|17| Masa Lalu Vs Masa Depan

18.9K 826 5
                                        

17. Masa Lalu Vs Masa Depan

love is like war; easy to begin, but very hard to stop.
—H.L. Mencken

 Mencken

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~

Kamar itu gelap gulita. Ia tekan sakelar lampu. Ketika penerangan menyala, nuansa gelap masih begitu terasa karena ruangan itu didominasi oleh hitam dan abu-abu. Kamar itu terlihat begitu misterius, sama seperti pemiliknya. 

Sudah setahun kamar itu tidak memiliki penghuni. Sudah setahun pula kenangan tentang perempuan itu masih terkubur manis di dalam ruangan itu. Arka memindai ke segala penjuru ruangan, lalu matanya berhenti pada sebuah nakas yang terletak di samping kasur. Ia tarik laci terbawah dari nakas itu dan menemukan sebuah amplop biru di sana.

Untuk Aira Talitha.

Begitu yang tertulis di atas amplop itu. Ditulis tangan dengan rapi menggunakan tinta berwarna merah. Arka tersenyum, sangat tahu kebiasaan saudaranya—teledor dan cenderung tidak peduli dengan benda-benda miliknya. Arka jadi terbayang, betapa kesal saudaranya itu saat ingin menuliskan surat, namun yang tersisa di atas meja hanya tinta berwarna merah karena pulpen lainnya entah pergi ke mana. Meskipun begitu, saudaranya patut mendapatkan pujian karena sudah menulis dengan rapi, tidak semerawut seperti biasanya.

Aira Talitha. Cewek itu selalu bisa mengeluarkan versi terbaik saudaranya. 

Ia pandangi lama surat itu. Amplopnya masih tersegel rapi. Ia tidak berani membukanya, meskipun Sang Penulisnya telah tiada. Teringat amanah Sang Saudara untuk memberikannya kepada Aira, namun sampai sekarang tidak kunjung juga ia berikan.

Tubuh Arka merosot ke lantai. Ia sandarkan punggung ke kaki kasur. Tepat di depannya terpajang foto dua laki-laki dengan wajah yang begitu identik di dinding. Ia pandangi laki-laki dalam bingkai itu.

"Ga, dia masih sama seperti yang lo kenal. Dia suka tersenyum, ceria, pemberani, dan masih mencintai hujan. Tapi, Ga, dia amnesia, nggak satu pun kenangannya dengan lo yang bisa dia ingat. Lo tahu gue selalu menyayangi lo 'kan? Bisakah ... lo merelakan dia buat gue? Bolehkah ... surat ini gue simpan selamanya?"

Malam semakin kelam, tapi tubuhnya tidak mau beranjak dari ruangan bernuansa gelap itu. Ia memilih tinggal dan berbaring di atas kasur kembarannya hingga pagi menjelang sambil mengenang hal-hal yang sudah terjadi setahun lalu. Tidak lupa merapalkan kalimat yang sama berkali-kali, "Jangan benci gue, Ga. Jangan benci gue."

***

"Mana? Katanya dia mau datang kemarin."

Aira yang sedang asyik menikmati sarapannya langsung menatap Gesang berang dengan sudut matanya. Sedari tadi, cowok itu selalu mengatakan hal yang sama berulang-ulang, membuat telinga Aira bosan dengarnya. Apalagi nada mengejeknya yang terdengar super menyebalkan. "Bisa diam nggak sih!"

Hello, Rain!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang