitu padanya. Sebenarnya, apa kesalahan yang pernah dibuatnya?
Aira meremas tangannya. Harusnya ia berusaha sekuat tenaga untuk mengingat sejak awal, bukannya berlindung dari amnesia sebagai bentuk pertahanan diri selama ini. Bagaimana bisa ia membiarkan Anjani menjauhinya?
Rasa sesak dari kandung kemihnya membuat Aira tersadar. Aira menarik nafasnya. Ia berjanji dengan dirinya sendiri. Setelah berhasil menemukan jawaban tentang Arga, ia akan menyelesaikan masalahnya dengan Anjani.
Aira ingin melanjutkan langkah, namun kembali terhenti ketika ia melihat Arka turun dari tangga yang sama dengan Anjani.
Memang tangga itu menghubungkan seluruh lantai di sekolah ini. Belum tentu apa yang sempat terlintas di pikirannya benar. Namun, melihat tidak adanya orang lain yang turun dari tangga yang sama membuat Aira memandangi Arka dengan tatapan penuh selidik.
"Aira!" Cowok itu tampak terkejut melihatnya. Namun, ia berhasil mengendalikannya dengan cepat. "Kamu mau ke mana?" Matanya melirik ke sekitar seperti sedang mencari seseorang.
"Toilet," jawab Aira. Aira ikut mengedarkan pandangan ke sekitar—ikut mencari apa yang dicari cowok itu. Ketika menyadari sesuatu, jantungnya langsung berdetak cepat. Tidak mungkin Arka mencari Anjani 'kan?
Setelah apa terjadi, jangan salahkan Aira jika ia mulai mencurigai semua tingkah Arka. Kecurigaan ini semakin menguat setelah melihat Arka turun dari tangga yang sama dengan Anjani yang menangis.
Arka mangut-mangut. "Kamu sudah makan?" tanyanya setelah melirik arloji dan menyadari bahwa jam istirahat akan segera berakhir. Selain untuk mengalihkan perhatian, Arka bertanya untuk mengurangi rasa bersalahnya. Seharusnya ia pergi makan bersama Aira. Bukannya pergi menemui cewek lain seperti ini. Padahal Aira sudah bisa diajak bicara hari ini—tidak seperti hari sebelumnya yang selalu menghindar. Hubungan yang sempat renggang dan sedang ia usahakan untuk erat kembali seharusnya dijaga dengan erat. Bukan disia-siakan seperti ini.