|31.2| Flashback : Hujan di Bulan Desember

10.2K 744 33
                                        

31.2. Flashback : Hujan di Bulan Desember

11/12/2012Dear diary, menurut ramalan besok akan terjadi kiamat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

11/12/2012
Dear diary, menurut ramalan besok akan terjadi kiamat.
I think that's true. Kalau pun ramalan itu salah dan bumi masih berputar, maka yang akan mengalami kiamat adalah hati gue sendiri. Ya. Hati gue akan segera mati buat Arga. I will end this fucking stupid games.

~

"Mau ambil motornya, dek?"

Aira menoleh dan menemukan Haris yang bertanya. "Iya, bang," akunya mengangguk. "Sudah beres?"

"Sudah. Mau langsung ambil atau mau ketemu Arga dulu?" Entah mengapa Haris merasa harus bertanya demikian. Karena dari tadi ia melihat gerak-gerik Aira yang terus memandangi sekitar seperti mencari keberadaan seseorang—yang haris percaya adalah Arga.

Aira meremas roknya, lalu mengangguk dengan ragu-ragu.

"Ini lagi jam istirahat." Penjelasan Haris menjawab pertanyaan Aira tentang keberadaan Arga yang sedari tadi ia cari. "Adek duduk saja dulu, biar saya panggil."

Aira mengangguk dan menunggu dengan jantung berdebar. Entah apa yang Aira cari lagi. Padahal semua sudah jelas. Cowok seperti Arga tidak pantas mengambil hatinya.

"Kenapa cari saya? Kamu punya komplain?"

Aira mendongak dan jantungnya terasa diremas. Mengapa Arga bisa bersikap baik-baik saja, sedangkan Aira tidak bisa?

Aira menggeleng. "I'll ask you for the last time .... Kenapa lo begitu tega sama gue, Arga? Apa perasaan kita—"

"Kita bicara di luar." Arga menyambar tangan Aira dan menariknya keluar dari bengkel.

Arga melepaskan tangan Aira dan menyudutkan tubuh mungil itu pada tembok.

"Gue juga akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya. Lo cuma alat tukar yang gue gunakan untuk mendapatkan maaf Alex. Bagian mana dari kalimat itu yang nggak lo mengerti?"

"Persetanan dengan semua permainan yang kalian mainkan! Gue cuma mau jawaban jujur dari lo. Semua waktu yang kita habiskan bersama, semua itu ... nggak ada artinya kah sama sekali buat lo?" Bendungan di pelupuk mata Aira mulai penuh. "Bahkan ... sedikit pun?" Hanya butuh satu dorongan, maka dapat dipastikan banjir akan segera terjadi.

"You are so pathetic, Aira."

Arga benar. Dia menyedihkan.

Cinta pertama sulit dilupakan. Sulit melupakan Arga meskipun cowok itu sudah berkali-kali menyakitinya.

Aira menutup matanya diiringi air mata yang ikut jatuh tanpa bisa ia cegah.

Melihat gadis itu menangis, Arga mengumpat.

"I'm so fucked up."

"I like you," ucap Aira lirih. Aira membuka kelopak matanya. "Berulang kali gue mengatakan benci, pada akhirnya gue akan terus kembali ke titik ini. You are right, Arga. I'm so pathetic. And I hate you because you make me like this."

Hello, Rain!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang