|22| Rencana Anjani

16.8K 719 5
                                        

22. Rancana Anjani

Kadang kita tidak sadar cinta bisa mengubah seseorang.
Entah karena cinta itu buta. Atau karena cara kerja cinta itu kejam.

 Atau karena cara kerja cinta itu kejam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~

Anjani mengantar kepergian Sang Kakek. Malam ini—sama seperti malam-malam sebelumnya—Erwin berkunjung ke rumah putri semata wayangnya yang bernama Kusuma—ibu Anjani. Karena Sang Nenek yang sudah meninggal sejak Anjani berumur delapan tahun, Erwin selalu berkunjung sendirian ke rumahnya.

"Ayo, kita masuk," ucap Kusuma. Ia rangkul anak perempuan satu-satunya itu masuk ke dalam rumah.

"An langsung ke kamar aja, Ma," ucap Anjani

"Tumben, baru jam segini loh," kata Kusuma heran. Kusuma tahu persis kebiasaan anak perempuannya. Biasanya Anjani akan menghabiskan waktu sejam sampai dua jam menonton bersamanya.

"Ada PR yang belum An kerjakan," jelas Anjani.

Bukannya percaya, Kusuma semakin curiga. Karena ia tahu persis kalau Anjani bukan tipe anak yang akan mengerjakan PR di malam hari. Kalau ada PR Anjani akan berusaha menyelesaikannya di sore hari supaya malam harinya bisa menghabiskan waktu bersama keluarga. Melihat Sang Ibu mulai curiga, Anjani cepat-cepat menambahkan, "An lupa buat PR-nya tadi sore. Acara nonton kita skip dulu ya malam ini?"

"Ya sudah."

Setelah mendapatkan anggukan dari Kusuma, Anjani segera pergi ke kamarnya. Begitu sampai ke kamar, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Tentu saja PR sudah selesai ia kerjakan semuanya. Ia hanya membutuhkan alasan itu untuk lari dari Kusuma. Belakangan ini, mood Anjani sedang tidak baik—tepatnya setelah ia tahu kabar kematian Arga. Melakukan rutinitas seperti biasa terasa menguras energinya di saat ada hal lain yang ingin ia selesaikan dengan segera.

Ia pandangi langit-langit kamarnya. Seperti ada proyektor, ia seolah-olah bisa melihat sebuah tayangan di sana. Tayangan pertama kali bertemu Arga. Pertama kali melihat cowok itu tersenyum. Pertama kali ia merasakan jantungnya berdebar untuk lawan jenis. Pertama kali ia menyadari telah menyukainya. Sampai kejadian yang ingin ia lupakan itu terjadi. Senyum yang awalnya terkembang di wajahnya seketika sirna kala mengingatnya.

Setelah menyimpan semua rasa sakit sendirian, tidak bolehkah ia bersikap egois? Selama ini ia selalu membiarkan Aira menang. Mengalah saat semua orang menjadikannya pusat perhatian. Anjani memang memiliki predikat cewek tercantik di sekolah, tapi jelas semua mata akan terpukau jika melihat Aira. Apakah ia kalah ceria darinya? Apakah ia selalu terlihat kurang di mata orang lain? Di mata Gesang? Di mata Arga? Di mata Arka?

Saat Anjani bilang ia menyukai Arka di depan Gesang, ia tidak benar-benar bermaksud demikian. Ia hanya penasaran, bagaimana jika yang terjadi padanya di masa lalu juga dialami oleh Aira? Apakah Aira akan mengalami rasa sakit yang sama sepertinya?

Hello, Rain!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang