|16.2| Simpul Teka-Teki Mulai Terurai

971 74 0
                                        

Yuhuyyy, bagian keduanya guyss.

Happy reading🥰

☔☔☔

16.2. Simpul Teka-Teki Mulai Terurai

Begitulah kehidupan. Ada yang tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidaktahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.
—Tere Liye

~

Anjani tidak pernah membayangkan akan begini jadinya. Ia hanya butuh keterangan dari Arka untuk tahu di mana keberadaan Arga. Saat ia tahu di mana keberadaan Arga, Anjani merasa menyesal karena sudah mencari tahu. Rasanya, lebih baik ia penasaran seumur hidup dan terus mencari-cari Arga sampai ke ujung dunia, daripada tahu Arga sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Realita selalu punya cara untuk membuat manusia kembali ke titik terburuknya. Dan realita yang sedang Anjani jalani sekarang ini, memang sangat buruk.

Anjani kira, mengetahui Arga menyukai teman dekatnya—Aira—akan menjadi yang terburuk. Namun, ia salah. Kenyataan itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kenyataan di depannya sekarang ini.

Arga Nugraha
bin
Arman Nugraha
Lahir : 8 Januari 1996
Wafat : 13 Desember 2012

Begitulah yang tertulis di bantu nisan itu. 

Anjani tidak menangis. Lebih tepatnya, berusaha keras tidak menangis. Ia tatap batu nisan itu dengan pandangan kosong. Banyak emosi yang terpendam di dalam dirinya. Jika Anjani mengeluarkannya sekarang, maka dapat dipastikan ia akan menjadi gila. Oleh karena itu, lebih baik Anjani pendam saja sendiri.

Arka yang berdiri di samping Anjani juga tidak tahu harus bagaimana. Satu-satunya cara yang ia tahu adalah dengan memberi usapan pada punggung Anjani. Arka tahu kalau hati Anjani hancur menerima kenyataan ini. Sama seperti saat pertama kali Arka mendengar Arga dinyatakan meninggal dunia. Dunianya runtuh kala itu.

Anjani langsung bersandar pada Arka. Ia sangat butuh topangan saat ini. A shoulder to lay on. Anjani tidak menangis, bukan berarti hatinya tidak hancur.

"Gue kepingin membenci dia, tapi gue nggak bisa," ucap Anjani lirih. Arka terus mengusap punggung Anjani yang ada dalam pelukannya. "Lo boleh bilang gue jahat. Tapi, sekarang gue senang. Untuk pertama kalinya ... gue menjadi yang pertama untuk Arga. Meskipun yang pertama itu adalah gue tahu ia telah tiada. Gue juga senang saat tahu Aira lupa ingatan. Karena gue jadi punya kesempatan buat menyingkirkan Aira dalam hidup Arga. Tapi buat apa semua kesenangan itu, jika pada akhirnya Arga sudah tiada di dunia ini?"

"...."

"Gue jahat 'kan, Ka?" Anjani mendongak, menatap Arka dengan mata yang mulai berkabut.

"Bukan lo yang jahat, An, tapi takdir yang jahat sama kita."

***

Ketika Vera masuk ke dalam ruang bernuansa putih itu, Aira masih tidur dan bergelung di atas kasur. Vera tidak tega membangunkan Aira, tapi ia harus membangunkan Aira karena Aira butuh asupan supaya bisa meminum obatnya.

Vera letakan nampan yang berisi makanan serta obat ke atas nakas, lalu mengambil duduk di sisi kasur yang tidak ditiduri Aira. Vera menyentuh dahi Aira. Ia kembali merasa cemas saat tahu suhu tubuh Aira yang sudah membaik tadi pagi kembali naik lagi.

"Sayang, bangun dulu, nak," panggil Vera sambil mengguncang pelan bahu Aira.

"Bunda?" gumam Aira. Suara Aira jadi serak karen batuk. "Sudah jam berapa ini?"

Hello, Rain!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang