[PEMENANG THE WATTYS 2018 KATEGORI THE HEARTBREAKERS]
Aira suka hujan, namun Gesang tidak suka jika Aira menyukai hujan, karena menurutnya hujan adalah apa yang membuat sahabatnya sakit.
Aira suka Arka, namun lagi-lagi Gesang tidak suka jika Aira me...
Otak lo mungkin melupakannya, tapi hati lo nggak akan pernah melupakannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~
Aira pulang lebih cepat. Ia beralasan butuh segera ke rumah sakit—padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia ingin segera membaca surat yang ditemukan oleh Rico. Entah mengapa, Aira merasa harus membacanya di rumah. Tidak boleh di sekolah atau tempat lainnya. Harus di rumah.
Mungkin sebagian dirinya ketakutan. Mungkin sebagian dirinya tengah mempersiapkan diri untuk menangis. Entahlah .... Belakangan ini perasaannya memang sedang jungkir balik tidak menentu dan ia hanya sedang mempersiapkan segala kemungkinan terburuknya. Dan jelas saja, sekolah bukanlah tempat yang tepat untuk menghadapi segala situasi terburuk tersebut. Setidaknya di rumah sepi—hanya ada dirinya seorangnya.
Karena Sang Wali Kelas tahu riwayat kesehatan Aira, beliau tidak curiga saat memberi Aira izin pulang.
Aira meminta bantuan Rico supaya Gesang, Arka, atau siapa pun itu tidak tahu kalau ia pulang saat belum jadwalnya pulang. Karena kalau mereka tahu, mereka akan berlomba-lomba untuk mengantarkan Aira pulang dan bisa jadi juga ikut meminta izin pulang cepat.
Aira tidak mau itu terjadi. Makanya, ia melakukannya secara diam-diam.
Aira masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa-gesa. Tujuan utamanya adalah gudang yang terletak di bagian paling belakang dari rumahnya. Sebelum Aira pulang, ia sempat berpapasan dengan Anjani di koridor. Dan ucapan Anjani benar-benar mengganggu Aira.
"Gue tahu lo bersembunyi di balik bilik toilet tadi."
"Lo tahu dan masih tetap bergosip tentang gue?"
"Gue melakukannya dengan sengaja."
"Gue salah apa, An?"
"Bukannya lo sudah dengar? Lo merebut Arga dari gue."
"Gue masih belum bisa ingat, An. Lo tahu sendiri gue mengalami amnesia."
Anjani tertawa sarkatis. "Berhenti menggunakan alasan itu terus! Lo mau terus melupakannya dan membiarkan gue mengingat sendirian? Ternyata lo nggak pernah berubah ya. Masih sama egoisnya."
"Kalau begitu, kasih tahu gue semuanya, An!" Intonasi Aira meninggi. Akumulasi dari emosi yang terus ditahannya beberapa hari belakangan ini. "Gue juga capek terus menebak-nebak salah gue apa sama lo. You already hate me. Gue nggak takut lagi. Jadi, nggak perlu ada yang ditutup-tutupi."
Capek. Aira serius mengatakannya. Kalau ada ramuan yang bisa mengembalikan semua ingatannya atau mesin waktu yang beroperasi di dunia ini, betapa pun mahalnya akan Aira bayar asalkan ia bisa segera mengingatnya.
"No," tolak Anjani. Ia lalu menyeringai, "Gue nggak akan mengatakannya. Gue mau lo mengingatnya sendiri. Karena gue mau dan lo harus merasakan sakit hatinya juga. Nggak adil kalau gue sendiri yang merasakannya, Aira."