|15| Setelah Hujan

1.1K 78 5
                                        

15. Setelah Hujan

Hujan kadang berarti, kadang juga tidak berarti apa-apa, kecuali basah.

Hujan kadang berarti, kadang juga tidak berarti apa-apa, kecuali basah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~

Keesokan harinya, Aira terbangun dengan kepala berat. Ia mengerang sambil memegang kepalanya yang sakit. Pertama kali yang ia lihat saat membuka mata adalah keadaan kamar yang sudah terang benderang. Seketika, ia menjadi panik. Jam berapa ini?!

Aira berusaha bangkit, tapi kepalanya terasa berdenting, membuatnya harus kembali terduduk di kasur. Tepat saat itu, pintu kamar terbuka, kemudian Gesang berjalan masuk ke arahnya sambil membawa nampan berisi makanan dan obat.

Setelah menaruh nampan di atas nakas, ia mengambil duduk di atas kasur—tepat di depan Aira. Gesang menyentuh dahi Aira, lalu mengambil termometer digital di atas nakas dan menyuruh Aira mengukur suhu tubuhnya. Aira dengan nurut mengapit termometer digital itu di ketiak. Setelah bunyi bip, ia langsung menyerahkannya pada Gesang.

Gesang menatap angka yang tertera di sana sambil mengangguk-anggukan kepala, tampak puas. "Good, sudah turun." Tidak lama kemudian ia menggerutu sambil menyentil dahi Aira pelan. "Naughty girl. Lihat perbuatan lo ini, lo jadi sakit kan!"

Sudah lama Aira tidak mendengar omelan seperti itu, jadi ia menyambutnya dengan senang hati. Bahkan seluruh tubuhnya yang masih terasa sakit, tidak menahannya untuk sumringah. "Gampang, tinggal minum obat, nanti juga baik sendiri kok." Aira menunjuk obat yang tadi dibawa Gesang. "Itu obat buat gue 'kan? Sini ...."

Gesang langsung menahan tangan Aira yang hendak mengambil obat itu. "Makan dulu, baru minum obat." Sebagai gantinya, Gesang mengambilkan roti bakar lengkap dengan selai strawberry kesukaan Aira. Lihat, bahkan kesukaan mereka sama, strawberry. Bukankah mereka akan sangat cocok jika bersama? Gesang dengan senang hati akan menyediakan berkaleng-kaleng selai strawberry di rumah masa depan mereka. Gesang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya saat sepintas pemikiran itu terlintas, lalu tertawa detik berikutnya, mengejek diri sendiri karena sudah mengkhayal di pagi hari begini.

"Kenapa?" tanya Aira, bingung melihat sahabatnya tiba-tiba tertawa sendiri.

"Nggak pa-pa." Gesang menyeka remahan roti yang tertinggal di sudut bibir Aira. "Kalau makan yang benar dong. Yakin lo bentar lagi mau delapan belas tahun?" goda Gesang kemudian.

Aira membalas dengan memukul pundak Gesang. Karena sedang sakit, pukulan itu tidak kuat karena ia tidak punya tenaga, alhasil Gesang tertawa melihat tingkahnya.

Sedang Aira melanjutkan sarapannya, manik Gesang tidak pernah lepas dari Aira. Ia akan sesekali mengusap bibir Aira kalau ada remah roti yang tertinggal. Gesang sangat mampu menghabiskan waktu berjam-jam bahkan seharian untuk memandangi Aira seperti ini.

"Hari ini lo nggak sekolah, gue pasti kesepian," ujar Gesang, lalu saat ada rambut yang hendak jatuh di pipi, ia segera menarik dan menyelipkannya ke balik telinga—tidak mau rambut itu mengganggu Aira yang sedang makan.

Hello, Rain!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang